MARKET DATA
Internasional

Survei Terbaru Warga AS: Trump bak "Macan Ompong", Diragukan Sana-sini

luc,  CNBC Indonesia
24 June 2026 08:05
Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato di Rockland Community College di Suffern, New York, AS, 22 Mei 2026. (REUTERS/Kylie Cooper)
Foto: Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato di Rockland Community College di Suffern, New York, AS, 22 Mei 2026. (REUTERS/Kylie Cooper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dukungan publik Amerika Serikat terhadap perang yang dilancarkan Presiden Donald Trump terhadap Iran terus merosot. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan hanya satu dari empat warga AS yang menilai konflik tersebut sepadan dengan biaya yang telah dikeluarkan, sementara mayoritas responden meragukan bahwa gencatan senjata dan kesepakatan dengan Teheran akan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Survei yang berlangsung selama lima hari dan berakhir pada Senin (22/6/2026) itu juga memperlihatkan dampak politik yang signifikan bagi Trump. Tingkat persetujuan publik terhadap kinerja presiden turun menjadi 34%, menyamai titik terendah masa jabatan keduanya yang sebelumnya tercatat dalam survei Reuters/Ipsos pada April lalu.

Temuan tersebut muncul ketika pemerintahan Trump berupaya mempertahankan dukungan terhadap kesepakatan awal yang ditandatangani dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 17 Juni lalu. Kesepakatan tersebut bertujuan membuka kembali jalur pengiriman minyak dan gas yang sempat terhenti akibat perang serta melonggarkan sebagian tekanan ekonomi yang dipimpin AS terhadap Iran.

Meski perjanjian itu membantu menekan harga minyak mentah dunia secara cepat, banyak warga Amerika masih belum merasakan manfaat langsungnya. Harga bahan bakar di AS tetap jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang menjadi awal pecahnya perang.

Hasil survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya 24% warga AS yang menganggap perang melawan Iran sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan. Sebaliknya, sekitar setengah responden menyatakan konflik tersebut tidak layak dilakukan, sementara sisanya mengaku tidak yakin.

Pandangan publik juga menunjukkan skeptisisme besar terhadap hasil yang dicapai perang tersebut.

Hanya 23% warga AS yang percaya bahwa posisi negaranya terhadap Iran kini lebih kuat dibandingkan sebelum perang berlangsung. Angka itu bahkan mencakup hanya sekitar setengah dari pemilih Partai Republik sendiri.

Sebaliknya, 35% responden menilai posisi AS justru menjadi lebih lemah setelah perang. Sisanya menyatakan tidak yakin atau menilai posisi Washington pada dasarnya tidak berubah dibandingkan sebelumnya.

Keraguan publik tidak hanya ditujukan pada perang, tetapi juga terhadap prospek perdamaian yang sedang dinegosiasikan. Sebanyak 63% warga AS menyatakan tidak yakin bahwa kesepakatan yang ditandatangani Trump akan menghasilkan perdamaian yang langgeng antara Washington dan Teheran.

Sikap skeptis itu muncul lintas partai politik. Sekitar separuh responden Partai Republik dan delapan dari sepuluh responden Partai Demokrat menyatakan perjanjian tersebut kemungkinan tidak akan mampu menghadirkan perdamaian permanen.

Sebaliknya, hanya 18% warga AS yang menilai perdamaian jangka panjang mungkin tercapai. Kelompok ini terdiri dari sekitar 10% pemilih Demokrat dan 34% pemilih Republik.

Perang Iran juga menjadi ujian besar terhadap citra politik Trump. Dalam kampanye pemilihan presiden 2024, Trump memenangkan pemilu dengan janji untuk menurunkan inflasi serta menjauhkan Amerika Serikat dari perang-perang luar negeri yang mahal.

Selama bertahun-tahun, merek politik Trump dibangun di atas reputasinya sebagai pengusaha properti dan tokoh televisi yang piawai membuat kesepakatan. Namun hasil survei terbaru menunjukkan banyak pemilih mulai mempertanyakan efektivitas kepemimpinannya, terutama terkait biaya hidup.

Tingkat persetujuan terhadap penanganan biaya hidup oleh Trump hanya mencapai 22%, mendekati titik terendah sepanjang masa kepresidenannya. Angka tersebut bahkan berada di bawah tingkat persetujuan yang diterima pendahulunya dari Partai Demokrat, Joe Biden, pada akhir masa jabatannya.

Adapun ketika memulai masa jabatan keduanya, Trump memiliki tingkat persetujuan publik sebesar 47%.

Penurunan popularitas Trump berpotensi menjadi ancaman bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada 3 November mendatang. Pemilu tersebut akan menentukan apakah Partai Republik masih mampu mempertahankan kendali atas Kongres AS.

Survei menunjukkan hanya 17% pemilih independen yang terdaftar menyatakan akan memilih kandidat Partai Republik di distrik mereka jika pemilu digelar hari ini. Sebaliknya, 34% mengatakan mereka akan memilih kandidat dari Partai Demokrat.

Selain perang Iran, isu imigrasi juga menjadi beban politik yang semakin besar bagi Trump. Survei menunjukkan hanya 37% warga AS yang menyetujui cara Trump menangani persoalan imigrasi.

Angka tersebut menjadi yang terendah sepanjang masa jabatan keduanya dan turun dari 40% dalam survei Reuters/Ipsos sebelumnya.

Survei Reuters/Ipsos ini melibatkan 1.262 orang dewasa di seluruh Amerika Serikat. Hasil jajak pendapat memiliki margin kesalahan sekitar tiga poin persentase.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Trump Dipermalukan di Rumah Sendiri, Kekuatan AS di Perang Iran Runtuh


Most Popular
Features