MARKET DATA
Internasional

Penanganan Bencana Lambat, Anak Eks Presiden Jadi Sasaran Amuk Warga

tfa,  CNBC Indonesia
15 July 2026 21:50
Para sukarelawan dan warga mencari korban selamat di reruntuhan bangunan yang runtuh di Caraballeda, negara bagian La Guaira, Venezuela, pada 28 Juni 2026, setelah gempa bumi. (MIGUEL MEDINA/Pool via REUTERS)
Foto: Para sukarelawan dan warga mencari korban selamat di reruntuhan bangunan yang runtuh di Caraballeda, negara bagian La Guaira, Venezuela, pada 28 Juni 2026, setelah gempa bumi. (via REUTERS/MIGUEL MEDINA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kemarahan publik di Venezuela terus memuncak setelah pemerintah dinilai lamban menangani dampak dua gempa bumi yang menewaskan sedikitnya ribuan orang.

Puncak kemarahan itu terlihat saat seorang ibu korban meluapkan emosinya kepada Nicolas Maduro Guerra, putra mantan Presiden Nicolas Maduro, ketika mengunjungi kawasan terdampak di Catia La Mar.

"Saya tidak kehilangan dapur! Saya kehilangan seorang putri!" teriak Damely Yaneth Díaz kepada Maduro Guerra, seperti dikutip The Guardian, Rabu (15/7/2026).

Ia juga menuding pemerintah telah lalai. "Kalian semua harus ditangkap. Ini adalah tindakan ceroboh dan kalian harus membayar," katanya. Video insiden tersebut viral di media sosial dan menjadi simbol kemarahan warga terhadap penanganan pemerintah pasca gempa.

Gempa yang mengguncang Venezuela pada 24 Juni menghancurkan puluhan bangunan di negara bagian La Guaira dan menyebabkan kerusakan besar di Caracas. Hingga kini pemerintah mencatat 4.490 korban tewas, sementara proses pencarian masih berlangsung sehingga jumlah korban diperkirakan terus bertambah.

Banyak keluarga mengaku harus menggali reruntuhan dengan tangan kosong karena bantuan dinilai datang terlambat.

Presiden sementara Venezuela yang didukung Amerika Serikat (AS), Delcy Rodríguez, membantah tudingan bahwa pemerintah gagal menangani bencana. Ia menyebut kritik tersebut sebagai bagian dari propaganda dan menegaskan aparat pemerintah serta militer telah bekerja tanpa henti membantu para korban. Rodríguez juga beralasan lambatnya respons terjadi karena banyak pejabat senior di La Guaira turut menjadi korban jiwa.

Maduro Guerra mengaku memahami kemarahan keluarga korban. "Ya, saya mengerti dan saya mendukung dia. Saya tidak bisa membayangkan rasa sakit yang dia rasakan," ujarnya kepada televisi Norwegia TV2.

Namun saat ditanya mengenai dugaan kualitas proyek perumahan pemerintah yang runtuh, ia menjawab, "Saya tidak tahu, saya bukan arsitek. Saya seorang ekonom."

Di tengah duka, kemarahan warga juga dipicu pernyataan Rodríguez yang memperingatkan para pengkritik pemerintah dan militer akan "dikuburkan". Ucapan tersebut menuai kecaman karena disampaikan saat banyak keluarga masih mencari jenazah kerabat mereka yang tertimbun reruntuhan.

Sejumlah pengamat menilai kemarahan publik berpotensi memicu gejolak sosial dan memperumit situasi politik Venezuela. Bencana ini juga memperbesar ketidakpuasan terhadap pemerintahan yang didukung AS setelah intervensi militer Washington pada Januari lalu yang berujung pada penangkapan Nicolás Maduro.

Kekecewaan itu dirangkum oleh Francisco González, seorang pekerja yang membantu evakuasi di kompleks perumahan OPPE 25. Ia membandingkan respons pemerintah saat ini dengan penanganan bencana pada era Hugo Chávez.

"Orang pertama yang datang ke sini adalah Chávez. Dia punya kekurangan, tetapi dia mencintai rakyatnya. Tidak seperti para bajingan yang kita miliki sekarang. Saya pikir Tuhan sedang menghukum para politisi," ujarnya.

(tfa/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Korban Tewas Gempa Kembar Meroket, Tembus 4.490 Orang


Most Popular
Features