MARKET DATA

Pasar Asemka Bangkit dari Kubur, Dipenuhi Pedagang dan Pembeli Musiman

Elga Nurmutia,  CNBC Indonesia
01 July 2026 13:55
Jelang tahun ajaran baru, pedagang alat tulis mulai menjamur di Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta, Senin (29/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: CNBC Indonesia/Tri Susilo

Jakarta, CNBC Indonesia - Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta Barat diramaikan oleh sejumlah warga. Di sana mereka ingin membeli alat tulis untuk keperluan sekolah jelang tahun ajaran baru.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia pada Selasa (30/6/2026), sejumlah alat tulis seperti buku, pensil, pulpen, spidol, tempat pensil, rautan pensil, tipe-x hingga penghapus karet dijajakan di toko. Barang-barang tersebut tidak hanya dijual di toko alat tulis kantor (ATK) saja, melainkan juga di sepanjang kolong flyover Asemka oleh pedagang musiman.

Contohnya adalah Ian. Pedagang musiman di Pasar Asemka tersebut mengaku sejauh ini penjualan alat tulis belum terlalu moncer meski sudah didatangi oleh sejumlah pengunjung. Terlepas dari itu, dia berharap produk tersebut dapat terjual lebih banyak dalam beberapa waktu mendatang.

Saat ini tempat Ian berjualan kerap dikunjungi oleh reseller alat tulis maupun masyarakat umum. Biasanya, para reseller membeli produk dalam jumlah besar atau lusinan untuk kemudian dijual kembali. Sebaliknya, konsumen biasa membeli produk seperti 2-5 pak buku tulis untuk kebutuhan pribadi atau sekolah.

"Tapi yang udah biasa banyak peminat atau yang udah tau ininya (merek buku tulis) SIDU aja ya. Sinar Dunia paling banyak," ungkap dia kepada CNBC Indonesia, Selasa (30/6/2026).

Lebih jauh, Ian mengaku sudah terbiasa berjualan produk-produk berbeda yang punya permintaan tinggi secara musiman. Misalnya, ketika periode libur tahun baru, dia menjual kembang api. Adapun ketika masuk libur sekolah, dirinya berjualan produk alat tulis.

Tak hanya itu, Ian mengklaim alat tulis yang dijualnya ada yang buatan lokal dan ada yang termasuk produk impor. Sebagai gambaran, produk kotak tempat pensil buatan lokal dijual oleh Ian seharga Rp 35.000, sedangkan untuk produk yang sama buatan impor tentu lebih mahal yakni sekitar Rp 65.000.

Jelang tahun ajaran baru, pedagang alat tulis mulai menjamur di Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta, Senin (29/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)Jelang tahun ajaran baru, pedagang alat tulis mulai menjamur di Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta, Senin (29/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: CNBC Indonesia/Tri Susilo

Sementara itu, pedagang musiman lainnya di Pasar Asemka, Roni, mengaku penjualan alat tulis di tokonya dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan. Bahkan, omzet penjualan dari alat tulis merosot hingga 50%.

Dirinya bilang, salah satu penyebab penurunan penjualan tersebut yaitu kondisi ekonomi Indonesia yang dipenuhi ketidakpastian. Di samping itu, ia juga menyadari semua sektor menghadapi tekanan serupa.

"Kalau karyawan ketahuan setiap bulan terima gaji berapa. Jadi budget udah ketahuan. Kalau dagang kan gak jelas," kata dia.

Sebenarnya, Roni telah mencoba peruntungan membuka toko di platform marketplace. Namun, tetap saja penjualan di toko online tersebut tidak membuahkan hasil yang optimal. Dengan kata lain, penjualan alat tulis di toko online maupun offline sama-sama masih lesu.

"Ini setiap satu resi juga kena Rp 1.250 per resi, itu belum termasuk potongannya (biaya admin). Potongannya kan sekitar 20%," terangnya.

Berdasarkan testimoni Roni, jika penjual ingin mendapatkan banyak pembeli, maka harus ikut program berupa pemberian berbagai promo. Langkah ini diambil demi menarik para pengguna marketplace yang ingin mendapatkan barang bagus dengan harga terjangkau.

Sebagai catatan, alat tulis seperti buku, pulpen, hingga tempat pensil yang ditawarkan oleh Roni berasal dari agen. Barang-barang tersebut ada yang dibuat oleh produsen lokal maupun impor.

Harga yang ditawarkan Roni cukup bervariasi. Contohnya, buku tulis merek Kiky dibanderol seharga Rp 38 ribu-an sedangkan buku tulis merek SIDU dibanderol seharga Rp 45 ribu-an.

Pelanggan Setia Pasar Asemka

Salah satu pelanggan, Junaenah mengaku setiap liburan sekolah selalu menyempatkan diri mengunjungi Pasar Asemka. Ia memang telah menjadi pelanggan pasar tersebut sejak lama. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, mengingat alat tulis yang ditawarkan di sana cukup beragam dan harganya juga terjangkau.

"Ya aku setiap liburan, alhamdulillah sempetin kesini sih beli peralatan sekolah, ada sampul, terus buku, terus alat tulisnya semua. Ya harganya sih mending ya, dibanding di toko," ucapnya.

Wanita asal Cengkareng ini bilang, kalau di toko ATK biasanya satu buah buku dibanderol seharga Rp 6.000. Namun, di Pasar Asemka ia hanya perlu merogoh kocek Rp 3.500 untuk satu buah buku tulis. Dengan kata lain, ia mengklaim harga buku tulis di Pasar Asemka 50% lebih murah ketimbang di toko ATK biasa.

"Kalau di sini ini Big Boss yang isi 36 lembar itu Rp35.000 berarti kan satunya Rp3.500 ya, isi 10 sih," jelasnya.

Pelanggan setia Pasar Asemka lainnya, Deddy mengaku lebih memilih belanja di Pasar Asemka karena harga produk-produknya lebih murah dibandingkan toko buku yang berada dekat dengan rumahnya di kawasan Teluk Gong, Jakarta Utara.

"Harganya murah, memang lebih murah daripada yang lain. Di tempat saya di Teluk Gong Rp 55.000 satu pack, di sini Rp 48.000 satu pack dengan isi 50 lembar," jelasnya.

Dengan selisih yang cukup lebar, Deddy memutuskan untuk berlanggan membeli alat tulis di Pasar Asemka. Ia juga menyebut membeli alat tulis tersebut untuk dibagikan lagi kepada yang membutuhkan, yakni anak-anak yatim.

Lebih jauh, Deddy mengaku, uang yang dikeluarkan untuk kebutuhan alat tulis tersebut menggunakan dana pribadi yang diperoleh dari gajinya sebagai sopir di salah satu perusahaan di Jakarta.

"Pakai uang pribadi, hasil kerja dari gaji saya, keringat saya," tandas dia.

(wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Pasar Asemka Bangkit dari Kubur, Tapi Kondisi Pedagang Tak Terduga


Most Popular
Features