Israel "Kesetanan" Lagi, Beri Izin Tembak Mati Warga Lebanon
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa tentara militer Tel Aviv memiliki kebebasan penuh untuk mengambil tindakan apa pun tanpa batasan di Lebanon. Langkah agresif ini tetap diizinkan demi mengeliminasi setiap potensi ancaman, di saat pasukan mereka dipastikan bakal tetap berjaga di zona keamanan perbatasan.
Dilansir Reuters, Minggu (21/06/2026), pengumuman ini mencuat tak lama setelah kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah yang didukung Iran resmi diberlakukan sejak hari Jumat lalu. Namun, kerangka damai tersebut langsung ternoda setelah serangan udara Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 20 orang di Lebanon pada hari Sabtu kemarin.
"Semua pencapaian Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam kampanye militer di Lebanon akan tetap dipertahankan dan dijaga sepenuhnya," tegas Israel Katz dalam rilis resmi kementeriannya terkait posisi tawar militer pascagencatan senjata.
Pihak Tel Aviv berdalih bahwa serangan mematikan pada hari Sabtu tersebut merupakan respons balasan yang sah atas tindakan milisi yang menembakkan proyektil ke arah pasukan mereka di Lebanon Selatan. Sementara itu, seorang pejabat senior Hezbollah menyatakan berkomitmen penuh pada gencatan senjata selama pihak Israel juga menghormati aturan tersebut di lapangan.
Pejabat Hezbollah tersebut juga menentang keras klaim sepihak Katz dan menegaskan bahwa pasukan militer Israel sama sekali tidak memiliki hak atas kebebasan bergerak di wilayah kedaulatan Lebanon Selatan. Di sisi lain, sumber keamanan internal melaporkan belum ada lagi serangan besar yang diluncurkan oleh kedua belah pihak sejak Sabtu malam pukul 18.30 waktu setempat.
Kondisi tenang tanpa pertempuran besar ini tercatat sebagai jeda waktu damai terlama sejak perang darat antara Hezbollah dan Israel pertama kali meletus pada 2 Maret lalu. Terlepas dari situasi kondusif tersebut, militer Israel menolak memberikan konfirmasi mengenai jam pasti penghentian kontak senjata mereka.
Otoritas Teheran menyatakan bahwa nasib kedaulatan Lebanon menjadi fokus utama dalam agenda pembicaraan damai lanjutan bersama Amerika Serikat di Swiss pada hari Minggu ini. Hal ini menyusul penandatanganan kesepakatan kerangka kerja sebelumnya demi mengakhiri konflik regional berskala besar yang sempat membakar kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari lalu.
Pasukan Israel sendiri hingga kini masih menduduki zona keamanan yang menjorok sejauh 10 kilometer ke dalam wilayah territorial Lebanon Selatan dengan dalih untuk melindungi komunitas warga di Israel Utara. Di sisi lain, milisi Hezbollah tetap menegaskan hak sah mereka untuk angkat senjata melawan pasukan penjajah di tanah Lebanon, sembari berjanji akan menghentikan serangan roket ke wilayah Israel Utara.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]