MARKET DATA

Wow! Proyek Gas Raksasa Masela Bisa Sumbang Rp 680 Triliun ke Negara

Romys Binekasri,  CNBC Indonesia
16 July 2026 16:15
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia Saat menyampaikan laporan jelang Groundbreaking Proyek Strategis Nasional Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela, Maluku, Kamis (16/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)
Foto: Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia Saat menyampaikan laporan jelang Groundbreaking Proyek Strategis Nasional Liquefied Natural Gas (LNG) Abadi Masela, Maluku, Kamis (16/7/2026). (Tangkapan Layar Youtube/Sekretariat Presiden)

Maluku, CNBC Indonesia - Presiden Prabowo Subianto baru saja meresmikan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan proyek gas "raksasa" Lapangan Abadi, Blok Masela di Kepulauan Tanimbar, Maluku, Kamis (16/7/2026).

Presiden Prabowo meresmikan secara virtual dari Istana Negara di Jakarta, sementara sejumlah pejabat, seperti Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, serta Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa hadir langsung di lokasi di Kepulauan Tanimbar, Maluku.

Acara ini juga disaksikan langsung oleh CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda. Inpex merupakan operator dan juga pemilik hak partisipasi (Participating Interest/PI) mayoritas di Blok Masela ini, yakni sebesar 65%.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, proyek gas "raksasa" ini tak hanya memakan investasi jumbo senilai US$ 20,95 miliar atau setara Rp 390 triliun, tapi juga akan memberikan manfaat ekonomi besar bagi Indonesia.

Bahlil menyebut, Proyek Gas Lapangan Abadi, Blok Masela ini akan memberikan manfaat ekonomi dan fiskal signifikan, dengan proyeksi penerimaan negara di mana pendapatan langsung sekitar US$ 37,8 miliar atau sekitar Rp 680,4 triliun (asumsi kurs Rp 18.000 per US$), dan kontribusi pajak sebesar US$ 6,43 miliar atau sekitar Rp 115,7 triliun.

Selain itu, dia menyebut, selama masa konstruksi, proyek ini akan menyerap tenaga kerja sebanyak 12.000 orang. Sementara saat operasi, proyek ini membutuhkan sekitar 800-1.000 tenaga kerja.

"Izinkan kami laporkan bahwa Proyek Abadi Masela memberikan manfaat ekonomi dan fiskal yang signifikan, antara lain meningkatkan penerimaan negara dengan proyeksi pendapatan langsung sekitar US$ 37,8 miliar, serta kontribusi pajak US$ 6,43 miliar selama masa konstruksi dan operasi. Menciptakan lapangan kerja 12.000 tenaga kerja langsung, kalau tidak langsung bisa dikali 3. Ini masa konstruksi. Sekitar 800-1.000 pekerja saat masa operasi," papar Bahlil di Kepulauan Tanimbar, Maluku, saat memberikan laporan di hadapan Presiden Prabowo Subianto yang hadir melalui video conference, Kamis (16/7/2026).

Bahlil menjelaskan, pada masa operasi, pemerintah dan Inpex selaku operator Blok Masela bersepakat untuk memprioritaskan masyarakat asli Tanimbar dan Maluku Barat Daya atau masyarakat tier 1 dari lokasi Kilang LNG Masela ini berada sebagai pekerja di Blok Masela ini.

"Kami bersepakat bahwa kita akan prioritaskan masyarakat di wilayah tier 1 dulu Bapak Presiden anak anak Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya. Kami laporkan, sebagian anak-anaknya sudah dikirim untuk sekolah di Cepu, Akademi Migas milik Kementerian ESDM. Dan mereka akan kita serap untuk bekerja di proyek Blok Masela," tuturnya.

"Nanti Pak Ueda (CEO Inpex) dan teman-teman Petronas dan Pertamina, lapangan pekerjaan kita ambil di tier 1, kalau udah habis, kita ambil di Jawa dan luar negeri tapi selama ada di sini kita pakai dulu di sini. Jangan sampai investasi masuk tidak kita prioritaskan meereka," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, proyek gas dengan nilai investasi mencapai US$ 20,95 miliar ini memiliki potensi gas sebanyak 6,97 triliun kaki kubik (TCF).

Gas dari Blok Masela ini nantinya akan diolah menjadi gas alam cair (LNG) di kilang LNG di darat dengan kapasitas produksi 9,5 juta ton per tahun (MTPA). Selain itu, Blok Masela juga akan memproduksi 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) gas pipa, serta 35.000 barel per hari (bph) kondensat.

Proyek ini telah lama ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia. Pasalnya, kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/ PSC) Blok Masela sudah ditandatangani Inpex Corporation selaku operator Blok Masela dengan Pemerintah Indonesia sejak era Presiden BJ Habibie, tepatnya 16 November 1998.

Artinya, nyaris 30 tahun sejak kontrak pengelolaan blok migas ini ditandatangani, proyek ini belum juga beroperasi dan menghasilkan minyak dan gas bumi untuk kepentingan Indonesia.

Bahkan, PSC Blok Masela ini pun sudah diperpanjang menjadi 20 + 7 tahun hingga 2055 mendatang. Perpanjangan kontrak bagi hasil Inpex di Blok Masela ini diteken pada Oktober 2017 lalu saat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dijabat oleh Ignasius Jonan. Kontrak Inpex di Blok Masela ini mestinya sudah berakhir di 2028, karena telah berkontrak selama 30 tahun dengan Pemerintah Indonesia.

Nah, karena proyek ini belum beroperasi dan Inpex pun berkomitmen melanjutkan proyek ini, akhirnya Pemerintah Indonesia memberikan perpanjangan 20 tahun sejak 2028, plus ditambah 7 tahun karena pemerintah sempat mengubah skema proyek kilang gas alam cair (Liquefied Natural Gas/ LNG) dari di laut (offshore) menjadi di darat (onshore).

(wia) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Sah! Proyek Gas Raksasa Abadi Masela Resmi Dibangun Prabowo


Most Popular
Features