MARKET DATA
Internasional

Fenomena Baru Dunia: 74 Bank Sentral Mau "Buang Dolar" Ganti ke Sini

sef,  CNBC Indonesia
01 July 2026 14:00
RI Kekeringan Dolar AS
Foto: Dolar AS (Ilham Restu)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lebih banyak bank sentral berencana untuk mengurangi kepemilikan dolar mereka daripada meningkatkannya selama beberapa dekade ke depan. Ini merupakan pertama kalinya terjadi di dunia, menurut survei global terbaru yang dirilis Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF), Selasa.

Fenomena ini mencerminkan peningkatan risiko politik terkait dengan mata uang AS. Temuan muncul di tengah perang Timur Tengah yang sebagian dimulai oleh AS, yang mengacaukan pasar energi global.



Fakta baru tersebut juga terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mencari cara baru untuk memberlakukan tarif. Perlu diketahui tarif membuat dunia menyoroti agenda kebijakan luar negeri Amerika yang semakin tidak dapat diprediksi.

"Ini adalah pertama kalinya survei tersebut menemukan keinginan untuk mengurangi alokasi dolar melebihi niat untuk meningkatkannya sejak survei tersebut mulai mencatat niat investasi bank sentral pada tahun 2023," bunyi laporan tersebut, dimuat CNN International, Rabu (1/7/2026).

Survei ini dilakukan antara bulan Maret dan Mei. Ada sekitar 74 bank sentral di seluruh dunia yang ditelusuri.

Survei semakin memperkuat gejala de-dolarisasi di dunia, yang mencakup pengurangan penggunaan dolar AS dalam perdagangan global dan transaksi keuangan, termasuk pengurangan permintaan terhadap mata uang tersebut dan nilainya. Menurut JPMorgan, pangsa dolar AS dalam cadangan devisa bank sentral turun ke level terendah dalam dua dekade terakhir.

"Tahun ini, geopolitik telah melampaui lingkungan politik AS dalam menghambat investasi dalam dolar, mencerminkan peran AS yang dianggap meningkatkan risiko geopolitik," demikian temuan laporan OMFIF.

Meski begitu, laporan tersebut mencatat bahwa dolar "masih mendominasi portofolio dan diperkirakan akan terus demikian untuk masa mendatang". Dolar AS tetap berada di sekitar 58% dari alokasi bank sentral selama lima tahun terakhir.

Namun, de-dolarisasi yang "bertahap" membuat bank sentral beralih ke Euro dan renminbi alis Yen China. Di mana hampir semua bank sentral yang disurvei berpendapat bahwa renminbi memberikan diversifikasi sementara dua pertiga mengatakan euro telah menjadi lebih menarik untuk digunakan dalam perdagangan global, naik dari 43% tahun lalu.

Permintaan untuk mata uang alternatif, termasuk Dolar Singapura, Won Korea Selatan (Korsel), dan Rand Afrika Selatan (Afsel) juga meningkat. Sementara itu, peningkatan risiko geopolitik mendorong peningkatan permintaan emas, bahkan ketika harganya telah melonjak lebih dari 20% dibandingkan tahun lalu.

"Pergeseran ini didorong oleh perlindungan terhadap risiko geopolitik dan meningkatnya keraguan tentang stabilitas sistem moneter internasional," demikian temuan laporan tersebut.

"Emas telah menjadi pusat strategi untuk mengelola aset negara," tambahnya menyebut sekitar 51% bank sentral menyebutkan perlindungan terhadap risiko geopolitik, naik 11% dari tahun 2024.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Video: Indonesia-Filipina Sepakati Skema Barter Tanpa Dolar AS


Most Popular
Features