MARKET DATA
Internasional

Update Korban Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas-68.900 Masih Hilang

tps,  CNBC Indonesia
29 June 2026 07:10
Keruskan akibat gempa bumi di La Guaira, Venezuela, Jumat (26/6/2026). (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)
Foto: REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah korban tewas akibat gempa bumi kembar berkekuatan 7,2 dan 7,5 skala richter yang mengguncang Venezuela melonjak tajam menjadi 1.430 jiwa. Otoritas parlemen nasional melaporkan bahwa bencana alam dahsyat tersebut juga melukai sedikitnya 3.200 orang dan menyebabkan 3.100 warga kehilangan tempat tinggal serta 68.900 orang dilaporkan hilang oleh keluarga mereka.

Mengutip laporan Guardian, Senin (29/06/2026), proses pencarian korban selamat di bawah reruntuhan gedung yang rata dengan tanah terus berjalan dalam situasi kritis. Petugas penyelamat dibantu warga lokal di wilayah terdampak paling parah, La Guaira dan kota pesisir Caraballeda, terpaksa menggali puing bangunan menggunakan sekop hingga tangan kosong demi mengevakuasi korban, termasuk penyelamatan dramatis seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun yang ditemukan dalam kondisi hidup.

"Beberapa menit yang lalu seorang anak laki-laki berusia 11 tahun diselamatkan hidup-hidup di Caraballeda. Saat ini, setiap nyawa adalah sumber harapan bagi Venezuela," ungkap Presiden Interim Delcy Rodriguez melalui akun media sosial resminya pada hari Sabtu.

Dampak kehancuran infrastruktur akibat gempa beruntun dalam hitungan menit pada rabu (24/06/2026) malam itu diperkirakan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memicu kerugian hingga US$ 6,7 miliar (Rp 119,5 triliun) atau setara 6% dari produk domestik bruto (PDB) Venezuela. Guna mengamankan situasi, pemerintah mengerahkan 14.000 personel militer dan polisi untuk berpatroli serta memblokir akses masuk di zona bencana.

Bantuan internasional dari Meksiko, AS, Brasil, El Salvador, Prancis, Belanda, Turki, dan Inggris telah mendarat di lokasi untuk memperkuat pencarian, namun kendala logistik membayangi setelah Bandara Internasional Simon Bolivar rusak parah. Tim penyelamat spesialis Inggris dari badan amal Serve On bahkan tertahan di Bandara Madrid selama lebih dari 24 hari akibat pembatalan penerbangan sipil.

"Hal-hal seperti ini selalu kritis terhadap waktu. Kami adalah tim ringan dan dapat bergerak cepat. Semakin cepat Anda tiba di sana, semakin besar peluang Anda untuk menyelamatkan nyawa," kata pemimpin tim Inggris, Vernon Young.

Sementara itu, pihak Departemen Luar Negeri AS melalui pejabatnya, Jeremy Lewin, menyatakan militer AS siap membantu koordinasi penerbangan logistik, rumah sakit bergerak, serta mengerahkan kapal angkut Angkatan Laut AS di lepas pantai untuk menampung korban luka. Berdasarkan data evakuasi, sejumlah warga negara asing dikonfirmasi ikut tewas dalam bencana ini, meliputi 15 warga Portugal, 7 warga China, 5 warga Spanyol, 2 warga Brasil, dan satu warga ganda Italia-Venezuela.

"Orang-orang terjebak di bawah reruntuhan, dan prioritasnya adalah membawa tim pencari dan penyelamat serta para profesional medis dan lainnya kepada mereka secepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa," tegas Lewin yang menyebut situasi ini sebagai pacuan melawan waktu.

Ruang Jenazah di Caracas Kewalahan

Tekanan berat akibat lonjakan korban jiwa kini bergeser ke fasilitas forensik dan rumah duka di ibu kota Caracas. Jenazah para korban terus berdatangan tanpa henti menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, hingga bak terbuka truk pikap karena kamar jenazah di pusat bencana La Guaira telah runtuh total.

Fasilitas kamar jenazah Bello Monte di Caracas kini dilaporkan kewalahan dan dipadati oleh ratusan kerabat yang menangis sembari menunggu giliran mengidentifikasi anggota keluarga mereka melalui foto. Salah satu warga, Marjorie Cedeño, harus kehilangan ibu, ayah, dan saudaranya sekaligus setelah apartemen empat lantai mereka runtuh total di kawasan elite Los Palos Grandes.

"Itu sangat mengerikan di dalam sana. Anda tidak bisa membayangkan betapa kewalahannya tempat itu... Ini adalah sesuatu yang tidak Anda harapkan terjadi pada siapa pun. Ini adalah tragedi yang tak terayangkan," keluh Cedeño saat mengurus jenazah saudaranya.

Kisah memilukan juga menimpa seorang warga La Guaira, María Elena Moreno, yang sempat berhasil dievakuasi hidup-hidup dari puing apartemen 10 lantai miliknya pada Kamis dini hari. Namun, kepanikan massal akibat isu tsunami palsu yang menyebar luas di media sosial membuat penanganan medisnya terlambat di luar ruangan.

"Ketika mereka akhirnya memindahkannya ke rumah sakit, dia tiba dalam keadaan meninggal," tutur kerabat korban, Belkis Cedeño.

Merespons krisis ruang jenazah tersebut, mantan Presiden Asosiasi Rumah Duka Nasional Venezuela, Edgar Hernández, mengonfirmasi bahwa para pengusaha pemakaman di seluruh negeri telah menyumbangkan lebih dari 200 peti mati dan kantong mayat. Sejumlah sukarelawan mahasiswa psikologi juga dikerahkan di sekitar fasilitas Bello Monte untuk memberikan konseling emosional bagi keluarga yang berduka.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Update Terbaru! Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 1.400 Jiwa


Most Popular
Features