MARKET DATA

Rancangan Awal APBN 2027: Ekonomi Tumbuh 6,5%, Butuh Dana Rp8.743,45 T

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
30 June 2026 07:05
Ketua Badan Anggaran DPR RI, MH Said Abdullah dan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa Dalam Rapat Paripurna DPR  RI, ke-5 Masa Persidangan 1 Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (23/9/2025). (CNBC Indonesia/Muha
Foto: Ketua Badan Anggaran DPR RI, MH Said Abdullah dan Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa Dalam Rapat Paripurna DPR RI, ke-5 Masa Persidangan 1 Tahun Sidang 2025-2026 di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (23/9/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Panitia Kerja (Panja) penyusunan asumsi dasar ekonomi makro untuk APBN 2027 yang terdiri dari DPR dan pemerintah di Badan Anggaran (Banggar) DPR menyepakati target pertumbuhan ekonomi pada tahun depan di kisaran 5,8%-6,5%.

Laju pertumbuhan itu didukung oleh indikator ekonomi makro yang stabil, seperti inflasi di kisaran 1,5%-3,5%, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat Rp 16.800-17.500, serta tingkat suku bunga SBN 10 tahun 6,5-7,3%.

Sementara itu, untuk harga minyak mentah Indonesia (ICP) disepakati panja akan berada pada kisaran US$70-95/barel, lifting minyak bumi 605-620 ribu barel per hari, serta lifting gas bumi 951-990 ribu barel setara minyak per hari.

Dalam dokumen kesepakatan panja, disebutkan penyusunan khusus untk Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Tahun 2027 mempertimbangkan situasi geopolitik, perkembangan ekonomi global dan domestik serta berbagai peluang dan risiko yang berpotensi mempengaruhi kinerja perekonomian nasional.

Termasuk mempertimbangkan efektivitas bauran kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi.

"Panja memandang penting proyeksi pertumbuhan ekonomi yang lebih optimistis yang didukung oleh transformasi struktural ekonomi sebagai fondasi mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sebagaimana dicita-citakan oleh Presiden Prabowo Subianto," dikutip dari dokumen laporan panja, Selasa (30/6/2026).

Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi hingga 6,5% pada 2027, panja menyepakati sejumlah langkah strategis, di antaranya menjaga pertumbuhan konsumsi rumah tangga lebih tinggi pada kisaran 5,3-5,6%.

"Untuk mencapai target tersebut, pemerintah perlu menyempurnakan kebijakan bantuan sosial atau subsidi agar lebih tepat sasaran, mendorong perluasan lapangan kerja, dan pengendalian inflasi, terutama pada kelompok makanan, transportasi, pendidikan, dan kesehatan," sebagaimana tertera dalam dokumen laporan panja.

Memperbaiki iklim usaha juga menjadi strategi kunci, dengan memperbaiki ease of doing business, menurunkan biaya logistik, memberikan fasilitas perpajakan dan kepabeanan, serta memberikan kepastian hukum.

Sejumlah langkah ini diharapkan mendorong minat investasi, sehingga pertumbuhan investasi pada kisaran 6,5-7,5%. Adapun total nilai kebutuhan dana investasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat pada tahun depan ditetapkan di kisaran Rp8.666,60 triliun sampai dengan Rp8.743,45 triliun.

Terdiri dari target investasi pemerintah Rp417,85 triliun-Rp499,74 triliun, investasi BUMN Rp309,71 triliun-Rp350,17 triliun, investasi swasta Rp918,39 triliun-Rp1.128,96 triliun, penerbitan saham Rp83,27 triliun-84,37 triliun, penerbitan obligasi korporasi Rp185,67 triliun-Rp187,32 triliun, serta dana internal masyarakat Rp6.751,71 triliun-Rp6.492,89 triliun.

"Peran investasi dari pemerintah relatif terbatas sehingga perlu memberdayakan investasi dari swasta secara signifikan. Di sisi lain, Danantara memiliki peran besar dalam mendorong peningkatan investasi berkualitas pada BUMN serta berkontribusi ke investasi swasta," menurut catatan Panja.

Panja juga sepakat memperkuat peran dan kontribusi BPI Danantara dalam hal investasi nasional yang dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Optimalisasi peran Danantara ini didorong untuk mempercepat investasi pada sektor-sektor strategis yang dapat memperkuat daya saing Indonesia dalam rantai pasok global dan menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas.

Panja juga mendorong strategi membangkitkan kembali kemampuan industri nasional yang bertumpu pada kapastitas dan keunggulan domestik. Dua strategi penting yang perlu dijalankan adalah dengan memperluas dan memperdalam cakupan program hilirisasi, dan membangun prioritas industri nasional yang tidak dimiliki dan dikuasai negara lain, namun tetap menjadi bagian dari rantai pasok industri global.


Kebijakan industri mereka anggap perlu didukung dengan berbagai fasilitas, seperti perpajakan, kepabeanan, perizinan, dukungan fasilitas pendanaan, dan sumber daya manusia. Mereka mengharapkan strategi ini dapat meningkatkan neracа ekspor nasional pada kisaran 7,1-8,8%.

Adapun target pertumbuhan sektor produksi utama sebagai berikut:

Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan target pertumbuhan sebesar 5,3 - 5,8 persen.

Pertambangan dan Penggalian dengan target pertumbuhan sebesar 2,1 - 2,7 persen.

Industri Pengolahan dengan target pertumbuhan sebesar 5,9 - 6,6 persen.

Pengadaan Listrik dan Gas, dan Air Bersih dengan target pertumbuhan sebesar 3,4 - 3,7 persen.

Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Daur Ulang dengan target pertumbuhan sebesar 1,1 - 1,2 persen.

Konstruksi dengan target pertumbuhan sebesar 5,3 - 6,4 persen.

Perdagangan Besar dan Eceran, dan Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dengan target pertumbuhan sebesar 6,4 - 6,7 persen.

Transportasi dan Pergudangan dengan target pertumbuhan sebesar 8,7 - 9,3 persen.

Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum dengan target pertumbuhan sebesar 9,3 - 9,7 persen.

Informasi dan Komunikasi dengan target pertumbuhan sebesar 7,9 - 8,8 persen.

Jasa Keuangan dan Asuransi dengan target pertumbuhan sebesar 4,6 - 5,1 persen.

Real Estate dengan target pertumbuhan sebesar 3,9 - 4,4 persen.

Jasa Perusahaan dengan target pertumbuhan sebesar 4,6 - 5,1 persen.

Administrasi Pemerintahan, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib dengan target pertumbuhan sebesar 3,3 - 3,9 persen.

Jasa Pendidikan dengan target pertumbuhan sebesar 6,2 - 7,1 persen.

Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dengan target pertumbuhan sebesar 6,7 - 7,7 persen.

Jasa Lainnya dengan target pertumbuhan sebesar 10,7 - 12,3 persen.

(arj/arj) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Tok! Komisi XI DPR RI & Purbaya Sepakati KEM-PKF 2027


Most Popular
Features