Jreng! RI Dapat 2 Kabar Genting Hari Ini, Ekonomi Baik-Baik Saja?
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia mendapatkan dua kabar buruk hari ini, Rabu (1/7/2026), yakni Data Purchasing Managers' Index (PMI) Indonesia anjlok ke level 46,9 dan neraca perdagangan RI berbalik defisit setelah 72 bulan mengalami surplus. Dua kabar buruk ini berisiko mempengaruhi ekonomi Indonesia ke depannya.
Data PMI yang dirilis S&P Global hari ini, Rabu (1/7/2026) menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada buan Juni 2026.
Ini adalah tingkat penurunan merupakan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025.
S&P mengungkapkan PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang. Data pendukung kinerja PMI RI ini juga menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun.
Usamah Bhatti, Ekonom S&P Global Market Intelligence, mengatakan kesehatan sektor manufaktur Indonesia menurun dua kali dalam tiga bulan terakhir menutup semester pertama 2026.
S&P menilai tren negatif permintaan mendorong perusahaan menurunkan output selama empat bulan berturut-turut dan paling tajam sejak bulan April 2025.
"Menanggapi keadaan ini, perusahaan menurunkan jumlah tenaga kerja dan aktivitas pembelian mereka besar-besaran, sementara inventaris juga menurun seiring melemahnya kondisi permintaan," kata Bhatti dalam laporan S&P.
S&P menyoroti produsen barang yang menurunkan jumlah tenaga kerja lebih banyak lagi pada bulan Juni. Laju PHK tergolong solid dan merupakan yang paling besar sejak bulan September 2021, menurut laporan S&P.
Pada saat yang sama, pembelian input turun selama empat bulan berturut-turut dan pada laju tercepat sejak bulan Agustus 2021. Beberapa perusahaan mencatat bahwa kenaikan harga bahan baku juga menghambat aktivitas pembelian
Menurut bhatti, tekanan harga masih tinggi secara historis seiring dengan produsen yang mulai mencatat kenaikan beban biaya rata-rata di tengah laporan kenaikan harga bahan baku.
Bhatti pun mengatakan laju inflasi saat ini merupakan yang tertinggi kedua sepanjang sejarah dan mendorong kenaikan harga jual dari pabrik paling kuat dalam hampir 13 tahun.
Kabar tidak menyenangkan datang dari data perdagangan RI. BPS mencatat mencatat defisit neraca perdagangan barang sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026.
Hasil ini sekaligus mengakhiri tren surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Mei 2026 nilai ekspor tercatat sebesar US$ 23,20 miliar, sedangkan impor mencapai US$ 24,81 miliar. Impor yang tumbuh lebih tinggi dibanding ekspor membuat neraca perdagangan berbalik defisit.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan defisit neraca perdagangan pada Mei terutama berasal dari komoditas migas.
Meski begitu, neraca perdagangan nonmigas masih mencatat surplus sebesar US$ 2,50 miliar. Surplus tersebut terutama ditopang oleh ekspor bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati, serta besi dan baja.
Kendati mengalami defisit pada Mei 2026, secara kumulatif Indonesia masih membukukan surplus neraca perdagangan. Dari data BPS, sepanjang Januari-Mei 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$ 4,03 miliar.
Surplus tersebut ditopang oleh neraca perdagangan nonmigas yang masih mencatat surplus sebesar US$ 16,31 miliar. Sementara itu, neraca perdagangan migas masih mengalami defisit sebesar US$ 12,28 miliar.
Dari paparan rilis data PMI dan neraca perdagangan ini dapat disimpulkan pengaruh tekanan global, terutama dari perang di Timur Tengah, telah merembes hingga ke perekonomian Indonesia.
Patut diwaspadai, dua data ekonomi ini akan menjadi indikator pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026. Rencananya, rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia, yakni Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal II-2026, akan dilakukan pada 5 Agustus 2026. Di tengah gejolak global saat ini, pemerintah masih yakin ekonomi Indonesia pada kuartal II akan tumbuh di kisaran 5,1%-5,5%.Â
(haa/haa) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]