MARKET DATA
Internasional

6 Update Perang AS-Iran yang Belum Tamat, Israel Bom Negara Arab Baru

sef,  CNBC Indonesia
30 June 2026 14:01
Sejumlah kendara bermotor melewati papan reklame anti-AS yang menggambarkan Presiden AS Donald Trump dan Selat Hormuz, di Teheran, Iran, 17 Mei 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS
Foto: Sejumlah kendara bermotor melewati papan reklame anti-AS yang menggambarkan Presiden AS Donald Trump dan Selat Hormuz, di Teheran, Iran, 17 Mei 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas. Akhir pekan kemarin, kedua belah pihak saling serang, memperburuk gencatan senjata yang rapuh.

Diketahui pada Jumat, AS mengatakan bahwa Iran menyerang sebuah kapal di Selat Hormuz. Hal ini terjadi usai lembaga PBB, IMO, mengaku melakukan evakuasi kapal-kapal ke Selat Hormuz, namun tak diakui Iran yang mengancam melakukan serangan.

Sabtu di media sosialnya Truth Social, Presiden AS Donald Trump kemudian me-warning serangan ke Iran. Ia mengatakan AS mungkin terpaksa mengambil tindakan militer lebih lanjut jika Teheran terus melancarkan serangan.

Meski begitu, Senin waktu AS, Trump mengatakan akan ada potensi pertemuan AS dan Iran di Doha, Qatar Selasa ini. Ia mengatakan "Iran telah meminta pertemuan" di media sosialnya.

Lalu bagaimana update AS-Iran kini? Berikut rangkuman CNBC Indonesia Selasa (30/6/2026) siang, dari berbagai sumber.

1.Iran Mengatakan Tak Ada Pembicaraan Doha

Iran mengatakan bahwa tidak ada pertemuan negosiasi yang dijadwalkan dengan AS, di mana pun dalam beberapa hari mendatang. Teheran ujarnya, tetap fokus pada implementasi nota kesepahaman (MOU) yang sudah ditandatangani kedua belah sebelumnya, alih-alih beralih ke pembicaraan baru.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei dan tim negosiasinya, mengatakan prioritas Iran saat ini adalah memastikan implementasi ketentuan MOU. Ia menekan tuntutan berdasarkan kesepakatan terealisasi.

Meski begitu merujuk lembaga penyiaran Teheran, Republik Islam Iran (IRIB), Baghaei mengatakan AS telah mengeluarkan izin yang diperlukan terkait dengan Klausul 10, yang mencakup penjualan minyak, dan Iran sedang menindaklanjuti implementasinya. Ia mengatakan implementasi Klausul 11, yang terkait dengan pelepasan aset Iran yang dibekukan, juga sedang diupayakan.

"Dalam konteks itu, delegasi ahli dari Iran akan melakukan perjalanan ke Doha akhir pekan ini," katanya.

Baghaei juga menegaskan Iran dan AS belum memasuki tahap negosiasi perjanjian akhir. Berdasarkan Klausul 13 memorandum tersebut, katanya, pembicaraan tentang perjanjian akhir hanya dapat dimulai setelah implementasi Klausul 1, 4, 5, 10, dan 11 dimulai, dan ketentuan-ketentuan tersebut terus dilaksanakan.

Perlu diketahui berikut keterangan lengkap soal poin 1,4,5, 10 dan 11 AS-Iran sesuai MOU yang ditandatangani virtual 18 Juni.

Poin 1:

Amerika Serikat dan Republik Islam Iran serta sekutunya dalam perang saat ini, dengan menandatangani MOU ini, menyatakan penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon, dan berjanji mulai sekarang untuk tidak memulai perang atau operasi militer apa pun terhadap satu sama lain, dan menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekuatan terhadap satu sama lain dan memastikan integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon. Kesepakatan akhir akan mengkonfirmasi penghentian perang secara permanen di semua lini, termasuk di Lebanon dan ketentuan lain dalam paragraf ini.

Poin 4:

Segera setelah penandatanganan MOU ini, Amerika Serikat akan mulai menghapuskan blokade lautnya dan segala gangguan atau hambatan terhadap Republik Islam Iran, dan akan mengakhiri blokade laut sepenuhnya dalam waktu 30 hari. Selama periode ini, lalu lintas kapal akan sebanding dengan jumlah lalu lintas sebelum perang yang dipulihkan oleh Republik Islam Iran. Amerika Serikat selanjutnya berjanji untuk menarik pasukannya dari wilayah Republik Islam Iran dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan akhir.

Poin 5:

Setelah penandatanganan MOU ini, Republik Islam Iran akan melakukan pengaturan dengan upaya terbaiknya untuk jalur yang aman bagi kapal-kapal komersial tanpa biaya selama 60 hari hanya dari Teluk Persia ke Laut Oman dan sebaliknya. Lalu lintas kapal komersial akan segera dimulai, dan mengingat kebutuhan untuk menghilangkan hambatan teknis dan militer serta penghapusan ranjau oleh Republik Islam Iran, akan diberlakukan dalam waktu 30 hari. Republik Islam Iran akan melakukan dialog dengan Kesultanan Oman untuk menentukan pemerintahan masa depan dan layanan maritim di Selat Hormuz, dalam diskusi dengan negara-negara pesisir Teluk Persia lainnya sejalan dengan hukum internasional yang berlaku dan hak kedaulatan negara-negara pesisir Selat Hormuz.

Poin 10:
Amerika Serikat berjanji bahwa segera setelah penandatanganan MOU ini dan hingga berakhirnya sanksi, Departemen Keuangan AS akan mengeluarkan keringanan untuk ekspor minyak mentah Iran, produk minyak bumi dan turunannya, serta semua layanan terkait, termasuk transaksi perbankan, asuransi, transportasi, dan lain-lain.

Poin 11:
Amerika Serikat berjanji untuk menyediakan sepenuhnya dana dan aset Republik Islam Iran yang dibekukan atau dibatasi penggunaannya. Setelah MOU ini diimplementasikan, Amerika Serikat dan Republik Islam Iran akan saling menyepakati prosedur terkait pencairan dana tersebut selama negosiasi. Dana tersebut, baik yang disimpan di rekening awal atau ditransfer, akan dapat digunakan sepenuhnya untuk pembayaran kepada penerima akhir yang ditunjuk oleh bank sentral Republik Islam Iran. Amerika Serikat berjanji untuk mengeluarkan semua lisensi dan otorisasi yang diperlukan.

2.Lalu Lintas Selat Hormuz

Lebih dari dua lusin kapal komersial transit di Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, menurut data MarineTraffic, merujuk CNN International. Kapal-kapal tersebut termasuk enam kapal tanker dan delapan kapal kargo yang keluar dari Teluk Persia dan lima kapal tanker dan enam kapal kargo yang memasukinya.

Angka-angka ini konsisten dengan tingkat penyeberangan yang terlihat dalam beberapa hari terakhir, karena laju pelayaran terus melambat. Sebelum perang, rata-rata sekitar 110 kapal melintasi selat tersebut setiap hari.

Beberapa bulan setelahnya, selat tersebut telah mengalami spoofing GPS yang intens- suatu bentuk gangguan sistem navigasi yang menyebabkan posisi siaran kapal muncul di lokasi yang salah. Spoofing telah mereda secara nyata dalam beberapa minggu terakhir.

3.Utusan Khusus AS Dilaporkan Terbang ke Qatar

Di tengah penolakan Iran terhadap adanya pembicaraan di Doha har ini, Utusan Khusus AS Steve Witkoff dilaporkan kini sedang dalam perjalanan ke Qatar. Dua pejabat AS mengatakan kepada CNN International.

"Belum jelas apakah Witkoff pergi dengan menantu Trump, Jared Kushner," lapor laman itu.

Trump sendiri mengatakan pada Senin pagi bahwa AS akan bertemu dengan Iran di Doha hari ini. Sementara itu, seorang pejabat senior AS mengatakan pada akhir pekan bahwa pembicaraan teknis mengenai MOU 18 Juni, berjalan sesuai rencana, meskipun terjadi baku tembak baru-baru ini.

4.Harga Minyak Jatuh

Harga minyak dunia kembali turun karena investor fokus pada kemungkinan pembicaraan AS-Iran di Doha, Qatar. Minyak mentah Brent yang jadi patokan internasional misalnya, turun untuk kontrak Agustus menjadi US$72,51 per barel, sekitar 22% lebih rendah dari penutupan bulan lalu.

5.Kesepakatan Baru Iran-Oman soal Hormuz

Iran dan Oman mengadakan pertemuan pertama komite gabungan di Selat Hormuz. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur perairan yang penting bagi energi dunia, terletak diapit Iran dan Oman.

Merujuk laporan Al-Jazeera, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan kedua pihak bertukar pandangan mengenai pengelolaan masa depan selat tersebut.

Gharibabadi kemudian mengatakan kepada media pemerintah Iran bahwa Teheran dan Muscat telah mencapai "pemahaman yang sama" mengenai pengelolaan jalur air tersebut.

Dia mengatakan bahwa Oman pun mendukung keterlibatan dalam pengaturan ini sebagai negara pantai yang memiliki hak berdaulat, bahkan percaya bahwa biaya harus dipungut sebagai imbalan atas layanan yang diberikan. Gharibabadi juga mengatakan komite teknis akan dibentuk antara kedua negara.

"Para ahli akan memulai diskusi khusus dalam waktu tujuh hingga delapan hari untuk menyiapkan naskah dan menegosiasikan rute pengiriman," tegasnya.

Masa depan Selat Hormuz telah menjadi permasalahan utama antara Iran dan AS. Teheran ingin mengenakan biaya layanan bagi yang melalui selat tersebut berkoordinasi dengan Oman, sementara Washington menentang pungutan apa pun.

Posisi Oman masih ambigu. Pekan lalu, Iran dan Oman bersama-sama mengatakan bahwa mereka sedang mempertimbangkan biaya yang terkait dengan pengelolaan selat tersebut, namun Oman kemudian mengatakan bahwa tidak ada "biaya perjalanan" yang direncanakan, dan mengumumkan "koridor maritim sementara" yang dikoordinasikan oleh PBB di dekat pantainya.

6.Israel Serang Negara Arab Baru: Suriah

Israel kembali menyerang negara Arab baru. Setelah Gaza, Palestina dan Lebanon, kini Israel menyerang Suriah.

Pemerintah Suriah mengutuk serangan Israeldi wilayah selatannya Minggu. Akibat serangan tersebut penduduk di dekat Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Kementerian Luar Negeri Suriah dengan tegas mengutuknya dan menyebut serangan itu "agresi Israel". Ia mengatakan Israel telah melakukan "pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Suriah".

Serangan terbaru terjadi di Abdin, sebuah desa di provinsi Deraa barat, di mana penduduk berusaha untuk menghalangi majunya unit tentara Israel.

Pasukan Israel kemudian menembakkan peluru artileri di dekat rumah-rumah warga sipil, dengan keluarga-keluarga melarikan diri ke desa-desa tetangga pada malam hari.

"Peluru (kemudian) jatuh di dekat rumah-rumah," kata Mahmoud Mouaffak, seorang tokoh desa.

"Pasukan Israel mundur, memungkinkan kembalinya ketenangan dan kembalinya penduduk pada Senin pagi," tambahnya.

Israel telah mengintensifkan serangan dan penyusupannya ke Suriah selatan sejak jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad pada akhir tahun 2024. Israel telah memindahkan pasukan ke zona penyangga yang dipantau PBB yang memisahkan pasukan Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan, yang diduduki Israel sejak 1967, dan lebih jauh ke dalam wilayah Suriah.

Israel mengatakan pada hari Minggu bahwa mereka telah membunuh "beberapa teroris bersenjata" sehari sebelumnya, tanpa memberikan angka, menentukan lokasi, atau bukti apa pun. Israel secara rutin menggambarkan warga Suriah yang melawan pendudukan mereka sebagai "teroris".

(sef/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Deal Baru AS-Iran: Minyak Iran Bebas Meluncur, Hormuz Diambil Alih


Most Popular
Features