Cerita Mata-Mata Israel yang Hampir Jadi Wamen
Jakarta, CNBC Indonesia - Kisah agen rahasia Israel, Eli Cohen, dikenal karena keberhasilannya menyusup ke pemerintahan Suriah hingga hampir menjabat sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Menggunakan nama samaran Kamel Amin Thaabet, Cohen dicatat sebagai salah satu agen Mossad paling berpengaruh dalam sejarah intelijen.
Cohen lahir di Mesir dan mulai bergabung dengan Mossad pada tahun 1954. Ia kemudian dikirim ke Suriah dengan identitas sebagai pengusaha tekstil yang sukses. Agar penyamarannya meyakinkan, ia menggunakan latar belakang palsu sebagai warga Suriah yang sempat menetap di Argentina untuk menjalankan bisnis keluarga.
Menurut buku Our Man in Damascus, Cohen masuk ke Suriah setelah menjalin hubungan dengan Jenderal Amin al-Hafez di Argentina. Kepada jenderal tersebut, ia mengaku ingin pulang ke tanah airnya untuk membantu membangun kembali Suriah yang saat itu sedang menghadapi masalah korupsi.
"Al-Hafez percaya dia adalah pengusaha nasionalis yang ingin memulihkan kehormatan Suriah," tulis Cohn.
Kepercayaan itu membuka pintu lebar bagi Cohen. Ia diperkenalkan kepada para pejabat tinggi dan elite militer Suriah. Namanya pun semakin dikenal setelah kerap menggelar jamuan yang menjadi tempat berkumpulnya kalangan elite, sehingga ia dapat mengumpulkan berbagai informasi strategis tanpa menimbulkan kecurigaan.
Penulis Samantha Wilson dalam Israel (2011) mencatat, kebiasaan elite Suriah berkumpul dalam berbagai acara sosial menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan Cohen untuk memperoleh informasi penting.
Pada 1963, Amin al-Hafez naik menjadi Presiden Suriah dan hubungan keduanya semakin dekat. Cohen bahkan beberapa kali diajak mengunjungi lokasi-lokasi militer yang sensitif. Dari sana, ia mengumpulkan informasi rinci mengenai pertahanan Suriah yang kemudian dikirim ke Israel melalui sandi morse. Operasi tersebut berlangsung selama lebih dari tiga tahun.
Kepercayaan yang berhasil dia bangun mencapai puncak ketika ia disebut-sebut sempat ditawari jabatan Wakil Menteri Pertahanan Suriah.
"Ia sempat ragu menerima tawaran itu, namun Mossad mendorongnya melanjutkan operasi," tulis Elie Cohn dalam Our Man in Damascus (1971).
Namun nasib berbalik pada 1965. Suatu malam, militer Suriah mendapati sinyal kode morse mencurigakan dari rumah Cohen. Setelah penyelidikan intensif, ia ditangkap sebagai mata-mata. Presiden al-Hafez dikabarkan murka karena kebocoran intelijen yang menyebabkan Suriah berulang kali kalah dalam konflik melawan Israel.
Cohen kemudian disiksa dan akhirnya dihukum gantung di depan publik pada 18 Mei 1965. Jenazahnya tak pernah dipulangkan ke Israel.
Meski telah dieksekusi, dampak operasi Cohen tetap terasa. Informasi yang ia bocorkan membantu Israel memenangkan Perang Enam Hari pada 1967.
"Ia mungkin sosok paling berpengaruh dalam sejarah intelijen Timur Tengah," tulis Cohn, menggambarkan betapa besar efek operasi Cohen terhadap dinamika regional.
Hingga kini, nama Eli Cohen masih dikenang sebagai simbol keberhasilan operasi intelijen Israel di Timur Tengah.. Kisah penyamarannya menjadi contoh bagaimana operasi intelijen dapat memengaruhi arah konflik dan hubungan antarnegara selama bertahun-tahun.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]