MARKET DATA
Internasional

Terang-terangan Lawan China, Tetangga RI Umumkan Rencana Besar Ini

tps,  CNBC Indonesia
06 July 2026 12:40
Philippine Navy Fast Attack Interdiction Craft Lolinato To-Ong passes by a Chinese Navy ship during a Philippine military multi-service joint exercise on Wednesday Nov. 6, 2024 at Loaita island locally called Kota island at the disputed South China S
Foto: AP/Aaron Favila

Jakarta, CNBC Indonesia - Angkatan Udara Filipina mengumumkan rencana besar untuk meningkatkan fasilitas pangkalan militer strategis mereka di dua pulau terdepan yang tengah diperebutkan oleh China. Langkah peningkatan infrastruktur ini sengaja diambil oleh Manila sebagai bagian dari program modernisasi militer demi merespons eskalasi ketegangan wilayah yang terus meningkat dengan Beijing.

Mengutip laporan Newsweek, Senin (6/7/2026), sekutu dekat Amerika Serikat (AS) tersebut juga akan mengakuisisi sejumlah pesawat patroli jarak jauh, helikopter angkut medium Black Hawk tambahan, dan helikopter Bell 412EPX untuk misi pencarian dan penyelamatan (SAR). Selain itu, Manila juga mendatangkan radar pengawas mutakhir guna memperkuat pemantauan maritim mereka di wilayah sengketa.

Komandan Angkatan Udara Filipina, Letnan Jenderal Arthur Cordura, menjelaskan bahwa armada baru ini akan mendongkrak kemampuan negara dalam mengawasi dan merespons pergerakan lawan. Khususnya, untuk membendung lonjakan aktivitas kapal penjaga pantai serta angkatan laut China yang beroperasi di wilayah perairan klaim Manila.

"Angkatan Udara tetap berkomitmen pada modernisasi terlepas dari berbagai tantangan, dengan fokus yang lebih besar pada kesiapan misi, interoperabilitas dengan sekutu, dan membangun kekuatan multi-domain yang kredibel," tegas Letnan Jenderal Cordura dalam sebuah acara memperingati hari jadi angkatan ke-79.

Dua lokasi yang dicanangkan oleh Jenderal Cordura untuk pangkalan strategis tersebut meliputi Pulau Thitu, yang dikenal di Manila sebagai Pag-asa dan di Beijing sebagai Zhongye Dao. Pulau Thitu merupakan pulau alami terbesar kedua di Kepulauan Spratly, Laut China Selatan, sekaligus menjadi satu-satunya pulau di gugusan tersebut yang dihuni oleh populasi sipil permanen dan memiliki markas militer Filipina.

Lokasi kedua adalah Santa Ana yang berada di provinsi utara Cagayan, tepat di dekat Selat Luzon yang merupakan jalur sempit logistik sangat vital di dekat Taiwan. Wilayah Santa Ana dinilai akan menjadi kunci utama bagi upaya AS untuk memblokir pergerakan pasukan China menuju Samudra Pasifik jika konflik bersenjata benar-benar pecah di masa depan.

Selain itu, Santa Ana merupakan satu dari empat lokasi baru yang ditetapkan di bawah Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA) antara Washington dan Manila. Kerja sama ini memungkinkan pasukan militer AS memiliki akses rotasi penuh ke pangkalan militer Filipina untuk mendukung latihan bersama, penyimpanan peralatan perang, serta peningkatan infrastruktur.

Filipina sendiri diketahui terikat dalam perjanjian pertahanan bersama (mutual defense treaty) yang sudah berjalan selama beberapa dekade dengan AS. Ketegangan yang terus meroket di kawasan ini pada akhirnya memicu kekhawatiran global mengenai risiko terseretnya Washington ke dalam konfrontasi militer langsung melawan China yang bersenjata nuklir.

Di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, AS sendiri terus memperdalam kemitraan militer dengan Filipina melalui berbagai aksi nyata di lapangan. Kemitraan tersebut mencakup pagelaran latihan perang tahunan Balikatan terbesar sepanjang sejarah pada Mei lalu, pengerahan rudal penghancur kapal milik AS, hingga patroli bersama di dekat wilayah sengketa Scarborough Shoal.

Melihat manuver tersebut, Beijing berulang kali melayangkan protes keras terhadap keterlibatan AS yang dinilai semakin agresif di Filipina. Pihak pemerintah China menuduh Manila sengaja dimanfaatkan sebagai bidak catur oleh Washington dalam strategi geopolitik untuk membendung pengaruh global China.

Namun, beberapa analis militer asal China menilai bahwa Amerika Serikat sebenarnya tidak sepenuhnya berkomitmen untuk melakukan intervensi militer secara langsung demi Filipina. Pihak lembaga kajian di Beijing menilai kehadiran kekuatan militer AS di sana hanya memiliki nilai guna yang terbatas jika harus berhadapan langsung dengan lawan kelas berat seperti militer China.

"Tujuan utama dari penguatan akses militer ini bukanlah persiapan nyata untuk perang, melainkan sebuah sikap strategis, pembendungan, dan atrisi: memanfaatkan keunggulan geografis Filipina untuk memperkuat posisi pasukan AS di sekitar Laut China Selatan dan Selat Taiwan," tulis lembaga kajian South China Sea Strategic Situation Probing Initiative dalam analisisnya.

(tps/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Sekutu AS Klaim Kemenangan atas China di "Arena Perang" Dekat RI


Most Popular
Features