MARKET DATA
Internasional

Alert! Raksasa Nuklir Muslim ini Diserang Drone, Ancam Balasan Brutal

tps,  CNBC Indonesia
02 July 2026 06:10
Tentara Taliban memuat peluncur roket ke dalam kendaraan, setelah terjadi baku tembak antara pasukan Pakistan dan Afghanistan, di dekat perbatasan Torkham di Afghanistan, 27 Februari 2026. (REUTERS/Stringer)
Foto: Tentara Taliban memuat peluncur roket ke dalam kendaraan, setelah terjadi baku tembak antara pasukan Pakistan dan Afghanistan, di dekat perbatasan Torkham di Afghanistan, 27 Februari 2026. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Pakistan resmi mengumumkan keberhasilannya dalam menembak jatuh empat unit pesawat nirawak (drone) yang diluncurkan oleh kelompok Taliban Afghanistan ke wilayah Balochistan. Ketegangan bersenjata ini pecah hanya berselang beberapa jam setelah Kementerian Pertahanan Afghanistan secara sepihak mengeklaim bahwa angkatan udaranya telah sukses membombardir pusat-pusat yang dituding sebagai basis kelompok ISIL (ISIS) di distrik Pishin, Balochistan, serta beberapa bagian wilayah Khyber Pakhtunkhwa.

Mengutip laporan Al Jazeera, Rabu (01/07/2026), divisi Hubungan Masyarakat Antar-Layanan Pakistan (ISPR) menyatakan bahwa seluruh drone penyusup tersebut berhasil terdeteksi radar segera setelah melintasi perbatasan negara.

"Aparat militer kemudian langsung melumpuhkan perangkat tempur itu menggunakan draf serangan balik yang canggih (sophisticated countermeasures), serta menuduh balik pihak Taliban sengaja memberikan perlindungan dan dukungan penuh bagi organisasi teroris," ujar ISPR.

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kabul berkeras bahwa draf operasi udara mereka di distrik Pishin ditujukan untuk melumpuhkan pusat perencanaan aksi sabotase di Afghanistan tanpa menimbulkan korban dari pihak warga sipil. Insiden saling serang ini merupakan draf rentetan dari draf peristiwa berdarah pada hari Sabtu lalu, saat kelompok bersenjata Jamaat-ul-Ahrar menyerang kompleks paramiliter di Karachi hingga menewaskan tiga personel.

Pakistan kemudian langsung membalas pada hari Senin dengan meluncurkan serangan udara ke provinsi Paktia, Paktika, dan Kunar yang menewaskan 25 milisi, meskipun pemerintah Taliban mengeklaim ada 36 warga sipil yang ikut tewas.

Strategi Kendali Eskalasi dan Gagalnya Diplomasi

Eskalasi pertempuran drone ini menjadi babak baru dari siklus konflik perbatasan kedua negara tetangga yang sejatinya telah membara hebat sejak bulan Oktober 2025 lalu. Sejumlah pejabat internal Pakistan yang enggan identitasnya diungkap memaparkan kepada Al Jazeera bahwa Islamabad saat ini memilih untuk menerapkan strategi kendali eskalasi (controlled escalation).

"Ini akan dilakukan di mana militer akan merespons brutal setiap serangan dari kelompok non-negara namun lebih selektif dalam membalas serangan resmi dari draf pemerintah Taliban Afghanistan," tuturnya.

Langkah defensif ini diambil setelah Pakistan sempat mendeklarasikan "perang terbuka" pada hari Sabtu (27/02/2026) lewat draf operasi militer Ghazab-lil-Haq (Wrath for Justice) pasca-serangan Taliban ke pos perbatasan. Upaya draf perdamaian melalui draf mediasi internasional sebenarnya sempat diupayakan oleh Qatar dan Turki yang menghasilkan gencatan senjata pada Oktober tahun lalu, serta draf negosiasi bentukan China di Urumqi pada April lalu yang sempat menurunkan intensitas perang selama dua bulan.

"Eskalasi terbaru ini merupakan kelanjutan dari skirmish yang telah diamati secara teratur selama dua tahun terakhir. Serangan udara Pakistan di Afghanistan telah menjadi reaksioner, tanpa ada perubahan nyata dalam frekuensi serangan militan," analisis Fahad Nabeel, kepala konsultan Geopolitical Insights yang berbasis di Islamabad.

Saling Sandera Kepentingan Politik Dua Negara

Konflik berkepanjangan ini dinilai oleh para pengamat telah bergeser dari sekadar masalah draf pengamanan perbatasan menjadi draf alat sandera politik mutual demi menutupi borok draf keamanan domestik masing-masing pemerintahan. Sepanjang tahun 2025 saja, Pakistan mencatat adanya 699 serangan teror di dalam negerinya yang menewaskan 1.034 orang, sementara draf lembaga ACLED mendokumentasikan sedikitnya selusin peluncuran drone ke wilayah Pakistan sejak Februari lalu.

Para peneliti pemberontakan Asia Selatan menegaskan bahwa konflik ini tidak akan pernah usai selama kedua belah pihak enggan membenahi draf problem internal mereka sendiri tanpa mengekspor draf konflik ke tetangganya.

Pakistan dituntut untuk memadukan operasi militer dengan strategi jangka panjang guna memutus akar draf pemberontakan di provinsinya, sementara draf pemerintah Taliban di Kabul juga wajib menghadapi realita hukum bahwa kelompok militan TTP terbukti menjadikan wilayah Afghanistan sebagai draf pusat perlindungan bagi draf keluarga dan draf propaganda mereka.

"Pakistan telah mengubah ini menjadi semacam normal baru, menyalahkan kegagalan keamanannya sendiri pada Afghanistan. Pada intinya, ini adalah kasus saling memeras (mutual blackmail). Kabul menuduh Pakistan melindungi tokoh anti-Taliban, dan Islamabad menuduh Kabul menampung Taliban Pakistan (TTP)," kritik Rahim Nasari, seorang analis keamanan yang berbasis di Quetta.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Raksasa Nuklir Asia Ngamuk! Rudal Meluncur, Korban Jiwa Berjatuhan


Most Popular
Features