Gubernur Sherly Beberkan 2 Isu Utama Maluku Utara: Jalan & Jembatan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengutamakan pembangunan konektivitas jalan dan jembatan untuk menunjang pemerataan ekonomi di wilayah pusat hilirisasi nikel. Langkah tersebut dinilai mendesak untuk menghubungkan daerah-daerah penghasil komoditas pertanian dan perikanan dengan pusat pasar nasional maupun internasional.
Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda menjelaskan bahwa infrastruktur jalan yang memadai merupakan syarat agar pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 19,6% dapat dirasakan langsung oleh masyarakat bawah. Dia menyebutkan aksesibilitas masih menjadi penghambat bagi para petani dan nelayan di pelosok wilayah untuk memasarkan hasil bumi mereka secara efisien.
"Salah satu isunya itu konektivitas, jalan dan jembatan. Jalan dan jembatan yang belum terkoneksi karena 60% dari kita adalah petani, 20% adalah nelayan," jelasnya dalam program Mining Zone CNBC Indonesia, dikutip Senin (15/6/2026).
Tingkat kesiapan jalan provinsi di Maluku Utara saat ini tercatat baru mencapai 46% dari total kebutuhan yang ada. Pihaknya mencatat masih terdapat kekurangan pembangunan sepanjang 550 kilometer (km) jalan provinsi, di mana 100 km di antaranya telah berhasil dituntaskan dalam periode satu tahun terakhir.
"Target saya dan Pak Sarbin (Sarbin Sehe Wakli Gubernur Malut) di masa kepemimpinan kami sebelum 2030 kita akan selesaikan 100% jalan provinsi. Itu lumayan membantu, tapi kita mesti punya jalan kabupaten," kata Sherly.
Selain persoalan jalan provinsi, tantangan besar lainnya terletak pada pembangunan jalan kabupaten yang panjangnya mencapai 1.900 km dan hingga kini belum terselesaikan. Besarnya proyek pengerjaan infrastruktur itu memerlukan dukungan pendanaan yang kuat seiring dengan status Maluku Utara sebagai daerah penghasil nikel terbesar.
"Harapannya sebagai daerah pertumbuhan ekonomi tertinggi dengan cadangan nikel salah satu terbesar di dunia harusnya bisa segera selesai masalah jalan dan jembatan. Itu menjadi PR kami. Tapi tanpa konektivitas jalan dan jembatan tidak ada pemerataan ekonomi," tegasnya.
Pihaknya berkomitmen untuk mengonversi nilai ekonomi dari kekayaan sumber daya alam nikel menjadi modal pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan agar masyarakat tetap memiliki perekonomian yang kuat melalui sektor pertanian dan perikanan meski cadangan mineral nantinya habis.
"Tugas kita saat ini adalah bagaimana mengkonversi kekayaan alam kita dalam hal ini nikel menjadi jembatan, menjadi leverage, menggunakannya sebagai modal untuk menyiapkan jalan jembatan yang lebih baik," tandasnya.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]