MARKET DATA
Internasional

Pilu di Venezuela, Gempa Kembar Sebabkan Bau Mayat di Mana-Mana

sef,  CNBC Indonesia
01 July 2026 05:30
Keruskan akibat gempa bumi di La Guaira, Venezuela, Jumat (26/6/2026). (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)
Foto: REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria

Jakarta, CNBC Indonesia - Venezuela menghadapi bencana kemanusiaan yang semakin memburuk setelah dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara itu pekan lalu. Di tengah operasi pencarian korban yang terus berlangsung, rumah sakit kewalahan, ribuan warga kehilangan tempat tinggal, sementara aroma mayat yang membusuk mulai menyelimuti kawasan permukiman yang rata dengan tanah.

Pemerintah Venezuela hingga kini melaporkan sedikitnya 1.700 orang meninggal dunia dan lebih dari 5.000 orang mengalami luka-luka akibat gempa yang mengguncang negara tersebut. Namun, Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memperkirakan jumlah korban sebenarnya berpotensi jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai puluhan ribu jiwa.

Harapan menemukan korban selamat pun semakin menipis. Tim penyelamat asal Ekuador pada Senin masih berhasil mengevakuasi seorang anak laki-laki berusia 12 tahun dalam keadaan hidup dari reruntuhan di Negara Bagian La Guaira.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa peluang menemukan penyintas terus mengecil. Ini setelah "golden window" atau masa emas penyelamatan pascagempa telah terlewati.

Di ibu kota Caracas misalnya, bau menyengat dari jasad yang masih tertimbun reruntuhan mulai tercium di berbagai lokasi bangunan yang ambruk. Meski demikian, keluarga korban tetap bertahan di sekitar lokasi dengan harapan anggota keluarganya masih hidup.

Salah satunya adalah Mirella Herrera yang setiap hari menunggu di depan apartemen putranya yang runtuh. Anak, menantu, dan cucunya hingga kini belum ditemukan.

"Saya merasa putra saya masih kuat. Saya yakin dia sedang menunggu kami datang," ujarnya sambil menangis, dimuat CNN International, Rabu (1/7/2026).

Rumah Sakit Kolaps

Sementara itu, bencana ini juga memperlihatkan bagaimana apuhnya sistem kesehatan Venezuela yang telah lama diterpa krisis ekonomi. Di Rumah Sakit Anak Dr. José Manuel de Los Ríos di Caracas, unit perawatan intensif (ICU) kini hanya mampu merawat empat pasien, jauh menurun dibanding kapasitas sebelumnya yang mencapai sepuluh pasien.

"Kami tidak memiliki cukup tenaga medis, obat-obatan maupun ventilator. Bahkan untuk kondisi normal saja kami sudah kesulitan, apalagi menghadapi bencana sebesar ini," kata dokter Huníades Urbina-Medina.

Salah satu pasien yang kini dirawat merupakan anak perempuan berusia 12 tahun yang tertimpa reruntuhan gedung bertingkat. Ia mengalami berbagai cedera berat yang mengancam nyawanya.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingatkan sistem kesehatan Venezuela berada di bawah tekanan luar biasa. Rumah sakit mengalami kelebihan kapasitas pasien, layanan kesehatan berlangsung kacau, sementara pasokan kebutuhan dasar seperti cairan disinfektan dan bahan pembersih semakin terbatas.

Sedikitnya tiga fasilitas kesehatan mengalami kerusakan parah. Sedangkan enam rumah sakit lainnya rusak atau hanya dapat beroperasi sebagian.

Krisis Lama Memperparah Dampak Gempa

Para tenaga medis menilai buruknya kondisi rumah sakit bukan hanya disebabkan gempa. Selama lebih dari satu dekade terakhir, Venezuela menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan akibat salah urus pemerintahan serta sanksi ekonomi dari Amerika Serikat (AS).

Kondisi tersebut memicu eksodus besar-besaran dokter dan tenaga kesehatan ke luar negeri. Sehingga kapasitas layanan kesehatan terus menurun.

Selain sektor kesehatan, dunia pendidikan juga terdampak. Pemerintah memperpanjang penutupan sekolah setelah ratusan gedung pendidikan rusak akibat gempa.

Di Caracas saja, sedikitnya 432 sekolah dilaporkan mengalami kerusakan, sementara sekolah yang masih layak digunakan kini difungsikan sebagai tempat penampungan darurat bagi ribuan warga yang kehilangan rumah. Di sejumlah wilayah, pemerintah menerapkan sistem kode warna untuk menentukan kelayakan bangunan.

Bangunan berlabel hijau dinyatakan aman dihuni, kuning berarti mengalami kerusakan sedang. Sedangkan merah menandakan bangunan tidak lagi aman untuk ditempati.

Meski demikian, ribuan warga masih belum diizinkan kembali ke rumah mereka karena kekhawatiran bangunan sewaktu-waktu dapat runtuh akibat gempa susulan yang masih terus terjadi.

Bagi banyak warga Venezuela, bencana alam kali ini bukan sekadar menghancurkan bangunan, tetapi juga memperlihatkan rapuhnya infrastruktur dan sistem pelayanan publik yang telah lama tergerus oleh krisis berkepanjangan.

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Update Terbaru! Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 1.400 Jiwa


Most Popular
Features