MARKET DATA
Internasional

Pemadaman Listrik Massal Hantam Seluruh Negeri, Pemerintah Kelimpungan

luc,  CNBC Indonesia
08 July 2026 05:00
Aksi protes pecah di sejumlah wilayah ibu kota Kuba, Havana, Rabu (13/5/2026) malam di tengah krisis pemadaman listrik bergilir terburuk dalam beberapa dekade terakhir. (Tangkapan Layar Video Reuters/)
Foto: Aksi protes pecah di sejumlah wilayah ibu kota Kuba, Havana, Rabu (13/5/2026) malam di tengah krisis pemadaman listrik bergilir terburuk dalam beberapa dekade terakhir. (Tangkapan Layar Video Reuters/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kuba kembali dilanda krisis listrik nasional setelah jaringan listrik utama negara itu kolaps pada Senin (6/7/2026) waktu setempat, memicu pemadaman massal di seluruh negeri. Gangguan ini menjadi pukulan terbaru bagi negara Karibia tersebut yang selama berbulan-bulan telah bergulat dengan krisis energi, kekurangan bahan bakar, serta terbatasnya pasokan obat-obatan.

Operator jaringan listrik nasional Kuba, Unión Eléctrica (UNE), menyatakan proses pemulihan pasokan listrik mulai dilakukan secara bertahap pada hari yang sama. Namun hingga Senin sore waktu setempat, listrik baru dapat dipasok untuk sejumlah layanan vital seperti rumah sakit dan pusat produksi pangan.

UNE mengatakan kapasitas yang berhasil dipulihkan di ibu kota Havana baru mampu memenuhi sekitar 1% dari total kebutuhan listrik kota tersebut. Hingga kini, pemerintah Kuba belum mengungkap penyebab runtuhnya jaringan listrik nasional tersebut.

Krisis ini memperparah kondisi Kuba yang dalam beberapa bulan terakhir sudah terbiasa mengalami pemadaman listrik selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Gangguan berkepanjangan itu dikaitkan dengan kondisi jaringan listrik yang telah menua serta blokade pasokan minyak yang diberlakukan Amerika Serikat sehingga membatasi ketersediaan bahan bakar di pulau tersebut.

Pemadaman berskala nasional dan lambatnya proses pemulihan semakin menambah beban masyarakat Kuba yang telah kelelahan menghadapi pemadaman bergilir. Kondisi tersebut membuat banyak warga kesulitan bekerja maupun beristirahat di tengah suhu musim panas kawasan Karibia yang tinggi.

"Lihat saja wajah saya, semuanya sudah tergambar," kata Ariel Sotelo, warga Havana berusia 57 tahun yang mengaku sudah tidak menikmati aliran listrik sejak sehari sebelumnya, dilansir Reuters.

"Kami hanya bisa bertahan dan menerima keadaan, tetapi ini sama sekali tidak mudah," ujarnya.

Adapun ketika jaringan nasional benar-benar kolaps pada Senin, hampir dua pertiga wilayah Kuba sebenarnya sudah lebih dulu mengalami pemadaman listrik. Akibatnya, banyak warga yang telah terbiasa hidup tanpa listrik maupun akses komunikasi bahkan nyaris tidak merasakan perbedaan ketika jaringan nasional akhirnya benar-benar berhenti beroperasi.

Dalam siaran televisi nasional, pemerintah bahkan meminta warga yang masih beruntung memperoleh aliran listrik untuk menyampaikan kabar mengenai runtuhnya jaringan listrik nasional kepada teman dan tetangga yang tidak memiliki akses informasi akibat pemadaman.

Pemadaman nasional yang terjadi pada Senin merupakan insiden kedelapan sejak Oktober 2025 dan menjadi yang ketiga sepanjang tahun ini.

Situasi energi Kuba juga makin memburuk setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan pengiriman bahan bakar dari Venezuela ke Kuba pada awal tahun ini. Washington juga menekan Meksiko agar menghentikan pengiriman minyak ke Kuba serta mengancam akan mengenakan tarif terhadap negara mana pun yang tetap memasok minyak ke pulau tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat menyebut pemerintah Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan berpendapat bahwa sanksi tersebut diperlukan untuk memaksa terjadinya perubahan pemerintahan di negara itu, yang telah lama menjadi salah satu tujuan kebijakan luar negeri Washington.

Sebaliknya, Kuba yang hanya berjarak sekitar 145 kilometer dari Kepulauan Florida Keys, Amerika Serikat, secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa negara itu bukan ancaman bagi AS.

Namun bagi sebagian besar warga Kuba, persoalan yang mereka hadapi saat ini jauh lebih bersifat praktis dibandingkan politik.

"Panasnya, nyamuknya, semuanya benar-benar tidak tertahankan," kata Omar Ortega, warga Havana berusia 60 tahun. "Berapa lama lagi kondisi seperti ini akan terus berlangsung? Terus terang, kami sudah tidak sanggup lagi," ujarnya.

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Dasco Pastikan Pemadaman Listrik Tak Terulang Lagi!


Most Popular
Features