Sibuk Perang di Iran, Trump Kena "Hajar" di Negeri Sendiri
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran yang kembali memanas memicu gejolak politik di Washington. Senator dari Partai Demokrat memblokir pengesahan Rancangan Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional (National Defense Authorization Act atau NDAA) sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai terus membawa AS terlibat dalam perang dengan Iran.
Pemimpin Demokrat di Senat, Chuck Schumer, mengatakan partainya tidak bisa mendukung pembahasan RUU pertahanan tersebut selama pertempuran dengan Iran masih berlangsung. Padahal, NDAA akan mengesahkan anggaran pertahanan sebesar US$1,15 triliun atau sekitar Rp20.700 triliun (kurs Rp18.000/US$) untuk tahun fiskal mendatang, termasuk kenaikan gaji personel militer serta pendanaan pengembangan pesawat nirawak dan teknologi anti drone.
"Partai Republik ingin Senat membahas NDAA seolah-olah semua ini tidak terjadi, seolah-olah Kongres dapat membahas RUU keamanan nasional utama negara sambil mengabaikan krisis keamanan nasional yang paling mendesak. Kita tidak bisa," kata Schumer, seperti dikutip The Guardian, Rabu (15/7/2026).
Penundaan pembahasan NDAA terjadi di tengah baku tembak paling sengit antara AS dan Iran dalam beberapa pekan terakhir. Situasi itu memperbesar kekecewaan Demokrat karena Washington dinilai tetap melanjutkan keterlibatan militernya, meski Kongres sebelumnya telah meloloskan resolusi kewenangan perang yang dimaksudkan untuk mendorong gencatan senjata.
Dalam pemungutan suara, seluruh senator Demokrat yang hadir menolak RUU tersebut. Akibatnya, usulan itu gagal memperoleh dukungan minimal 60 suara yang dibutuhkan untuk melampaui ambang prosedural Senat sehingga tidak dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Di tengah memanasnya konflik, Trump sempat mengancam akan mengenakan pungutan keamanan sebesar 20% terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, pada Selasa ia membatalkan rencana tersebut, sembari menegaskan pemerintahannya tetap akan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi di Gedung Putih, Trump mengatakan dirinya tidak mendukung penerapan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz.
"Saya menentang biaya apa pun di selat itu. Namun pada saat yang sama, tidak adil jika kita terus melindungi jalur tersebut untuk seluruh dunia," ujarnya.
Pernyataan itu tidak meredakan kritik dari Schumer. Ia menilai Trump tidak memiliki strategi yang jelas dalam menghadapi Iran.
"Trump tidak tahu apa yang dia lakukan di Iran, dan itu adalah resep menuju bencana besar. Dia tidak memiliki rencana maupun strategi keluar sejak hari pertama perang sembrono ini. Kini kita sudah memasuki hari ke-136 dan tidak ada yang berubah," tegasnya.
Sementara itu, Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Republik, John Thune, mengecam langkah Demokrat yang memblokir NDAA. Menurutnya, manuver tersebut lebih didorong kepentingan politik daripada dukungan terhadap militer AS.
"Partai Demokrat telah membiarkan politik penghambatan menentukan begitu banyak tindakan mereka selama satu setengah tahun terakhir. Saya sangat berharap mereka tidak kembali mengutamakan politik daripada dukungan bagi para prajurit kita," kata Thune.
(luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]