MARKET DATA
Internasional

Negara Ini Tiba-Tiba Kenang Kudeta Gagal, Minta Dukungan RI

tps,  CNBC Indonesia
15 July 2026 20:00
Ilustrasi bendera Turki. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi bendera Turki. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan bilateral Indonesia dan Turki kembali diperkuat melalui peringatan Hari Demokrasi dan Persatuan Nasional 15 Juli yang digelar di Jakarta, Rabu (15/7/2026). Acara yang diselenggarakan Kedutaan Besar Turki bersama Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki itu sekaligus menjadi momentum mengenang satu dekade upaya kudeta gagal yang mengguncang negara tersebut pada 2016.

Peringatan ini mengenang peristiwa 15 Juli 2016 ketika sekelompok kecil personel militer berupaya menggulingkan pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdoğan. Pemerintah Turki menuduh upaya kudeta tersebut dilakukan oleh jaringan Fethullah Terrorist Organization (FETO) yang dikaitkan dengan ulama Fethullah Gulen.

Kepala Direktorat Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanettin Duran, mengatakan malam kudeta menjadi titik balik yang menentukan arah masa depan negaranya. Menurutnya, kegagalan kudeta tidak lepas dari kepemimpinan Presiden Erdoğan dan respons masyarakat yang turun langsung mempertahankan pemerintahan yang sah.

"Malam 15 Juli 2016 menjadi malam yang menentukan masa depan bangsa kami. Kami berutang kemenangan pada kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdoğan sejak menit-menit pertama. Jutaan warga di Ankara, Istanbul, dan berbagai wilayah lainnya menjawab seruan presiden, turun ke jalan, dan mempertahankan kehendak rakyat," ujar Duran.

Duran menjelaskan, selama upaya kudeta berlangsung, sejumlah fasilitas strategis negara sempat menjadi sasaran serangan, mulai dari gedung parlemen, kantor media, hingga Jembatan Bosphorus di Istanbul.

Ia juga menegaskan bahwa FETÖ bukan hanya ancaman bagi Turki, melainkan bagi negara mana pun tempat organisasi tersebut beroperasi. Karena itu, Ankara berharap negara-negara sahabat, termasuk Indonesia, dapat mendukung upaya pemberantasan kelompok tersebut.

"FETÖ bukan sekadar persoalan keamanan nasional Turki. Organisasi ini merupakan ancaman nyata bagi setiap negara tempat mereka beroperasi. Kami berharap negara-negara sahabat berdiri bersama kami dalam melawan struktur yang mengancam kedaulatan dan demokrasi kami," kata Duran.

Pemerintah Turki mencatat upaya kudeta yang gagal tersebut menewaskan 253 orang dan menyebabkan ribuan lainnya terluka. Setelah peristiwa itu, Ankara melakukan pembersihan besar-besaran terhadap institusi negara yang diduga telah disusupi jaringan FETÖ.

Sementara itu, Duta Besar Turki untuk Indonesia Talip Küçükcan menjelaskan bahwa percobaan kudeta dilakukan oleh sekelompok personel militer yang keluar dari rantai komando dan menggunakan persenjataan berat untuk menyerang fasilitas negara serta warga sipil.

"Mereka menggunakan tank dan pesawat tempur untuk menyerang warga negara kami, parlemen, istana kepresidenan, dan berbagai fasilitas penting lainnya. Namun, kami juga menyaksikan ketangguhan rakyat Turki dan kuatnya institusi demokrasi dalam menghadapi ancaman tersebut," ujar Küçükcan.

Selain menjadi ajang refleksi sejarah, acara tersebut juga menghadirkan diskusi yang melibatkan akademisi dan pakar dari Indonesia maupun Turki. Diskusi difokuskan pada tantangan demokrasi di era modern, termasuk penyebaran disinformasi dan manipulasi narasi di ruang publik.

Menutup sambutannya, Küçükcan berharap kerja sama kedua negara dapat terus diperkuat untuk membangun tatanan dunia yang lebih damai dan adil.

"Mari kita bersama-sama membangun masa depan di mana harapan menggantikan ketakutan, kerja sama menggantikan konflik, saling pengertian menggantikan polarisasi, dan tatanan internasional yang lebih adil dapat terwujud," tutupnya

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article PM Lawrence Wong Tiba di Jakarta, Siap Bertemu Prabowo Hari Ini


Most Popular
Features