Breaking News: AS Kembali Serang Iran!
Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Selasa (7/7/2026) waktu setempat. Operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Teheran terhadap tiga kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz, sehingga memicu kekhawatiran eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas.
Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan pihaknya telah memulai "serangkaian serangan dahsyat" untuk menghukum Iran atas aksi tersebut.
"Pasukan Komando Pusat AS telah mulai melancarkan serangkaian serangan dahsyat terhadap Iran untuk memberikan hukuman berat atas penargetan dan penyerangan terhadap kapal dagang yang diawaki oleh warga sipil tak berdosa di jalur perairan internasional," tulis CENTCOM dalam unggahan di X, dikutip Rabu (8/7/2026).
CENTCOM menegaskan serangan itu merupakan balasan langsung atas penyerangan Iran terhadap tiga kapal dagang yang melintas di Selat Hormuz.
"Agresi yang ditunjukkan Iran tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata," lanjut pernyataan tersebut.
Serangan terbaru ini mengancam menggagalkan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati Washington dan Teheran. Ketegangan yang kembali meningkat juga memunculkan kekhawatiran Selat Hormuz kembali terganggu, mengingat jalur tersebut menjadi salah satu rute pelayaran minyak paling vital di dunia.
Konflik kembali memanas setelah Iran menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz pada awal pekan ini. Sebagai respons, pemerintah AS mencabut pengecualian sanksi terhadap minyak Iran pada Selasa pagi, yang semakin meningkatkan tekanan terhadap hubungan kedua negara sekaligus mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Sebelumnya, kedua negara sempat menghentikan aksi saling serang setelah bentrokan besar pada bulan lalu. Saat itu, Washington dan Teheran menyepakati penghentian sementara pertempuran di tengah negosiasi damai, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz yang sebelumnya sempat ditutup Iran selama berbulan-bulan.
AS dan Iran juga telah menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding atau MoU) pada Juni lalu yang mencakup penghentian konflik dan pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Namun, serangan balasan AS kali ini diperkirakan akan menguji ketahanan kesepakatan tersebut.
Perang antara AS dan Iran disebut dimulai pada 28 Februari setelah AS bersama Israel melancarkan serangan ke Iran. Presiden Donald Trump berulang kali menegaskan tujuan operasi militer tersebut adalah mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, yang juga menjadi salah satu isu utama dalam pembahasan MoU antara kedua negara.
Di tengah memanasnya situasi, Trump diketahui tengah berada di Ankara, Turki, untuk menghadiri KTT NATO bersama para pemimpin negara anggota aliansi. Pertemuan itu berlangsung saat ketegangan di kawasan kembali meningkat menyusul aksi saling serang terbaru antara Washington dan Teheran.
source on Google [Gambas:Video CNBC]