Delegasi Iran Walk Out, Negosiasi Damai dengan AS di Ujung Tanduk
Jakarta, CNBC Indonesia - Perundingan penting antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss mengalami guncangan serius setelah delegasi Teheran menghentikan sementara pembicaraan dan keluar dari meja negosiasi sebagai bentuk protes terhadap serangkaian ancaman yang dilontarkan Presiden AS Donald Trump. Langkah itu terjadi ketika kedua negara sebenarnya tengah berupaya menindaklanjuti nota kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Penghentian sementara pembicaraan tersebut memunculkan ketidakpastian mengenai masa depan proses diplomasi yang sedang berjalan. Belum jelas apakah aksi keluar delegasi Iran merupakan langkah permanen atau sekadar bentuk protes simbolis.
Namun sebelum meninggalkan perundingan tatap muka di Bürgenstock, Swiss, Minggu (21/6/2026) waktu setempat, kedua pihak dilaporkan telah mencapai rancangan kesepakatan mengenai mekanisme pemberian pengecualian oleh AS terhadap sanksi ekspor minyak Iran.
Kesepakatan mengenai keringanan sanksi minyak tersebut merupakan salah satu syarat utama yang diajukan Teheran sebelum pembahasan mengenai program nuklir sipil Iran dapat bergerak lebih jauh.
Pejabat Iran mengeklaim pengecualian sanksi itu akan segera diterbitkan. Mereka juga menyebut telah tercapai kemajuan terkait upaya pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan di sejumlah rekening bank luar negeri.
Adapun Iran dan AS pekan lalu menandatangani nota kesepahaman yang dirancang untuk mengakhiri blokade di Selat Hormuz, sekaligus membuka jalan bagi perundingan selama 60 hari mengenai program nuklir sipil Iran.
Namun suasana negosiasi berubah tegang setelah berbagai pernyataan Trump di media sosial dan wawancara televisi sampai ke lokasi perundingan. Delegasi Iran menilai ancaman tersebut tidak dapat diterima karena dianggap mengancam keselamatan pribadi para negosiator.
Menurut pihak Iran, nota kesepahaman yang ditandatangani Trump bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian pekan lalu juga mencakup pakta nonagresi. Karena itu, ancaman yang dilontarkan presiden AS dinilai bertentangan dengan semangat kesepakatan yang baru saja dicapai.
Nada keras Trump juga kontras dengan pendekatan yang ditampilkan Wakil Presiden AS JD Vance. Vance sebelumnya mengatakan dirinya ditugaskan langsung oleh Trump untuk membuka lembaran baru hubungan antara Washington dan Teheran melalui jalur diplomasi.
Kepala delegasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menanggapi ancaman tersebut dengan nada tegas.
"Apakah mereka tidak berpikir bahwa jika ancaman mereka memiliki pengaruh, mereka tidak akan sampai pada keputusasaan yang mereka hadapi saat ini? Kami sama sekali tidak memperhitungkan ancaman Amerika," kata Ghalibaf, dilansir The Guardian.
Meski demikian, tekanan politik domestik di Iran juga disebut turut memengaruhi keputusan delegasi untuk meninggalkan perundingan. Para negosiator menghadapi tuntutan dari kalangan politik dalam negeri untuk menunjukkan sikap tidak percaya terhadap tim negosiasi Trump.
Sebelumnya, situasi menjadi rumit setelah Iran mengumumkan kembali penerapan blokade di Selat Hormuz sebagai protes terhadap berlanjutnya serangan Israel di Lebanon.
Teheran menuding Trump membiarkan Israel melanggar nota kesepahaman yang ditandatangani pekan lalu. Menurut Iran, dokumen tersebut secara jelas menyerukan penghentian pertempuran di seluruh front konflik.
Namun pada Sabtu, serangan Israel di Lebanon tengah dan selatan dilaporkan menewaskan lebih dari 30 orang.
Merespons perkembangan itu, Trump kembali mengeluarkan peringatan keras kepada Iran.
"Iran harus segera menghentikan para proksi mereka di Lebanon yang dibayar mahal untuk membuat masalah," tulis Trump di media sosial. "Jika mereka tidak melakukannya, kami akan kembali menghantam Iran dengan sangat keras."
Dalam wawancara telepon selama 20 menit dengan Fox News, Trump juga mengisyaratkan kemungkinan tindakan lebih jauh terhadap Selat Hormuz.
"Kami mungkin akan mengambil alih selat itu jika perlu. Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami akan memungut biaya."
Bahkan ketika membahas Selat Hormuz, Trump melontarkan pernyataan yang oleh Iran dianggap sebagai ancaman langsung terhadap para negosiator.
"Kalian menutupnya dan kalian tidak akan memiliki negara. Kalian bahkan tidak akan bisa kembali ke negara kalian sendiri."
Pernyataan tersebut memicu protes resmi dari Iran kepada para mediator. Delegasi Iran meminta agar apa yang mereka sebut sebagai tindakan intimidasi dari Trump segera dikendalikan.
Di tengah memanasnya situasi, JD Vance berusaha menenangkan suasana dengan menyoroti kemajuan yang telah dicapai dalam upaya meredakan konflik di Lebanon. Menurut Vance, proses menuju perdamaian memang tidak pernah berjalan mulus.
"Hal-hal seperti ini memang selalu sedikit rumit."
Berbeda dengan Trump, Vance mengadopsi pendekatan yang lebih diplomatis terhadap Iran.
"Apa yang diminta presiden kepada kami adalah membuka lembaran baru, mengubah hubungan kami dengan rakyat Iran dan mengulurkan tangan kepada mereka, dengan mengatakan kepada rakyat Iran bahwa jika kepemimpinan mereka bersedia berhenti menjadi pendorong ketidakstabilan kawasan, jika mereka bersedia meninggalkan ambisi senjata nuklir untuk jangka panjang, maka Amerika Serikat siap mengubah secara mendasar hubungan kami dengan negara tersebut," katanya.
"Pertanyaan yang ada di hadapan kita sekarang adalah seberapa banyak lagi yang dapat kita capai bersama? Dapatkah kita membuka lembaran baru?"
Â
(luc/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]