Deal AS-Iran Guncang Israel, Netanyahu Mendadak di Ujung Tanduk
Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah sepihak Amerika Serikat dalam mengakhiri perang total melawan Iran memicu guncangan politik yang hebat di internal pemerintahan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini berada di bawah tekanan setelah draf kesepakatan damai dirilis tanpa melibatkan kontribusi dari pihak Tel Aviv.
Berakhirnya konflik bersenjata selama tiga setengah bulan ini memicu gelombang kritik tajam dari berbagai kalangan di Israel. Otoritas Teheran yang selama puluhan tahun digambarkan sebagai ancaman eksistensial terbesar bagi Israel terbukti tetap berdiri kokoh, bahkan dinilai semakin kuat berkat kendali penuh mereka atas Selat Hormuz.
Situasi di dekat perbatasan domestik juga kian pelik, di mana militer Israel harus menimbang ulang operasi militer mereka di Lebanon guna membendung Hizbullah. Pasalnya, setiap agresi baru berisiko merusak kerangka hubungan diplomatik antara AS dan Iran yang dijadwalkan akan meresmikan perjanjian tersebut pada akhir pekan ini.
Penolakan Massal
Gelombang penolakan keras terhadap produk hukum ini datang secara serentak dari faksi tengah maupun kelompok kanan ekstrem di parlemen Israel. Tokoh sentral oposisi, Gadi Eisenkot, melayangkan kritik terbuka yang sangat tajam atas kegagalan kepemimpinan Netanyahu menjelang pemilu mendatang.
"Ini adalah hasil menyedihkan dari pemerintah yang gagal. Ada jurang pemisah yang sangat luas antara janji-janji kosong Netanyahu tentang kemenangan total dan garis besar kesepakatan yang akan ditetapkan oleh AS dan Iran," kritik Eisenkot mengenai lemahnya posisi tawar diplomasi Israel, dikutip Al Jazeera, Rabu (17/6/2026).
Sikap tidak berkompromi juga ditunjukkan oleh menteri sayap kanan seperti Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich yang kompak menyebutnya sebagai kesepakatan yang buruk. Ben-Gvir menegaskan bahwa Israel tidak boleh tunduk pada kesepakatan yang dibuat antara Trump dan Mojtaba Khamenei tersebut demi menjaga marwah kedaulatan negaranya.
Netanyahu sendiri sadar betul bahwa menghentikan perang saat ini merupakan langkah yang sangat tidak populer di mata konstituen domestik. Akibatnya, ia berusaha keras membangun narasi bahwa dirinya tetap menjadi mitra setara AS dalam perang, seraya melemparkan seluruh tanggung jawab penghentian konflik kepada keputusan pribadi Trump.
"Kami menghapus, untuk tahun-tahun mendatang, bahaya yang menggantung di atas kami berupa pemusnahan penduduk Israel. Itulah yang kami lakukan. Kami menyelamatkan Negara Israel dari kehancuran," klaim Netanyahu dalam konferensi persnya demi membangun narasi kemenangan historis.
Namun, klaim sepihak Netanyahu tersebut dinilai tidak kredibel dan tidak disambut baik oleh publik dalam negeri. Mantan penasihat pemerintah Israel, Daniel Levy, menyebut ada arogansi rasis kolonial dan keangkuhan berpikir bahwa menyeret militer AS ke dalam perang otomatis akan menghancurkan rezim Iran, yang pada kenyataannya tidak terjadi.
Iran di Atas Angin?
Debat domestik di Israel kini bergeser pada status baru Iran sebagai kekuatan regional yang dominan sekaligus potensi mereka menjadi negara nuklir pascaperang. Meskipun Trump menjamin bahwa Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, mekanisme pengawasan gudang uranium Teheran masih dipertanyakan oleh banyak pengamat militer.
Banyak pihak di Iran meyakini bahwa negara mereka keluar sebagai pemenang dalam perang ini, terutama setelah berhasil memukul balik perekonomian dunia lewat penutupan Selat Hormuz. Atas dasar itulah, AS diprediksi akan sangat kesulitan membujuk Teheran agar bersedia menyerahkan seluruh persediaan uranium yang telah mereka perkaya.
"Netanyahu menimpakan bencana strategis pada Israel. Dia memulai perang dengan Iran yang bertujuan untuk menggulingkan rezimnya, tetapi rezim tersebut masih berdiri dan sekarang menjadi lebih radikal. Iran akan membangun kembali persenjataan rudalnya," tegas Ahron Bregman, pengamat senior Departemen Studi Perang di King's College London.
Ketidakpastian juga menyelimuti masa depan operasi militer Israel di Lebanon, mengingat Iran selalu menuntut penghentian agresi terhadap Hezbollah sebagai syarat mutlak perdamaian. Hubungan diplomatik antara Tel Aviv dan Washington diprediksi akan semakin mendingin setelah Trump secara terbuka menegaskan bahwa Netanyahu harus bertindak lebih bertanggung jawab terhadap negara tetangganya.
Bregman bahkan memprediksi bahwa Lebanon akan menjadi pemantik atau pemicu utama bagi babak pertempuran baru yang tak terhindarkan antara Israel dan Iran di masa depan. Ia meragukan ada presiden AS yang cukup waras untuk mau ikut terseret kembali dalam perang melawan Iran, mengingat faktor geografi dan senjata ekonomi Selat Hormuz sepenuhnya berpihak pada Teheran.
Meskipun Netanyahu merupakan perdana menteri yang paling lama menjabat dalam sejarah Israel dan ahli dalam membalikkan keadaan menjelang pemilu, rekam jejak kegagalannya dinilai sudah mulai menumpuk. Mantan Duta Besar Israel di New York, Alon Pinkas, menegaskan bahwa publik kini melihat Netanyahu sebagai pemimpin yang menyia-nyiakan kesempatan emas di saat semua faktor militer dan dukungan AS sedang menguntungkannya.
"Dia benar bahwa dia telah mengubah lanskap politik Timur Tengah. Namun, dia melakukannya demi keuntungan Iran," pungkas Pinkas menyimpulkan warisan politik 30 tahun Netanyahu yang justru berakhir blunder.
(tps/luc) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]