Pasar Asemka Tiba-Tiba Bangkit dari Kubur, Ada Apa?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar Pagi Asemka, Tambora, Jakarta Barat mendadak diramaikan sejumlah pengunjung menjelang tahun ajaran baru 2026/2027. Rupanya, masyarakat mulai mencari alat tulis maupun perlengkapan sekolah lainnya.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia pada Selasa (30/6/2026), berbagai alat tulis mulai dari buku, pulpen, spidol pensil, tempat pensil, tipe-x hingga penghapus karet mulai dijajakan di toko. Bukan hanya toko alat tulis kantor (ATK), pedagang alat tulis musiman juga nampak berjamur di sepanjang kolong flyover Asemka.
Salah satu pedagang alat tulis musiman di kawasan Asemka, Budi menuturkan, penjualan alat tulis mulai terlihat sejak dua hari terakhir, akan tetapi belum bisa dikatakan laris manis. Padahal, biasanya pembeli alat tulis semakin bertambah jelang musim tahun ajaran baru tiba.
"Setelah pandemi Covid-19 penjualan alat tulis mulai turun," ungkap Budi saat ditemui CNBC Indonesia.
Budi melanjutkan, ia menjual 1 pak buku tulis dengan merek SIDU senilai Rp 45.000 per pak. Satu pak buku tersebut terdiri dari 10 buku dengan jumlah halaman 38 lembar per buku. Untuk buku tulis merek BigBoss, Budi menjualnya dengan harga Rp 35.000 per pak, di mana 1 pak terdiri dari 10 buku dengan jumlah halaman 50 lembar per buku.
Tidak hanya menjual buku, Budi juga menawarkan alat tulis lainnya seperti pulpen, pensil, pensil warna, kotak pensil, penghapus, rautan pensil hingga krayon.
Beralih ke kios musiman lainnya, Nugroho menyebut, tempat jualan alat tulisnya kerap diramaikan pengunjung menjelang masa liburan sekolah berakhir.
"Biasanya kalau mau rame kayak udah mau masuk sekolah. Kayak udah seminggu lagi baru mulai rame. Sekarang ini belum terlalu rame," ungkapnya.
Pasar Asemka tiba-tiba ramai pembeli. (CNBC Indonesia/Elga Nurmutia) Foto: CNBC Indonesia/Elga Nurmutia |
Dirinya bilang, dalam beberapa hari terakhir, banyak pengunjung yang mencari alat tulis dan pulpen. Biasanya, satu orang bisa membeli dua pak buku tulis dan satu pak pulpen.
Dia juga menyebut, produk alat tulis yang dijualnya diperoleh dari toko ataupun agen. Ia mengklaim, alat tulis tersebut ada yang berasal dari produsen lokal dan impor.
Untuk harganya, Nugroho membanderol buku sekitar Rp 30.000-Rp 40.000-an per pak, sedangkan pulpen dihargai senilai Rp 15.000-Rp 150.000 untuk satu pak.
Nugroho juga menambahkan, produk seperti alat mewarnai seperti krayon dan pensil warna kebanyakan dicari oleh pengunjung dari kalangan orang tua anak-anak PAUD dan TK. Terlepas dari ramainya pengunjung, Nugroho mengaku tidak ingin menaikan harga jualnya lantaran dikhawatirkan akan memberatkan konsumen.
"Enggak dinaikin harganya kasian yang beli," terangnya.
Di lain pihak, Ian pedagang musiman di Pasar Asemka mengaku saat ini penjualan alat tulis belum terlalu moncer. Akan tetapi, dia berharap produk tersebut dapat terjual lebih banyak dalam beberapa waktu ke depan.
Ian bilang, saat ini tempatnya kerap dikunjungi oleh oleh reseller alat tulis maupun konsumen ritel. Biasanya, reseller membeli produk dalam jumlah besar atau lusinan untuk kemudian dijual kembali. Sebaliknya, konsumen ritel biasa membeli produk seperti 2-5 pak buku tulis intuk kebutuhan pribadi atau sekolah.
"Tapi yang udah biasa banyak peminat atau yang udah tau ininya (merek buku tulis) SIDU aja ya. Sinar Dunia paling banyak," kata dia.
Lebih jauh, Ian mengaku biasa berjualan produk-produk yang punya permintaan tinggi secara musiman. Misalnya, ketika periode libur tahun baru, dia menjual kembang api. Adapun ketika masuk libur sekolah, dirinya berjualan produk alat tulis.
Tak hanya itu, Ian menyatakan bahwa alat tulis yang dijualnya ada yang berasal dari produk buatan lokal dan ada yang termasuk produk impor. Sebagai gambaran saja, produk kotak tempat pensil buatan lokal dijual oleh Ian seharga Rp 35.000, sedangkan untuk produk yang sama buatan impor tentu lebih mahal yakni sekitar Rp 65.000.
(wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
