Bukan Rp16.250/Liter, Ahli Beberkan Harga Asli BBM Pertamax
Jakarta, CNBC Indonesia - ReforMiner Institute menyoroti adanya selisih besar antara harga jual Pertamax saat ini dengan nilai keekonomian yang sebenarnya. Meskipun harga Pertamax sudah naik menjadi Rp16.250 per liter, angka tersebut dinilai belum mencerminkan biaya impor yang membengkak akibat pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia.
Founder ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto menjelaskan bahwa harga minyak saat ini sudah jauh melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Selain itu, nilai tukar rupiah yang menembus angka Rp 18.000 menjadi faktor utama yang menekan biaya pengadaan BBM di dalam negeri.
Melihat kondisi tersebut, harga keekonomian untuk produk bensin RON 92 idealnya berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp21.000 per liter. Harga ini dianggap lebih realistis untuk menutup biaya perolehan dibandingkan harga yang berlaku di SPBU sekarang.
"Harga keekonomian kalau tidak disubsidi itu kan sebetulnya dengan posisi harga minyak seperti saat ini dan kurs rupiah itu kan mungkin sekarang ada di kisaran Rp 19.000 sampai Rp 21.000 (per liter) tuh. Jadi yang dijual Pertamina untuk RON 92 ini masih di bawah harga keekonomian," katanya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (15/6/2026).
"Terutama karena memang sejak perang itu ya sejak April itu harga minyaknya udah 40% di atas asumsi APBN. Jadi udah deviasinya harga minyaknya 40% lebih dari asumsi yang ditetapkan di APBN. Di situ kan pasti ada selisih yang harus ditanggung oleh pemerintah dan Pertamina," tambahnya.
Pertamina angkat suara
Senada dengan itu, PT Pertamina Patra Niaga mengungkapkan bahwa harga keekonomian atau harga asli bahan bakar minyak (BBM) non subsidi jenis Pertamax (RON 92) saat ini sudah menembus level Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. Meskipun harga jual di SPBU resmi naik menjadi Rp 16.250 per liter per kemarin, Rabu (10/6/2026), nilai tersebut tercatat masih berada jauh di bawah harga pasar yang sebenarnya.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan membeberkan adanya selisih yang lebar antara harga jual domestik dengan biaya perolehan impor akibat lonjakan harga minyak dunia.
Dia menegaskan bahwa perusahaan telah berupaya menahan harga jual dalam waktu yang cukup lama guna menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian geopolitik global.
"Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu kalau di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kita masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300," ujarnya dalam acara Sarasehan Energi DEN, di Kampus IPB Bogor, dikutip Senin (15/6/2026).
Sigit menjelaskan bahwa penentuan harga BBM non-subsidi secara regulasi sejatinya mengikuti pergerakan harga pasar internasional. Pertamina memerlukan kemampuan finansial yang stabil agar dapat membeli kembali bahan baku BBM di pasar global dalam menjamin kecukupan volume stok untuk kebutuhan nasional.
Pihaknya menilai penyesuaian harga menjadi Rp 16.250 per liter merupakan langkah terukur setelah berkoordinasi dengan pemerintah. Perusahaan tidak ingin ketersediaan produk energi di masyarakat terus menurun akibat perusahaan menanggung kerugian yang terlalu besar pada produk BBM yang terjual.
Adapun, jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Thailand, harga bensin dengan spesifikasi serupa bahkan sudah menyentuh angka Rp 23.000 per liter. Pertamina menekankan bahwa kenaikan harga tersebut menjadi pesan bagi konsumen mengenai kondisi pasar energi dunia yang sedang mengalami tekanan hebat.
"Teman-teman bisa melihat di market internasional di tetangga sebelah negara lain itu RON 91, 92 itu di Rp 20.000, Rp 21.000. Jadi kita ingin memberikan message bahwa ini memang perlu naik kepada konsumen karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di pasar," tandasnya.
Berikut daftar harga BBM di SPBU Pertamina, berlaku mulai 10 Juni 2026:
Solar Subsidi Rp 6.800 per liter, tetap.
Pertalite Rp 10.000 per liter, tetap.
Pertamax (RON 92) Rp 16.250 per liter, naik dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.
Pertamax Green 95 Rp 17.000 per liter, naik dari sebelumnya Rp 12.900 per liter.
Pertamax Turbo Rp 20.750 per liter, tetap.
Dexlite Rp 23.000 per liter, tetap.
Pertamina DEX Rp 24.800 liter, tetap.
(pgr/pgr) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]