BKPM Buka-Bukaan Soal Potensi Besar Hilirisasi Sektor Non-Tambang
Jakarta, CNBC Indonesia - Agenda hilirisasi rupanya tak hanya berlaku untuk sektor pertambangan. Sektor lain pun menawarkan berbagai potensi dalam proses hilirisasi.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Todotua Pasaribu menyebut hilirisasi diterapkan untuk mendapatkan nilai tambah dari berbagai komoditas di dalam negeri. Agenda hilirisasi juga dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, hingga transfer knowledge.
"Kita sama-sama memahami sumber daya alam kita di sektor mineral, batu bara, oil, dan gas, ini suatu saat akan habis. Tetapi, sumber-sumber daya alam kita juga dengan potensi kita yang sangat besar berbicara di sektor agrikultur, perkebunan, kehutanan,"jelas Todotua dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dengan tema 'Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian', Rabu (24/6/2026).
Untuk sektor agrikultur Indonesia memiliki potensi kelapa sawit. Menurut dia, komoditas ini nantinya dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.
"Kita masuk kepada konsep B40, bahkan sekarang kita mau masuk ke konsep B50. Karena kenapa? Kita punya kekuatan terhadap CPO-nya, pemanfaatannya," terang Todotua.
Tak hanya dari sawit, energi terbarukan seperti biofuel atau etanol sebagai alternatif bensin dan gas juga bisa diperoleh dari berbagai jenis produk agrikultur yang mengandung glukosa.
"Tebu, jagung, cassava, singkong, bahkan aren kita di sini, sorgum, ya kan," tambah dia.
Lebih lanjut, pemerintah tengah menetapkan mandatory jenis bahan bakar E20 atau bioetanol. Bahan bakar jenis bensin dengan campuran bioetanol sebesar 20% ini akan diimplementasikan pada 2028 nanti.
"Apabila kita akan menuju ke sana, kurang lebih sekitar konsolidasi 5 juta etanol. Konsolidasi plan yang ada di Indonesia itu kurang lebih sekitar 120 ribuan," ungkap dia.
Menurut dia, pemerintah akan melakukan groundbreaking untuk pabrik etanol di Provinsi Lampung pada Agustus mendatang. Pabrik ini memiliki total 240 ribu konsolidasi.
"Kenapa di Lampung? Karena di Lampung punya semuanya. Di Lampung itu punya semuanya sumber. Di sana penghasil singkong terbesar, jagung, ya kan?" ujar dia.
Dia juga menyampaikan mengenai agenda hilirisasi perikanan. Menurut dia pemerintah akan mendorong industri galangan kapal untuk memaksimalkan potensi ikan di perairan Indonesia.
Pemerintah pun telah memberikan dukungan berupa 1.500 kapal tangkap melalui program Kampung Nelayan.
"Kampung nelayan. Ini kan program-program kita untuk meng-upscale. Ya kan? Yang apa namanya terhadap potensi-potensi. Kita sudah harus melihat itu," tegas dia.
(dpu/dpu) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]