MARKET DATA

Pengungsi Korban Banjir Sumatra Tak Ada Lagi yang Tinggal di Tenda

Martyasari Rizky,  CNBC Indonesia
18 June 2026 17:10
Mendagri Tito Karnavian  saat raker bersama Komisi II DPR RI, Senin (30/3/2026). (TV Parlemen)
Foto: Mendagri Tito Karnavian saat raker bersama Komisi II DPR RI, Senin (30/3/2026). (TV Parlemen)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melaporkan perkembangan positif, dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Sejumlah indikator pemulihan, katanya, mulai menunjukkan hasil, mulai dari beroperasinya kembali fasilitas kesehatan dan sekolah hingga tidak adanya lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian. Tito mengatakan, secara umum progres pemulihan di tiga provinsi terdampak berjalan cukup baik. Salah satu indikatornya terlihat dari pulihnya aktivitas pemerintahan di daerah yang sebelumnya lumpuh akibat bencana.

"Progres untuk pemulihan pascabencana Sumatra relatif baik. Ini dilihat dengan indikator-indikator di bidang pemerintahan, misalnya kabupaten Aceh Tamiang yang tadinya sama sekali tidak ada operasional karena semua terdampak lumpur, sekarang sudah kembali normal. Alhamdulillah tinggal beberapa kantor desa yang harus diperbaiki, terutama yang rusak berat," kata Tito dalam konferensi pers di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Kamis (18/9/2026).

Dari sektor kesehatan, seluruh rumah sakit di wilayah terdampak disebut sudah kembali beroperasi. Sementara fasilitas kesehatan tingkat pertama yang belum pulih sepenuhnya hanya tersisa beberapa puskesmas pembantu.

"Kemudian juga dari segi kesehatan, semua sudah operasional rumah sakit ya 100% di tiga daerah, Puskesmas tinggal beberapa Puskesmas pembantu. Kami mengapresiasi Menteri Kesehatan (Budi Gunadi Sadikin) bekerja sangat cepat," ujarnya.

Perkembangan serupa juga terjadi di sektor pendidikan. Tito menyebut kegiatan belajar mengajar telah kembali berjalan di seluruh wilayah terdampak, meskipun sebagian sekolah masih menggunakan fasilitas sementara.

"Kemudian juga di bidang pembelajaran, itu sudah pembelajaran 100%. Ada 4.922 sekolah yang terdampak. Nah ini sudah dilakukan perbaikan, kemudian perjanjian kerjasama dengan kontraktor oleh Mendikdasmen (Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah). Banyak sebagian besar sekolah kembali sudah dimulai, tapi memang harus diakui ada beberapa yang masih di tempat darurat ya, sekolah darurat," tutur dia.

Menurut Tito, sebagian sekolah masih menggunakan tenda atau menumpang di sekolah lain karena bangunannya rusak berat, bahkan hilang, akibat longsor dan banjir. Sejumlah sekolah juga harus direlokasi karena lokasi lama dinilai tidak lagi aman.

Meski demikian, pemerintah menilai capaian paling signifikan saat ini adalah berakhirnya masa pengungsian di tenda bagi warga terdampak bencana. Hal itu seiring dengan pembangunan hunian sementara (huntara) yang telah mencapai 97%.

"Nah kemudian sarana lainnya, listrik rata-rata sudah tersambung semua, hanya lebih kurang lima desa di Aceh Tengah, kemudian ada dua desa di daerah Tapanuli Selatan kalau saya tidak salah, yang memang karena jalannya terputus, jembatan terputus, sambungannya juga terputus. Tapi diberikan genset dan Starlink untuk internetnya. Itu beberapa hal yang positif, termasuk juga Huntara 97% sudah dibangun," kata Tito.

Ia mengungkapkan, hasil pengecekan terbaru menunjukkan tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda pengungsian, baik di Aceh, Sumatra Utara, maupun Sumatra Barat.

"Kemarin saya pengecekan terakhir, rapat langsung hari Selasa yang lalu, satu-satu saya tanya, bupati di Aceh apakah masih ada di tenda, kalau Sumatra Barat nggak ada lagi sudah lama ya, sudah hampir dua bulan lalu. Sumatra Utara juga tadinya sudah selesai, tapi banjir lagi di kecamatan Tukka di Tapanuli Tengah, sehingga ada lagi tenda, tapi sekarang sudah diatasi," ujarnya.

Lebih lanjut, Tito mengatakan laporan dari para kepala daerah menunjukkan kondisi pengungsian di Aceh juga telah berakhir.

"Laporan dari rapat itu, Selasa lalu, para bupati terutama Aceh Timur kemudian di Aceh Utara menyatakan tidak ada lagi yang tinggal di tenda, termasuk Aceh Tamiang nggak ada," lanjut dia.

Meski sejumlah indikator pemulihan telah menunjukkan perkembangan positif, pemerintah menilai masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan, terutama pembangunan infrastruktur permanen seperti jalan dan jembatan daerah yang rusak akibat bencana.

"Jadi tinggal prioritas kita ke depan yang paling utama adalah infrastruktur. Mempermanenkan infrastruktur jalan, jembatan, jembatan daerah, jalan daerah yang belum banyak tersentuh. Itu yang harus dikerjakan ya, entah oleh Pemda atau diambil alih oleh pusat," pungkas Tito.

(wur) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article DPR & Pemerintah Sepakati Rencana Induk Pascabencana Sumatra Rp100,1 T


Most Popular
Features