Kontribusi Investasi Capai 30% ke Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri (Wamen) Investasi dan Hilirisasi/ Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu menyebutkan bahwa investasi menyumbang sekitar 30% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional hingga kuartal I-2026.
Sebagai pengingat, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Untuk menuju pertumbuhan 8%, terdapat angka konsolidatif sekitar Rp 13.000 triliun yang dirancang dalam 5 tahun mendatang dalam bentuk realisasi investasi.
"Di mana di situ ada angka konsumsi nasional sebesar 55%, angka realisasi investasi ini sekarang 29% sekian menuju 30%, dan kemudian ada angka serapan ekspor kurang lebih sekitar 20-22%, dan yang terakhir adalah government spend. Jadi, ini yang memang kami, kebetulan di Kementerian Investasi dan Hilirisasi, salah satu KPI kami adalah bagaimana kami bisa memanage daripada angka pertumbuhan realisasi investasi," ujar dia dalam Economic Update 2026 CNBC Indonesia dengan tema 'Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian', Rabu (24/6/2026).
Dari sisi capaian, realisasi investasi pada 2025 lalu berhasil mencapai di atas target sekitar Rp 1.931 triliun. Selanjutnya, realisasi investasi pada kuartal I-2026 juga sudah mencapai target yang ditentukan pemerintah.
Sejauh ini, Todotua bilang, pihaknya optimistis terhadap tren positif investasi nasional bakal terus berlanjut. Hal ini didorong oleh upaya perbaikan iklim investasi yang baik, penyederhanaan perizinan, hingga penguatan sistem Online Single Submission (OSS).
"Hilirisasi ini kan, ini adalah konteks yang masuk dalam Asta Cita. Asta Cita adalah bagan besar daripada konsep yang dipersiapkan oleh pemerintahan sekarang dalam satu masa periode pemerintahannya, di mana Hilirisasi adalah konteks di situ, dan juga dalam sektor hilirisasi ini, memang kontribusi terhadap realisasi investasinya cukup signifikan," jelasnya.
Dirinya bilang, sektor mineral masih menjadi salah satu penyumbang terbesar realisasi investasi, khususnya untuk komoditas nikel, tembaga, dan bauksit seiring adanya program hilirisasi. Akan tetapi, pemerintah menegaskan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia tidak hanya berfokus pada mineral, melainkan juga mencakup sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas, hingga perikanan dan kelautan.
"Ada angka kurang lebih sekitar Rp 147 triliunan berbicara terhadap realisasi di Q1 dan ini growth-nya, year-on-year-nya ini tumbuh 8,2%. Nah, Hilirisasi ini kan sebenarnya konteksnya beberapa hal," ungkap dia.
Lebih jauh, Todotua mengungkapkan bahwa hilirisasi memberikan sejumlah manfaat strategis. Misalnya, peningkatan nilai tambah sumber daya alam, penciptaan lapangan kerja, hingga transfer teknologi. Kebijakan hilirisasi tentu juga diharapkan mampu memperkuat kemandirian ekonomi nasional.
Tak hanya itu, hilirisasi dinilai menjadi fondasi penting dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Dengan memperkuat rantai pasok industri di dalam negeri, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan daya saing sekaligus menciptakan iklim bisnis yang lebih berkelanjutan di masa depan.
source on Google [Gambas:Video CNBC]