MARKET DATA
Internasional

Update Baru AS-Iran! Teheran Cuan, 40 Juta Barel Minyak Laku Keras

tps,  CNBC Indonesia
01 July 2026 15:40
FILE PHOTO: Rosneft's Russian-flagged crude oil tanker Vladimir Monomakh transits the Bosphorus in Istanbul, Turkey, July 6, 2023. REUTERS/Yoruk Isik/File Photo
Foto: Minyak Iran (REUTERS/Yoruk Isik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas pemerintah Iran mengumumkan telah berhasil mengekspor lebih dari 40 juta barel minyak mentah dalam dua pekan terakhir sejak Amerika Serikat (AS) resmi mencabut blokade angkatan lautnya. Tidak hanya keran ekspor yang kembali mengucur masif, Teheran kini juga berhasil menjual komoditas emas hitam tersebut dengan harga premium yang jauh lebih tinggi, sekitar 20% dibandingkan dengan level harga sebelum perang pecah.

Mengutip laporan CNBC Internaional, Rabu (01/07/2026), lonjakan ekspor ini terjadi pasca-penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran pada 17 Juni lalu, yang menyepakati penghentian perang selama empat bulan sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Ketua Parlemen sekaligus Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengonfirmasi bahwa pengapalan minyak lepas pantai berjalan sangat agresif setelah sebelumnya Iran sama sekali tidak mampu menjual satu barel pun minyak akibat penguncian pelabuhan oleh militer AS.

"Sejak hari blokade laut dicabut, kami telah mengekspor lebih dari 40 million barel minyak," ungkap Ghalibaf dalam wawancara televisi yang dipublikasikan melalui saluran Telegram miliknya.

Di sisi lain, perusahaan pelacakan kapal tanker TankerTrackers.com bahkan merilis estimasi yang lebih tinggi pada hari Rabu, di mana mereka memproyeksikan Iran telah menggelontorkan hingga 50 juta barel minyak mentah ke pasar global dengan memanfaatkan pantauan citra satelit dan sistem identifikasi otomatis real-time. Banjir pasokan baru dari Teluk ini seketika membuat harga minyak mentah jenis Brent melandai di kisaran US$ 73 (Rp 1,3 juta) per barel, merosot hampir 40% dari puncak harga tertinggi masa perang sebesar US$ 118 (Rp 2,1 juta) pada April lalu.

Berdasarkan draf kesepakatan MoU selama masa pemulihan 60 hari ini, Iran memang setuju untuk mengizinkan kapal dagang melintasi Selat Hormuz secara gratis tanpa ditarik biaya tol. Kendati demikian, Teheran dengan sangat tegas menolak melunakkan posisi politiknya dan berkeras untuk mempertahankan kendali penuh atas hak administrasi serta kedaulatan jalur maritim strategis tersebut.

"Kedaulatan Selat Hormuz berada di tangan Iran dan Oman, dan lalu lintas di selat tersebut tunduk pada pengaturan yang ditentukan oleh Iran. Iran tidak akan menyerahkan hak-haknya di Selat Hormuz dalam kondisi apa pun, dan ini adalah wilayah perairan kami," ujar Ghalibaf.

Selain masalah kedaulatan selat, Ghalibaf juga melayangkan bantahan keras terhadap klaim sepihak Presiden AS Donald Trump. Ia menyatakan bahwa dana cadangan devisa Iran yang dicairkan wajib digunakan untuk memborong produk pertanian asal Amerika. 

"Senilai US$ 12 miliar (Rp 215,40 triliun) dari total sekitar US$ 24 billion (Rp 430,80 triliun) aset asing yang sempat dibekukan akan langsung ditransfer ke bank sentral Iran untuk dibelanjakan komoditas apa pun secara bebas di pasar internasional tanpa intervensi mata uang dari Washington," tambah Ghalibaf

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article 6 Update Perang AS-Iran yang Belum Tamat, Israel Bom Negara Arab Baru


Most Popular
Features