MARKET DATA
Internasional

Damai AS-Iran Bawa Berkah, Raja Salman Dapat "Durian Runtuh"

tps,  CNBC Indonesia
03 July 2026 15:40
Damai AS-Iran Bawa Berkah, Raja Salman Dapat "Durian Runtuh"
Foto: Arab Saudi (AFP via Getty Images/OZAN KOSE)

Jakarta, CNBC Indonesia - Negeri Raja Salman, Arab Saudi, dilaporkan langsung menggenjot pengiriman minyak mentah mereka secara masif melalui Selat Hormuz. Langkah ini diambil setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani perjanjian untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut sejak bulan lalu.

Mengutip laporan CNBC International, Jumat (3/7/2026), data dari perusahaan intelijen perdagangan Kpler menunjukkan bahwa Riyadh telah mengapalkan sekitar 34 juta barel minyak melalui Hormuz sejak tanggal 17 Juni lalu. Volume ekspor minyak Arab Saudi selama dua minggu terakhir ini melonjak drastis hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan pasokan sebesar 15 juta barel yang dikirim oleh kerajaan tersebut melalui selat yang sama sepanjang periode 9 Maret hingga 17 Juni lalu.

"Aliran minyak mentah Arab Saudi di dalam Teluk kembali bangkit setelah berbulan-bulan mengalami pengalihan rute akibat konflik," ungkap analis Kpler, Jashan Prema, dalam sebuah catatan kepada para kliennya pada hari Kamis.

Dari total minyak yang dikirim sejak 17 Juni tersebut, Kpler mencatat sekitar 24 juta barel di antaranya telah dimuat selama atau bahkan sebelum perang AS-Iran berkecamuk. Kondisi ini mengindikasikan bahwa Arab Saudi saat ini tengah sibuk membersihkan tumpukan antrean kapal tanker minyak yang sempat terjebak dan tidak dapat keluar dari kawasan Teluk akibat konflik bersenjata.

"Saat ini masih tersisa sekitar 17 juta barel minyak Arab Saudi yang telah dimuat sebelum perang berkecamuk dan masih tertahan di area Teluk," tambah Kpler.

Riyadh sendiri tercatat sempat menghentikan hampir seluruh aktivitas pengiriman minyak dari terminal ekspor Teluk mereka di Ras Tanura and Juaymah pada tanggal 9 Maret lalu. Keputusan penghentian operasional tersebut terpaksa diambil setelah lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz anjlok drastis akibat rentetan serangan militer Iran.

Selama masa krisis tersebut, Arab Saudi mengalihkan sebagian besar ekspor minyak mereka melalui jalur pipa Timur-Barat menuju terminal Yanbu yang berada di Laut Merah. Namun saat ini, pihak kerajaan dipastikan tidak hanya sekadar membersihkan tumpukan minyak sisa masa pra-perang, melainkan sudah resmi memulai kembali logistik ekspor mereka di Teluk.

Tercatat ada sebelas kapal supertanker yang menuju ke kerajaan dan telah memasuki kawasan Teluk sepanjang periode 23 Juni hingga 1 Juli kemarin.

Dari jumlah kapal tersebut, delapan di antaranya telah selesai memuat minyak di terminal Arab Saudi dan lima kapal dilaporkan sudah sukses keluar melewati Selat Hormuz.

Sementara itu, aktivitas pelayaran kapal komersial komoditas ini terpantau tetap berjalan melewati Selat Hormuz meskipun sempat terjadi gesekan pertempuran baru antara AS dan Iran pada pekan lalu. Ketegangan sempat meningkat setelah Teheran menyerang dua kapal komersial yang langsung dibalas oleh serangan udara dari AS pada akhir pekan.

Kpler sendiri menyebut lalu lintas tanker sempat merosot hingga menyisakan delapan kapal saja pada hari Minggu. Namun jumlah tersebut berhasil merangkak naik kembali hingga menyentuh angka 16 kapal pada hari Rabu.

Perusahaan intelijen maritim Windward mencatat sekitar 8,5 juta barel minyak mentah sukses melewati Selat Hormuz pada hari Rabu. Sebagai perbandingan makro, data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa hampir 15 juta barel minyak per hari rutin melintasi selat strategis tersebut sepanjang tahun 2025 lalu.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Selat Hormuz Memanas, Kargo Minyak RI dari Arab Ketahan!


Most Popular
Features