MARKET DATA
Internasional

G7 Desak Gencatan Senjata Lebanon, Sambut Damai AS-Iran

tfa,  CNBC Indonesia
18 June 2026 06:05
Para pemimpin G7 yang mewakili sejumlah negara terkaya di dunia berkumpul di Evian-les-Bains, Prancis, pada 15–17 Juni 2026 untuk menghadiri KTT selama tiga hari yang didominasi pembahasan perang di Ukraina dan Iran. (REUTERS/Christian Hartmann)
Foto: Para pemimpin G7 yang mewakili sejumlah negara terkaya di dunia berkumpul di Evian-les-Bains, Prancis, pada 15–17 Juni 2026 untuk menghadiri KTT selama tiga hari yang didominasi pembahasan perang di Ukraina dan Iran. (REUTERS/Christian Hartmann)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pertemuan para pemimpin negara-negara Kelompok Tujuh (G7) menghasilkan beberapa hal, salah satunya adalah seruan gencatan senjata segera di Lebanon. Mereka juga menyambut kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diharapkan menjadi jalan menuju berakhirnya konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Dalam pernyataan bersama usai KTT G7 di Evian-les-Bains, Prancis, para pemimpin menegaskan pentingnya penyelesaian diplomatik untuk meredakan ketegangan regional.

"Kami menggarisbawahi perlunya negosiasi untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan Iran di kawasan dan memastikan negara itu tidak pernah memperoleh senjata nuklir," demikian bunyi pernyataan para pemimpin G7, seperti dikutip Reuters, Kamis (18/6/2026).

Pertemuan tersebut juga menjadi ajang bagi Presiden AS Donald Trump untuk memaparkan kesepakatan yang telah dicapai Washington dan Teheran kepada para sekutu utama AS, yakni Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang.

Kesepakatan itu diperkirakan akan diumumkan secara resmi pada 19 Juni mendatang dan membuka jalan bagi perundingan menuju perdamaian permanen setelah perang yang telah menewaskan lebih dari 7.000 orang.

Meski menyambut langkah diplomatik tersebut, sejumlah negara G7 masih menyimpan kekhawatiran terkait program nuklir Iran dan pengaruh Teheran di kawasan. Namun mereka menyatakan siap membantu implementasi kesepakatan, termasuk mendukung keamanan jalur pelayaran setelah Selat Hormuz dibuka kembali sesuai rencana.

Memorandum kesepahaman yang ditandatangani AS dan Iran pekan ini disebut memperpanjang gencatan senjata yang diumumkan pada April selama 60 hari. Periode tersebut akan dimanfaatkan kedua pihak untuk merundingkan kesepakatan damai yang lebih permanen.

Namun, sejumlah isu utama masih belum terselesaikan. Pemerintah Iran tetap berkuasa, stok uranium yang diperkaya tinggi belum diserahkan, kemampuan rudal balistik masih dipertahankan, dan dukungan Teheran terhadap kelompok milisi di kawasan belum dihentikan.

Trump menyatakan kesepakatan itu menjamin Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, sementara pejabat AS menyebut pembahasan lanjutan akan mencakup nasib cadangan uranium Iran.

Salah satu persoalan terbesar yang masih membayangi proses damai adalah situasi di Lebanon. G7 mendesak "gencatan senjata yang kuat dan segera" serta pelucutan senjata Hizbullah. Iran menegaskan perdamaian permanen harus mencakup penghentian permusuhan di Lebanon dan penarikan pasukan Israel dari wilayah yang didudukinya.

Ketegangan mengenai Lebanon juga memicu perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv. Trump secara terbuka mengkritik cara Israel menangani konflik tersebut.

"Saya tidak senang dengan cara Israel menangani situasi ini," ujar Trump dalam pertemuan G7.

Di sisi ekonomi, kesepakatan damai berpotensi memberikan dorongan besar bagi Iran yang selama puluhan tahun dibebani sanksi internasional. Memorandum tersebut mencakup dana rekonstruksi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.310 triliun (asumsi kurs Rp17.700 per US$), yang akan didanai negara-negara Teluk jika Iran memenuhi syarat yang disepakati.

Prospek dibukanya kembali Selat Hormuz juga menekan harga minyak dunia. Harga minyak mentah Brent kembali turun hingga berada di bawah US$80 per barel atau sekitar Rp1,42 juta per barel.

Menyikapi risiko gangguan pasokan energi selama konflik berlangsung, para pemimpin G7 berkomitmen mempercepat diversifikasi jalur pasokan energi global guna mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz serta memperkuat cadangan energi masing-masing negara.

(tfa/tfa) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking News: AS Umumkan Negosiasi Damai Baru Israel-Lebanon


Most Popular
Features