MARKET DATA
Internasional

Trump Jilat Ludah Sendiri, Seluruh SPBU AS Harus Turunkan Harga BBM

tps,  CNBC Indonesia
30 June 2026 20:00
Presiden AS Donald Trump memberi isyarat saat ia meninjau pesawat VC-25B yang dihadiahkan oleh Qatar yang akan digunakan sebagai Air Force One, di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, Jumat (19/6/2026). (REUTERS/Elizabeth Frantz)
Foto: Presiden AS Donald Trump memberi isyarat saat ia meninjau pesawat VC-25B yang dihadiahkan oleh Qatar yang akan digunakan sebagai Air Force One, di Pangkalan Gabungan Andrews, Maryland, AS, Jumat (19/6/2026). (REUTERS/Elizabeth Frantz)

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bak 'menjilad ludahnya sendiri". Setelah mengaku cuek dengan kenaikan harga BBM di Amerika, kini, ia memerintahkan seluruh pengecer bahan bakar minyak (BBM) di negaranya untuk segera menurunkan harga bensin.

Melalui pernyataan tegasnya, Trump memperingatkan akan adanya konsekuensi hukum dan masalah besar jika para pelaku usaha nekat "melakukan praktik katrol harga ilegal di stasiun pengisian bahan bakar". 
Mengutip laporan Al Jazeera, Selasa (30/6/2026), intervensi pasar sepihak dari Gedung Putih ini mencuat di tengah lonjakan harga bensin domestik pasca-pecahnya perang AS-Israel melawan Iran.

Trump pun mendesak para pemilik pompa bensin untuk segera merespons peringatannya dan mematok target harga baru. Harga BBM hanya boleh di kisaran US$2,50 (Rp40.850) per galon demi meringankan beban masyarakat.

"Pengecer Bensin harus menurunkan Harga mereka, SEGERA. Tidak akan ada aksi dongkrak harga (gouging) yang mana itu sepenuhnya ilegal. Jika Pengecer tidak melakukan ini, masalah besar menanti di depan! Mulailah menargetkan angka sekitar US$ 2,50 per Galon," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.

"Para Pengecer harus cepat bereaksi terhadap pernyataan ini, dan melakukan apa yang mereka tahu benar - TURUNKAN HARGA ANDA UNTUK RAKYAT AMERIKA KITA YANG LUAR BIASA!," tambah Trump dalam unggahan yang sama.

Secara khusus, Trump membidik wilayah California dan mendesak otoritas setempat untuk memotong pajak bensin mereka yang dinilai terlampau tinggi. Kebijakan pajak tersebut dinilai Trump telah menyengsara masyarakat setempat, mengingat Gubernur California Gavin Newsom yang berasal dari Partai Demokrat merupakan salah satu kritikus paling keras terhadap Trump, terutama terkait ambisi California beralih ke jaringan listrik netral karbon dalam 20 tahun ke depan.

"Segera besaran Pajak akan lebih tinggi daripada Produk itu sendiri, dan Amerika Serikat tidak akan membiarkannya, begitu pula Rakyat California, yang sedang dilecehkan oleh Pajak konyol ini, dan oleh Pemerintah mereka sendiri," kecam Trump.

Guna mendongkrak pasokan bahan bakar domestik, pemerintahan Trump bahkan telah menggunakan kewenangan darurat untuk mengaktifkan kembali pipa minyak di California yang sempat ditutup sejak tahun 2015 akibat kebocoran massal. Tidak hanya menyasar pengecer kecil, Trump pada pekan lalu juga mengonfirmasi telah memerintahkan Departemen Kehakiman (DOJ) untuk menyelidiki korporasi minyak raksasa karena enggan menurunkan harga di tingkat konsumen saat biaya pengadaan minyak mentah dunia sebenarnya sudah anjlok pasca-perundingan damai.

"Perusahaan Minyak besar tidak menurunkan harga mereka di pompa bensin sebanding dengan penurunan tajam harga yang mereka bayar untuk Minyak. Harga-harga itu turun seperti batu! Dengan kata lain, pelanggan sedang 'diperas'. Saya telah menginstruksikan Departemen Kehakiman untuk segera mulai menyelidiki hal ini," ungkap Trump pada Rabu lalu.

Tekanan politik yang dilayangkan Trump ini dinilai para analis erat kaitannya dengan persiapan menghadapi pemilihan paruh waktu AS pada November mendatang. Adapun di tengah hujan kritik dari publik AS terkait dampak pembengkakan biaya hidup akibat perang Iran, Trump berulang kali meyakinkan bahwa harga bahan bakar akan segera merosot tajam setelah konflik di Timur Tengah usai, meskipun sejumlah pakar ekonomi menyanggah klaim tersebut dan memprediksi dampak inflasi jangka panjang yang jauh lebih berat bagi ekonomi AS.



 

(luc/șef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina Per 1 Juni 2026, Diesel Turun


Most Popular
Features