Bom! Gencatan Senjata Dibatalkan Trump, AS Tembak Serangan ke Iran
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan dirinya tak lagi yakin ingin melanjutkan kesepakatan dengan Teheran. Eskalasi terbaru ini sekaligus menandai berakhirnya gencatan senjata yang sebelumnya sempat disepakati kedua negara.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan serangan terbaru dilakukan sebagai respons atas aksi Iran yang menyerang kapal-kapal komersial di atau dekat Selat Hormuz.
"Amerika Serikat meminta pertanggungjawaban Iran atas agresi yang tidak beralasan baru-baru ini terhadap pelayaran komersial dan awak sipil yang bebas berlayar di jalur air internasional yang vital," demikian pernyataan CENTCOM, seperti dikutip CNBC International, Kamis (9/7/20256).
Serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Trump, dalam konferensi pers di Ankara, Turki, mengatakan dirinya tidak lagi yakin ingin mencapai kesepakatan dengan Iran.
"Saya tidak yakin saya ingin membuat kesepakatan dengan mereka. Kita bisa bermain-main, tapi saya tidak yakin ingin membuat kesepakatan. Mari kita selesaikan saja pekerjaan ini," ujar Trump.
Trump juga menegaskan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya disepakati dengan Iran kini telah berakhir. Menurutnya, perkembangan situasi dalam satu hingga dua pekan terakhir menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran tidak lagi bertindak rasional.
"Saya mengenal mereka. Tetapi berdasarkan tindakan mereka selama satu atau dua minggu terakhir, mereka tidak melayani rakyat," katanya.
Ketegangan memuncak setelah Iran pada Selasa dilaporkan menyerang tiga kapal komersial di atau dekat Selat Hormuz, berdasarkan keterangan CENTCOM dan Pusat Informasi Maritim Gabungan yang dipimpin AS. Sebagai respons, Washington mencabut pengecualian sanksi atas penjualan minyak Iran yang sebelumnya menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata sementara.
AS kemudian melancarkan puluhan serangan balasan yang menyasar infrastruktur militer Iran serta kapal-kapal kecil milik Teheran. Langkah tersebut memperdalam konflik di salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
Selat Hormuz selama ini menjadi titik krusial perdagangan minyak global. Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu lalu lintas kapal di kawasan tersebut, termasuk melalui ancaman pemblokiran maupun rencana pengenaan biaya tol bagi kapal yang melintas. Sebagai balasan, Trump sebelumnya memerintahkan blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sebelum akhirnya dicabut dalam kesepakatan gencatan senjata.
Di sisi lain, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menuding AS sebagai pihak yang melanggar kesepakatan. Dalam unggahannya di X, Baqaei menyebut perjanjian tersebut memberikan kewenangan kepada Iran untuk mengatur pelayaran di Selat Hormuz.
"Amerika Serikat telah menantang klausul ini dan, dalam praktiknya, melanggar struktur perjanjian melalui tindakan sepihaknya dan juga serangan agresif terhadap Iran. Republik Islam Iran akan dengan teguh mengejar perlindungan kepentingan nasionalnya dan pelaksanaan kedaulatannya," tulisnya.
Trump pun menutup peluang perundingan baru dengan nada tegas. "Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi. Mencoba berurusan dengan Republik Islam adalah buang-buang waktu. Menurut saya, ini sudah berakhir," kata Trump, menegaskan bahwa gencatan senjata dengan Iran kini resmi dianggap selesai.
(tfa/tfa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]