RI Dekati Uzbekistan Incar Masuk Asia Tengah, Ini Alasan di baliknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti mengatakan, pihaknya terus mencari pasar ekspor baru di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global. Salah satu kawasan yang kini menjadi perhatian adalah Asia Tengah, dengan Uzbekistan diposisikan sebagai mitra strategis untuk memperluas perdagangan dan investasi Indonesia di kawasan tersebut.
Roro menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang. Sejalan dengan itu, katanya, Presiden Prabowo Subianto selalu menyatakan Indonesia akan terus memperluas kemitraan ekonomi dengan berbagai negara melalui kerja sama perdagangan dan investasi.
"Sebagaimana disampaikan Presiden Prabowo Subianto, seribu teman masih terlalu sedikit dan satu musuh sudah terlalu banyak. Karena itu, Indonesia terus mendorong keterlibatan yang aktif dengan berbagai negara dan kawasan melalui kerja sama perdagangan, investasi, dan kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan," kata Roro dalam keterangannya, dikutip Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, pendekatan tersebut semakin relevan di tengah berbagai tantangan global saat ini. Indonesia meyakini penguatan dialog, kerja sama ekonomi, dan konektivitas perdagangan antarnegara menjadi kunci dalam menciptakan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.
Roro menilai Uzbekistan memiliki posisi strategis sebagai penghubung Indonesia dengan kawasan Asia Tengah yang tengah berkembang pesat. Kesamaan semangat dalam memperluas kerja sama ekonomi, ditambah kedekatan sejarah dan hubungan antar masyarakat, menjadi modal penting bagi kedua negara.
"Indonesia dan Uzbekistan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan peluang ekonomi Asia Tenggara dan Asia Tengah. Dengan memperkuat kemitraan dan konektivitas, kita dapat menciptakan lebih banyak perdagangan, investasi, dan kesejahteraan bagi masyarakat kedua negara," ujarnya.
Potensi tersebut, lanjut Roro, tercermin dari tren perdagangan bilateral yang terus meningkat. Pada 2025, nilai perdagangan Indonesia dan Uzbekistan tercatat mencapai sekitar US$181 juta.
Perdagangan kedua negara selama ini ditopang oleh produk yang saling melengkapi. Indonesia mengekspor margarin, lemak nabati, sabun, dan berbagai produk manufaktur lainnya ke Uzbekistan. Sementara itu, Indonesia mengimpor pupuk kalium, pulp serat, dan aluminium dari negara tersebut.
Meski demikian, menurut Roro, nilai perdagangan saat ini masih menunjukkan ruang yang sangat besar untuk dikembangkan melalui peningkatan kerja sama bisnis maupun investasi.
Momentum tersebut juga diperkuat dengan dimulainya perundingan Indonesia-Uzbekistan Free Trade Agreement (IU-FTA) pada Maret 2026. Perundingan itu diharapkan dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha kedua negara sekaligus meningkatkan arus perdagangan dan investasi.
Selain perdagangan, Roro juga menyoroti peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai motor pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia, UMKM berkontribusi sekitar 60% terhadap perekonomian nasional, sementara di Uzbekistan mencapai sekitar 55%.
"Pemerintah dapat menciptakan kerangka kerja sama dan membuka akses pasar. Namun, keberhasilan pemanfaatan peluang ekonomi pada akhirnya ditentukan oleh pelaku usaha. Karena itu, penguatan kemitraan antarpelaku usaha atau business-to-business menjadi sangat penting," jelasnya.
Lebih lanjut, Roro turut memaparkan berbagai upaya Indonesia dalam memperluas akses pasar global melalui sejumlah perundingan perdagangan internasional. Salah satunya adalah perundingan perjanjian perdagangan bebas antara Indonesia dan negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) yang saat ini masih berlangsung.
Menurutnya, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan komitmen Indonesia untuk memperkuat keterhubungan ekonomi dengan berbagai kawasan dunia sekaligus menciptakan peluang baru bagi dunia usaha.
source on Google [Gambas:Video CNBC]