Vietnam Bangun Pulau Surga Depan Natuna, Trump-Xi Jinping Bakal Mampir
Jakarta, CNBC Indonesia - Pengembang real estat dan perhotelan raksasa asal Vietnam, Sun Group, kini tengah mengebut megaproyek ambisius untuk menyulap Pulau Phu Quoc menjadi pusat pariwisata, konferensi, dan hiburan terintegrasi berskala regional. Langkah raksasa ini sengaja dipersiapkan demi menyambut tenggat waktu KTT Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2027, di mana pulau strategis tersebut akan menjadi panggung diplomasi internasional yang bakal dihadiri para pemimpin dunia termasuk Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Mengutip laporan The Business Times, Rabu (8/7/2026), Phu Quoc yang memiliki luas wilayah hampir 600 kilometer persegi-setara dengan ukuran Singapura sebelum reklamasi-sedang dikembangkan secara menyeluruh sebagai satu kesatuan sistem ekonomi pulau. Proyek infrastruktur utama untuk mendukung KTT APEC 2027 tersebut mencakup pembangunan Apec Convention and Exhibition Centre, fasilitas budaya, hotel resor mewah, hingga ekspansi masif Bandara Internasional Phu Quoc.
Pimpinan Sun Group, Dang Minh Truong, menegaskan bahwa tantangan terbesar dari pengembangan wilayah kepulauan adalah perencanaan logistik yang tidak boleh dilakukan secara terfragmentasi. Oleh karena itu, pihak korporasi membangun sebuah ekosistem pengalaman lengkap bernama Sun Paradise Land di wilayah selatan pulau guna mengintegrasikan akomodasi, pusat perbelanjaan, wahana air, kuliner, pertunjukan, hingga akses kereta gantung Hon Thom ke dalam satu sirkuit terkontrol.
"Sun Group tidak berinvestasi untuk menangkap bagian dari pasar yang sudah ada," ungkap Truong dalam wawancara khusus bersama The Business Times.
"Kami berinvestasi dalam infrastruktur untuk menciptakan pasar baru bersama Phu Quoc," lanjut Truong menambahkan mengenai strategi korporasinya.
Model perencanaan terintegrasi ini mengadopsi filosofi manajemen dari Sentosa di Singapura, Jeju di Korea Selatan, serta Okinawa di Jepang untuk memperpanjang durasi tinggal dan mendongkrak pengeluaran per kapita wisatawan. Strategi ini diambil untuk menepis kekhawatiran para analis mengenai risiko tekanan kelebihan pasokan fasilitas akomodasi setelah para delegasi global meninggalkan pulau.
Sebagai motor penggerak permintaan, Sun Group berkolaborasi dengan Changi Airports International asal Singapura untuk merombak Bandara Internasional Phu Quoc agar memenuhi standar kualitas "Changi" dan meningkatkan kapasitas tampung dari 5,2 juta penumpang pada 2025 menjadi 24 juta penumpang per tahun. Melalui visi jangka panjang tersebut, pihak manajemen menargetkan pulau surga ini mampu menampung 40 juta hingga 50 juta pengunjung per tahun pada tahun 2045 mendatang.
Guna memastikan keterhubungan global, lini maskapai penerbangan rekreasi baru milik grup, Sun PhuQuoc Airways (SPA), juga telah beroperasi sejak akhir tahun lalu untuk membawa turis asing secara langsung. Maskapai SPA dijadwalkan membuka rute harian Singapura-Phu Quoc mulai 25 Juli ini menggunakan armada Airbus A321 dengan harga promo kompetitif sebesar 1,8 juta dong (sekitar Rp 1,1 juta).
Ekspansi rute penerbangan langsung tersebut akan diperluas secara masif ke China, Korea Selatan, Jepang, Thailand, Rusia, Mongolia, dan Kazakhstan sepanjang tahun ini, diikuti Filipina dan Australia pada 2027. Maskapai ini juga telah menyusun rencana jangka panjang untuk mengadopsi pesawat berbadan lebar pada 2028 demi membuka rute penerbangan jarak jauh menuju Timur Tengah dan Eropa.
Secara makro, ekspansi agresif ini berjalan beriringan dengan kebijakan strategis Bank Sentral Vietnam yang memberikan pelonggarkan kredit khusus bernilai total US$ 28 miliar bagi 18 megaproduk nasional di luar kuota pertumbuhan kredit tahunan. Dari total stimulus anggaran tersebut, pipa proyek milik Sun Group sendiri tercatat melampaui angka US$10 miliar, termasuk untuk mendanai proyek APEC di Phu Quoc dan Kompleks Olahraga Nasional Rach Chiec di Ho Chi Minh City.
Untuk mengatasi risiko eksekusi berupa kelangkaan material dan tenaga kerja terampil di pulau akibat ledakan investasi publik, pihak manajemen mulai mengaplikasikan metode konstruksi modular modern serta teknologi cetak 3D. Metode prafabrikasi ini sengaja diadopsi guna menggeser sebagian besar proses pembangunan dari lapangan ke dalam pabrik agar durasi pengerjaan dapat dipangkas secara drastis sebelum tenggat waktu internasional tiba.
"Ketika sektor swasta diberikan mekanisme dan kepercayaan, sektor ini dapat mengoptimalkan arus modal dan secara drastis memperpendek waktu yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur," jelas Truong terkait model kemitraan publik-swasta.
"Tekanan menciptakan berlian. Tantangan terbesar adalah selalu menjaga keseimbangan yang harmonis antara efisiensi bisnis dan kepentingan utama bangsa serta masyarakat," pungkas Truong.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]