MARKET DATA
Internasional

Iran Emosi Digempur dari Dalam: Luncurkan Drone-Dalangnya Terungkap

tps,  CNBC Indonesia
03 July 2026 05:30
Wanita Kurdi berdiri bersama saat menghadiri pelatihan tentang cara menggunakan senjata di Qamishli, Suriah, 18 April 2025. (REUTERS/Orhan Qereman)
Foto: Wanita Kurdi berdiri bersama saat menghadiri pelatihan tentang cara menggunakan senjata di Qamishli, Suriah, 18 April 2025. (REUTERS/Orhan Qereman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Rezim Iran meluncurkan serangan udara menggunakan dua unit pesawat nirawak (drone) yang menyasar langsung pangkalan militer milik Partai Demokrat Kurdistan Iran (KDPI) di sub-distrik Degala, Erbil, pada Rabu malam. Serangan udara agresif ini menjadi rentetan aksi militer Teheran yang sengit guna membombardir markas besar hingga kamp-kamp pengungsian faksi oposisi Kurdi di wilayah otonomi Irak.

Mengutip laporan Jerusalem Post, Kamis (02/07/2026), perwakilan KDPI mengonfirmasi bahwa kedua drone tempur tersebut meledak tepat di area basis pertahanan mereka. Beruntung, insiden ledakan tersebut tidak sampai menimbulkan korban jiwa karena tidak ada personel milisi Peshmerga yang tengah berjaga di lokasi target pada saat serangan berlangsung.

Kendati demikian, di wilayah barat Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dilaporkan berhasil membantai lima pejuang Kurdi dari faksi KDPI melalui sebuah operasi jebakan (ambush) dan kontak senjata yang pecah di kawasan Ghezqapan, dekat kota Piranshahr.

"Serangan itu terjadi ketika Iran terus menargetkan markas besar dan kamp-kamp pengungsian partai-partai oposisi Kurdi Iran di Wilayah Kurdistan, bahkan setelah permusuhan dengan AS dan Israel mereda," tulis media lokal Rudaw mengenai eskalasi tersebut.

Langkah militer Teheran yang sengaja memperluas serangan ke basis KDPI ini dinilai sebagai strategi taktis untuk mencegah kelompok berhaluan sentris-nasionalis tersebut ikut bergabung mengangkat senjata bersama Partai Kehidupan Bebas Kurdistan (PJAK) yang telah terlibat bentoran hebat dengan IRGC selama beberapa hari terakhir.

PJAK sendiri diakui sebagai faksi bersenjata Kurdi berskala besar yang memiliki kamp logistik tersembunyi di pedalaman rural yang sangat sulit dilacak oleh intelijen Iran. Berdasarkan data resmi, wilayah Kurdistan tercatat telah dihantam oleh sedikitnya 865 rudal dan drone sejak akhir Februari lalu, di mana hampir 20 drone di antaranya murni menyasar kamp pengungsi sipil Kurdi dalam satu bulan terakhir saja.

Kontroversi Rencana Gulingkan Rezim Teheran

Di sisi lain, meluasnya pertempuran di tanah Kurdi ini sekaligus membongkar dokumen rahasia mengenai kegagalan rencana badan intelijen Israel (Mossad) yang sempat ingin memanfaatkan kekuatan militer etnis Kurdi Iran dan Irak untuk melakukan kudeta atau pergantian rezim di Teheran. Rencana kudeta bersenjata tersebut dipastikan kandas total setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mutlak menggunakan hak veto politiknya untuk mematikan operasi intelijen itu.

Menteri Pertahanan Israel Israel Katz yang berbicara dalam pengarahan bersama jurnalis militer pada hari Senin menunjukkan sikap skeptis dan enggan memberikan dukungan terbuka terhadap draf rencana tersebut, berbeda dengan para petinggi Mossad yang meyakini operasi pelumpuhan Iran itu bisa saja sukses besar andai tidak dijegal oleh veto Trump.

"Sesuai rancangan dokumen operasi, pihak Israel sejatinya sudah berkomitmen penuh untuk menyediakan zona larangan terbang (no-fly zone) bagi kelompok Kurdi, serta menjanjikan payung perlindungan tembakan udara (aerial firepower envelope) yang kontinu guna menghalau pergerakan infantri militer Iran," ujar Jerusalem Post mengutip dokumen rencana penggulingan itu.

Bahkan, pasukan milisi Kurdi dilaporkan telah selesai menerima pasokan persenjataan canggih hasil rampasan militer IDF dari tangan Hamas di Gaza serta Hezbollah di Lebanon, lengkap dengan program pelatihan taktis komando yang diberikan langsung oleh instruktur militer Israel.

Hingga saat ini, perdebatan politik masih terus bergulir mengenai siapa aktor utama yang berhasil menghasut Trump untuk menolak operasi berdarah tersebut, di mana beberapa pihak menuduh keterlibatan intervensi dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Sementara itu, laporan lain menyebut Direktur CIA John Ratcliffe sempat menyatakan penolakan keras walau lembaga CIA kedapatan sempat ikut memasok senjata kepada faksi Kurdi, di mana pertempuran sengit dilaporkan masih terus berkecamuk hebat di wilayah Sardasht dan Piranshahr mempertemukan Pasukan Hamza Sayyid Al Shuhada milik IRGC melawan para gerilyawan Kurdi.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Putin Ngamuk, Rusia Tembak 70 Rudal & 611 Drone ke Ukraina


Most Popular
Features