MARKET DATA
Internasional

Iran Klaim Selat Hormuz Ditutup Lagi, Rencana Damai Berantakan?

luc,  CNBC Indonesia
21 June 2026 06:00
Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)
Foto: Kapal dan tanker di Selat Hormuz di lepas pantai Musandam, Oman, Senin (4/5/2026). (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat menjelang dimulainya putaran baru perundingan kedua negara di Swiss. Pemerintah Iran pada Sabtu (20/6/2026) mengumumkan bahwa Selat Hormuz kembali ditutup dan memperingatkan kapal-kapal agar menjauhi jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, AS segera membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa lalu lintas maritim di selat itu masih berjalan normal.

Perselisihan terbaru ini muncul hanya beberapa hari setelah Teheran dan Washington mencapai kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri permusuhan di kawasan Timur Tengah.

Pengumuman mengenai penutupan Selat Hormuz disampaikan oleh militer Iran bersama Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), saat para negosiator Iran bersiap melakukan perjalanan ke Swiss untuk mengikuti pembicaraan tingkat teknis dengan pejabat AS yang dijadwalkan dimulai pada Minggu.

Komando militer gabungan Iran menyatakan penutupan selat tersebut merupakan respons atas berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon serta apa yang mereka sebut sebagai "itikad buruk" AS dan kegagalan Washington memenuhi komitmennya dalam kerangka gencatan senjata yang telah disepakati.

Televisi pemerintah Iran juga melaporkan bahwa "langkah-langkah lanjutan telah direncanakan" apabila apa yang disebut sebagai agresi masih terus berlanjut.

Pernyataan Iran muncul setelah serangan Israel di Lebanon selatan pada Sabtu yang menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk dua anak-anak. Adapun korban tewas dilaporkan telah mencapai setidaknya 20 orang.

Menurut laporan The Associated Press yang mengutip otoritas Lebanon, serangan tersebut menyebabkan kerusakan luas di sejumlah wilayah.

Kantor berita Lebanon, National News Agency, yang dikelola pemerintah juga melaporkan bahwa tujuh orang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan di Nabatiyeh dan desa-desa sekitarnya setelah serangan berlangsung.

Sementara itu, meski Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, militer AS menyatakan hal sebaliknya dengan mengatakan tidak ada penutupan yang terjadi di jalur pelayaran tersebut.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan pasukan AS terus memantau situasi guna memastikan lalu lintas kapal tetap berjalan tanpa gangguan. "Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz," kata juru bicara CENTCOM, Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, kepada Reuters.

"Lalu lintas terus berjalan, dan pasukan AS memantau situasi untuk memastikan kondisi ini tetap berlangsung," lanjutnya.

Presiden AS Donald Trump juga memberikan sinyal bahwa pemerintahannya menganggap Selat Hormuz masih terbuka untuk lalu lintas pelayaran.

Dalam unggahan di Truth Social pada Sabtu malam, Trump bahkan mengisyaratkan kemungkinan AS mengenakan biaya bagi kapal-kapal yang melintas apabila kesepakatan sementara dengan Iran gagal berkembang menjadi perjanjian final dalam waktu 60 hari.

"Tidak akan ada pungutan biaya di Selat Hormuz selama 60 hari masa gencatan senjata, dan tidak akan ada pungutan biaya setelah periode 60 hari tersebut berakhir, kecuali jika pungutan itu diberlakukan oleh dan untuk Amerika Serikat, apabila kesepakatan tidak berhasil diselesaikan," tulis Trump.

Ia mengeklaim biaya tersebut nantinya akan dikenakan sebagai pembayaran atas "layanan yang diberikan".

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Siaga Perang Baru? AS Ancam "Musnahkan" Iran-Gencatan Senjata di Ujung


Most Popular
Features