Buruh Tekstil Balikkan Keadaan, Dapat Pesangon-Berubah Jadi Pengusaha
Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang membayangi sektor industri dinilai tidak selalu berujung pada meningkatnya angka pengangguran. Fenomena tersebut sebenarnya sudah terlihat saat gelombang PHK melanda industri tekstil dan garmen pada 2023-2024.
"Isu PHK ini bukan isu baru. Tahun 2023-2024 kita sudah merasakan gelombang PHK buruh pabrik tekstil dan garmen, terutama di Jawa Barat dan Banten," kata Ketua Umum Ikatan Masyarakat Industri Kecil dan Menengah Indonesia (IPKB) Nandi Herdiaman kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/7/2026).
Di balik kondisi tersebut, terdapat peluang munculnya pelaku industri kecil dan menengah (IKM) baru yang mampu menciptakan lapangan kerja. Banyak pekerja yang memilih memanfaatkan uang pesangon untuk membuka usaha sendiri, sehingga sumber pendanaannya justru bukan dari bank.
"Sebagian besar korban PHK tidak diam. Mereka mengambil pesangon, membeli dua hingga tiga mesin jahit bekas, menyewa ruko kecil, lalu memulai usaha konveksi sendiri," kata Nandi.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pekerja yang kehilangan pekerjaan tidak selalu keluar dari sektor industri. Sebagian justru tetap bertahan di bidang yang sama dengan menjadi pelaku usaha mandiri. Kondisi ini menciptakan efek berganda karena usaha baru yang berkembang kembali menyerap tenaga kerja.
"Dari buruh mereka naik menjadi pelaku IKM. Dari yang sebelumnya digaji menjadi pihak yang menggaji dua hingga lima orang. Artinya, jika PHK kembali terjadi, polanya kemungkinan akan sama. Mereka yang dirumahkan akan beralih menjadi IKM atau UMKM."
Pasar domestik Indonesia masih menjadi modal utama bagi berkembangnya industri kecil. Dengan jumlah penduduk yang besar dan kebutuhan sandang yang terus ada, peluang usaha konveksi tetap terbuka selama produk lokal mampu bersaing. Sejumlah mantan pekerja yang terkena PHK juga disebut telah berhasil mengembangkan usahanya dalam beberapa tahun terakhir.
"Pasarnya ada dan sangat besar. Indonesia memiliki sekitar 280 juta penduduk dengan kebutuhan sandang yang tidak bisa ditunda," kata Nandi.
source on Google [Gambas:Video CNBC]