MARKET DATA
Internasional

Israel Terang-terangan Mau Caplok 3 Negara Ini, Warning Keras Iran

tps,  CNBC Indonesia
02 July 2026 08:05
An Israeli soldier walks near a military vehicle, on the Israeli side of the Israel-Lebanon border, in northern Israel, April 26, 2026. REUTERS/Shir Torem
Foto: REUTERS/Shir Torem

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Israel resmi mengumumkan keputusan militer terbaru mereka. Mereka akan mempertahankan pasukan tempurnya di wilayah pendudukan Gaza, Lebanon, dan Suriah secara permanen.

Kebijakan pendudukan tanpa batas waktu ini diklaim sebagai langkah krusial. Hal ini diperlukan demi mempertahankan garis perbatasan luar negara tersebut.

Mengutip laporan Russia Today, Kamis (2/07/2026), kebijakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Israel Israel Katz. Katz menegaskan tidak akan ada penarikan mundur militer dari wilayah Lebanon selatan sebelum kelompok milisi Hezbollah dilucuti sepenuhnya.

"Kebijakan kami untuk membela perbatasan Negara Israel ... sudah jelas," tegas Menhan Israel Katz seperti dikutip dari Jerusalem Post. "IDF (Militer Israel) tidak akan mundur dan akan tetap berada di zona keamanan di Lebanon, Suriah, dan Gaza untuk jangka waktu yang tidak terbatas."

Katz juga melayangkan ancaman baru kepada pemerintah Iran. Ia menyebutkan bahwa Teheran akan dihantam dengan serangan militer dari Negeri Yahudi itu jika mengambil manuver yang bertentangan dengan niatan Israel

"Kami akan melakukan serangan dengan kekuatan penuh jika (Iran) nekat melakukan aksi pembalasan militer," tuturnya.

Peringatan keras ini senada dengan ikrar Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu baru-baru ini. Ia menyatakan bahwa ambisi Israel untuk meraih kemenangan total atas Iran dan kelompok sekutunya tidak akan pernah berakhir.

Di sisi lain, Iran memasukkan poin krusial dalam diplomasi global mereka. Teheran menjadikan penghentian operasi militer Israel di Lebanon sebagai salah satu syarat utama dalam negosiasi damai dengan Amerika Serikat.

Pernyataan keras Katz ini muncul hanya berselang beberapa hari setelah pemerintah Lebanon mengambil langkah diplomasi. Beirut menandatangani perjanjian kerangka kerja yang didukung oleh Washington untuk mengakhiri pertempuran perbatasan.

Namun, kesepakatan damai tersebut langsung ditolak mentah-mentah oleh kelompok Hizbullah. Pihak yang disokong Iran itu berargumen bahwa perjanjian itu hanya akan memberikan kebebasan bagi Israel untuk beroperasi di dalam wilayah Lebanon.

Penolakan dari kelompok milisi tersebut langsung memicu gejolak domestik baru. Gelombang aksi demonstrasi massa berskala besar spontan pecah di jalanan kota Beirut.

Israel sendiri tercatat mulai memperluas ofensif militernya di Lebanon sejak awal Maret lalu. Langkah ini diambil setelah Hezbollah menembakkan roket ke wilayah Israel selama perang antara AS-Israel melawan Iran berkecamuk.

Agresi militer tersebut telah memicu krisis kemanusiaan yang sangat hebat. Serangan udara Israel sejauh ini telah menewaskan hampir 4.300 orang di Lebanon.

Selain korban jiwa, serangan tersebut juga menghancurkan kehidupan warga sipil. Sekitar satu juta orang kini terpaksa mengungsi menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon dan PBB.

Dalam beberapa bulan terakhir, Pasukan Israel terus merangsek jauh ke wilayah selatan. Mereka mulai mendirikan apa yang disebut pejabat Israel sebagai zona penyangga keamanan.

Berdasarkan laporan media setempat, pergerakan infanteri Israel di lapangan sangat masif. Hingga bulan Juni, pasukan Israel dilaporkan telah menguasai sekitar 2.000 kilometer persegi wilayah darat Lebanon. Luas wilayah yang berhasil diduduki tersebut bukan angka yang kecil. Jumlah itu setara dengan hampir seperlima dari total luas wilayah negara Lebanon.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News! Deal Gencatan Senjata, Iran Ultimatum Israel Soal Ini


Most Popular
Features