Selat Hormuz Minggir Dulu, Laut Merah Panas-Kapal Kargo Diserang
Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan terhadap jalur pelayaran internasional kembali terjadi. Sebuah kapal kargo diserang oleh pihak tak dikenal di Laut Merah pada Minggu (5/7/2026), memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur perdagangan dan energi global.
Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengungkapkan kapal tersebut mengirimkan sinyal darurat setelah diserang sekitar 30 mil laut atau sekitar 56 kilometer di barat daya pelabuhan Al Hudaydah, Yaman.
"Sebuah kapal kargo telah memicu peringatan bahaya yang menyatakan bahwa mereka diserang oleh penyerang tak dikenal," tulis UKMTO dalam unggahan di X, seperti dikutip CNBC International, Senin (6/7/2026). Otoritas terkait saat ini masih menyelidiki insiden tersebut.
UKMTO juga mengimbau seluruh kapal yang melintasi kawasan tersebut agar meningkatkan kewaspadaan. "Transit dengan hati-hati," demikian peringatan yang disampaikan badan keamanan maritim Inggris itu.
Insiden ini menjadi sorotan karena terjadi ketika gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam kondisi rapuh. Sebelumnya, kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman kerap melancarkan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah sepanjang 2023 hingga 2025 sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina dalam perang Gaza. Namun, kelompok tersebut sebagian besar tidak terlibat langsung dalam konflik antara AS dan Iran.
Ketegangan di Laut Merah juga muncul ketika perhatian pasar energi sebelumnya lebih banyak tertuju pada Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi pintu keluar utama ekspor minyak Timur Tengah. Kini, fokus beralih ke Selat Bab el-Mandeb yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab, mengingat jalur ini menjadi alternatif penting bagi distribusi minyak dunia.
Peran Bab el-Mandeb semakin strategis setelah ekspor melalui Selat Hormuz sempat terganggu akibat meningkatnya konflik Iran dengan AS dan Israel pada awal tahun. Saat itu, Arab Saudi meningkatkan pengiriman minyak melalui Jalur Pipa Timur-Barat sebelum menyalurkannya ke Laut Merah untuk kemudian dikirim ke pasar Asia melalui Bab el-Mandeb.
Jalur tersebut membantu menjaga pasokan energi ke sejumlah negara konsumen utama, termasuk Jepang dan Korea Selatan, ketika lalu lintas melalui Hormuz mengalami gangguan.
Situasi mulai membaik setelah Amerika Serikat (S) dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni untuk mengakhiri perang yang berlangsung hampir empat bulan. Kesepakatan itu membuka kembali Selat Hormuz sekaligus memulai perundingan damai selama 60 hari guna mencapai penyelesaian permanen.
Sejak pembukaan kembali Hormuz, arus ekspor minyak meningkat signifikan. Berdasarkan data perusahaan intelijen perdagangan Kpler, Arab Saudi telah mengirim sekitar 34 juta barel minyak melalui Selat Hormuz sejak 17 Juni. Angka tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan sekitar 15 juta barel yang dikirim sepanjang periode 9 Maret hingga 17 Juni.
Pulihnya distribusi minyak turut menekan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent, yang menjadi acuan global, tercatat telah turun sekitar 39% dari puncaknya pada Maret. Namun, serangan terbaru terhadap kapal kargo di Laut Merah menunjukkan risiko geopolitik terhadap rantai pasok energi global masih jauh dari berakhir.
(tfa/tfa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]