MARKET DATA
Internasional

Tak Cuma Hormuz, Iran Siap Tutup Jalur Laut Merah-Dunia Bakal Lumpuh

luc,  CNBC Indonesia
17 July 2026 05:34
Angkatan Laut IRGC beroperasi di Selat Hormuz, Rabu (22/4/2026). IRGC telah menyita dua kapal dan memindahkannya ke pantai Iran, Mereka menyatakan mengganggu ketertiban dan keamanan di Selat Hormuz dianggap sebagai garis merah bagi Iran. (via REUTERS
Foto: Angkatan Laut IRGC beroperasi di Selat Hormuz, Rabu (22/4/2026). IRGC telah menyita dua kapal dan memindahkannya ke pantai Iran, Mereka menyatakan mengganggu ketertiban dan keamanan di Selat Hormuz dianggap sebagai garis merah bagi Iran. (via REUTERS/IRIB)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman terhadap pasokan energi global kembali meningkat. Iran dilaporkan telah meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah apabila Amerika Serikat menyerang infrastruktur energi Iran, sebuah langkah yang berpotensi melumpuhkan dua jalur ekspor minyak terpenting dunia secara bersamaan.

Informasi tersebut diungkap tiga sumber kepada Reuters pada Kamis (16/7/2026). Dua sumber senior Iran serta satu sumber regional yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan gagasan itu telah didiskusikan di tingkat kepemimpinan Republik Islam Iran dan pesan tersebut telah disampaikan kepada sekutu Teheran, kelompok Houthi di Yaman.

Ketiga sumber yang berbicara dengan syarat anonim itu mengatakan Houthi baru-baru ini telah menerima permintaan dari Teheran. Namun, mereka tidak menjelaskan bagaimana pesan tersebut disampaikan maupun apakah komunikasi itu dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menyerang infrastruktur kelistrikan Iran pada Selasa lalu.

Sumber yang dekat dengan kelompok Houthi mengatakan kelompok tersebut telah menyelesaikan persiapan untuk menyerang pelayaran internasional.

Menurut sumber tersebut, Houthi telah menempatkan rudal dan drone di sekitar Selat Bab el-Mandeb, pintu masuk menuju Laut Merah, tepatnya di kawasan dataran tinggi Yaman yang menghadap Hodeidah dan Teluk Aden.

Kelompok itu kini hanya menunggu perintah untuk memulai operasi.

Sumber tersebut juga mengatakan keputusan mengenai kapan Selat Bab el-Mandeb akan ditutup berada di tangan perwakilan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang telah berada di Yaman.

Apabila ancaman terhadap Bab el-Mandeb benar-benar direalisasikan, krisis energi global diperkirakan akan semakin memburuk. Sebab, Iran sebelumnya telah menutup Selat Hormuz, sementara Bab el-Mandeb merupakan jalur utama kedua bagi ekspor minyak Timur Tengah.

Jika kedua jalur tersebut terganggu secara bersamaan, maka dua koridor ekspor minyak terpenting di kawasan akan lumpuh sekaligus, membuka babak baru dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat sekaligus memperdalam krisis energi dunia.

Sementara itu, pada Senin lalu, Houthi menembakkan rudal ke wilayah Arab Saudi setelah menuduh kerajaan itu membombardir bandara yang berada di bawah kendali mereka. Serangan tersebut mengakhiri gencatan senjata tidak resmi yang telah berlangsung selama empat tahun antara Arab Saudi dan kelompok Houthi.

Analis utama Timur Tengah dari perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt, mengatakan memburuknya hubungan Houthi dan Arab Saudi terjadi pada saat yang sangat sensitif.

"Jika pertempuran semakin intensif dan meluas ke infrastruktur ekspor serta pelayaran di Laut Merah, maka hal itu akan mengancam satu-satunya jalur alternatif utama ekspor minyak dari kawasan tersebut," katanya.

Dua sumber regional yang dekat dengan pemerintah Arab Saudi mengatakan Riyadh memandang serius ancaman dari Iran maupun Houthi.

Mereka juga menyebut pemerintah Saudi menyadari bahwa kelompok Houthi kini berkoordinasi secara lebih erat dengan Iran terkait situasi di Laut Merah.

Adapun Iran memandang kelompok Houthi sebagai bagian dari poros perlawanan, aliansi regional yang juga mencakup Hizbullah di Lebanon serta kelompok-kelompok bersenjata Syiah di Irak yang telah terlibat dalam konflik kawasan antara Teheran dan Washington.

Meski demikian, kelompok Houthi hingga kini belum secara resmi menyatakan ikut masuk ke dalam perang tersebut.

AS selama ini menuduh Iran memasok senjata, dana, serta pelatihan militer kepada Houthi, termasuk melalui jaringan Hizbullah. Namun, tuduhan tersebut terus dibantah oleh pemerintah Iran.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran-Israel Saling Serang, Houthi Yaman Turun Gunung-Tutup Laut Merah


Most Popular
Features