MARKET DATA

Puluhan Ribu Kontainer Sempat Numpuk di Priok, Mayoritas Barang China

chd,  CNBC Indonesia
19 June 2026 09:30
Penumpukan kontainer di jalur pemeriksaan Bea Cukai Tanjung Priok sudah mulai berkurang, setelah sebelumnya sempat menumpuk dan membuat kemacetan. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Foto: Penumpukan kontainer di jalur pemeriksaan Bea Cukai Tanjung Priok sudah mulai berkurang, setelah sebelumnya sempat menumpuk dan membuat kemacetan. (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penumpukan kontainer barang impor di Pelabuhan Tanjung Priok menjadi sorotan. Pasalnya, jumlahnya sempat mencapai 10.000 kontainer pada Mei lalu. Di antara kontainer-kontainer tersebut, ternyata ditemukan banyak barang impor dari China.

CNBC Indonesia yang mengecek langsung ke posko Bea dan Cukai Terminal Petikemas (TPK) Koja, pada Rabu (17/6/2026), menemukan beberapa kontainer barang impor yang tengah dilakukan pemeriksaan oleh Bea Cukai Tanjung Priok. Ternyata, mayoritas peti kemas berasal dari China. Hal ini bisa terlihat dari tulisan di kardus pengemasan beberapa barang tersebut.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di posko Bea dan Cukai Terminal Petikemas (TPK) Koja, Jakarta Utara pada Rabu (17/6/2026) pukul 16:00 WIB, tampak beberapa barang-barang yang tengah diperiksa bertuliskan "Made in China" dan juga huruf mandarin.

Tak hanya bertuliskan "Made in China" dan huruf mandarin di kardus pengemasan, juga beberapa merek diketahui berasal dari China. Seperti contohnya, beberapa merek produk lampu dan alat kelistrikan, yakni Lovov, Semny, dan Lanbo.

Ada juga tas impor berasal dari China, yang dapat diketahui dari kardus pengemasan yang bertuliskan huruf mandarin. Tas tersebut bercorak bunga-bunga dan berwarna dasar putih.

Tak hanya tas impor dan alat kelistrikan, juga ada dinamo motor untuk sepeda listrik dan skuter listrik. Dinamo tersebut bermodel MY1016. Juga ada alat penyemprot cat yang juga berasal dari China.

Namun, hanya satu barang yang ditemukan selain dari China, yakni daging kerbau beku bermerek Allana asal India. Salah satu petugas Bea Cukai mengatakan mayoritas barang yang diimpor dan dilakukan pengecekan berasal dari China.

"Iya, kebanyakan dari China barang impor di sini," kata petugas Bea Cukai saat ditemui CNBC Indonesia, Rabu (17/6/2026).

Namun, barang impor tersebut bukanlah barang bekas atau tiruan, melainkan barang baru. "Di sini enggak ada yang bekas atau KW, enggak boleh masuk sini soalnya," ujarnya.

Adapun terkait dengan 10.000 kontainer, Bea Cukai Tanjung Priok memastikan jumlahnya telah berkurang drastis

Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Tanjung Priok Niko Budhi Darma mengatakan per Kamis (18/6/2026), jumlah kontainer menumpuk di Tanjung Priok - termasuk BYD, Wuling, dan VinFast - sudah berkurang menjadi 1.500, dari sebelumnya sempat mencapai 10.000 kontainer.

"Saat ini per 18 Juni 2026, jumlah kontainer yang belum dikeluarkan dalam jangka waktu 4-30 hari setelah SPPB ada sekitar 1.500-an. Secara bertahap kontainer- kontainer ini sudah dikeluarkan oleh pemiliknya," kata Niko kepada CNBC Indonesia, dikutip Kamis (18/6/2026).

Niko menambahkan, permasalahan penumpukan kontainer tersebut terjadi karena kombinasi dari ketiga proses yakni mulai dari proses pre-customs clearance, proses customs clearance, dan proses post-customs clearance.

"Jumlah 10.000-an kontainer tersebut berada di proses post-customs clearance yang merupakan keseluruhan jumlah kontainer yang telah memperoleh SPPB, baik jalur merah maupun jalur hijau," ujar Niko.

Upaya Bea Cukai

Bea Cukai telah menerapkan beberapa langkah untuk mengurangi penumpukan kontainer. Adapun langkah sudah disiapkan mulai dari penambahan personel pemeriksaan, penambahan lokasi pemeriksaan di Jakarta International Container Terminal (JICT) dan Terminal Peti Kemas (TPK) Koja, pelaksanaan pemeriksaan ditambah sampai malam hari, hingga penyesuaian layanan.

"Kami kemudian melakukan mitigasi secara komprehensif di ketiga proses tersebut. Langkah-langkah mitigasi yang sudah dilakukan antara lain koordinasi dan mitigasi dengan stakeholder terkait, penambahan jumlah pemeriksa, penambahan waktu pemeriksaan (shift siang dan malam), pengaturan mekanisme yang efektif untuk pemeriksaan barang, penambahan lokasi/tempat pemeriksaan," terangnya.

Selain itu, Bea Cukai juga memfasilitasi pertemuan business-to-business (B to B) di antara entitas yang terkait dengan bisnis logistik seperti importir, asosiasi logistik, asosiasi trucking, dan lain-lainnya.

Terkait dengan proses kepabeanan di TPK Koja dan JICT, dijelaskan saat kondisi normal, kontainer yang memerlukan pemeriksaan fisik akan dipindahkan ke Tempat Pemeriksaan Fisik Terpadu (TPFT) Graha Segara. Namun sebagai upaya percepatan, pemeriksaan dan untuk mengurai kepadatan.

"Kami meminta TPK Koja dan JICT menambah area pemeriksaan sementara di Lapangan Pemeriksaan TPK Koja dan JICT. Pemeriksaan ini tanpa dilakukan perpindahan kontainer ke TPFT dan dilakukan untuk barang impor yang kategorinya low risk," ujar Niko.

(haa/haa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Operasi 'Jalur Merah' Bea Cukai, Temukan Daging Beku - Dinamo Molis


Most Popular
Features