MARKET DATA
CNBC Insight

Beruntung! Beli Tanah di Bogor, Orang Jakarta Ini Kaya 3 Turunan

Tim Redaksi,  CNBC Indonesia
14 June 2026 14:45
Sejumlah warga melihat kondisi rumah yang longsor di Kawasan Desa Kuripan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa, (5/12/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: Sejumlah warga melihat kondisi rumah yang longsor di Kawasan Desa Kuripan, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa, (5/12/2023). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu aset instrumen yang harganya konsisten naik setiap tahun adalah tanah. Dengan karakteristik aset lahan kosong serbaguna, tak jarang harga jual tanah melambung ketika hendak dijual.

Kebetulan, keberuntungan bagai durian runtuh dialami oleh pemilik tanah warga Jakarta bernama Jonathan Michiels saat membeli tanah di Bogor, Jawa Barat. Awalnya, dia membeli tanah kosong, tapi setelah ditelusuri terdapat harta karun tersembunyi. Alhasil, dia pun langsung jadi orang terkaya yang hartanya bertahan hingga 3 generasi.

Bagaimana Kisahnya?

Alkisah, seorang warga Jakarta (dulu Batavia) bernama Jonathan Michiels membeli tanah di Bogor, tepatnya di Cileungsi dan Klapanunggal, dalam kurun 1776-1778. Dia membeli tanah dari tangan pegawai VOC dengan harga berbeda. Untuk tanah di Cileungsi dibeli seharga 29.500 ringgit Belanda. Selanjutnya, tanah di Klapanunggal dibeli seharga 26.400 ringgit Belanda.

Kedua tanah punya karakteristik sama, yakni tanah kosong, hanya berisi pepohonan dan punya kontur berbukit seperti gunung. Saat membeli, Jonathan tentu tak menjelajahi setiap jengkal tanah. Jadi, dia juga tak mengetahui kondisi sesungguhnya di tanah tersebut. Dia hanya membeli tanah untuk investasi semata.

Namun, suatu waktu Jonathan terkejut ketika mengetahui ada harta karun di tanahnya. Harta karun tersebut adalah komoditas berharga dan sangat mahal, yakni sarang burung walet. Ternyata, tanah berbukit itu jadi tempat burung walet bersarang.

Sebagaimana diketahui, sarang burung walet merupakan komoditas berharga di masa kolonial selain rempah-rempah. Komoditas tersebut biasanya digunakan oleh bangsawan sebagai makanan atau keperluan estetik. Tak banyak tempat di dunia yang jadi hunian burung walet bersarang. Sekali tempat itu ditemukan, harga jualnya sudah pasti tinggi. Salah satu tempat itu adalah Indonesia.

Fakta ini kemudian membuat Jonathan bak tertimpa durian runtuh. Dia pun bergegas memanfaatkan sarang burung walet tersebut untuk diperjualbelikan dengan harga fantastis.

Jean Gelman Taylor dalam The Social World of Batavia (1983) mencatat, kehidupan Jonathan kemudian berubah. Dia menjadi salah satu orang terkaya di Batavia. Dari keuntungan penjualan, dia kemudian membeli tanah lagi.

Sadar hidup ada batasnya, Jonathan kemudian menulis surat wasiat pada 1800. Dia membagi tanah-tanah tersebut kepada lima anaknya yakni Andries, Pieter, Augustijn, Elizabeth, dan Geetruida. Warisan tersebut membuat hidup keluarga Michiels hingga 2 keturunan tak kesulitan. Semuanya kaya raya.

Salah satu keturunan keluarga Michiels yang paling kaya berkat warisan Jonathan adalah Augustijn. Sejarah mencatat dia jadi pewaris tunggal kekayaan Jonathan, mengingat saudara-saudaranya meninggal muda.

Menurut F de Haan dalam De Laatste der Mardijkers (1917), kekayaan Augustijn dari warisan ayah memberinya banyak keistimewaan. Dia praktis menjadi orang terkaya tanpa perlu bekerja keras.

Meski begitu, Augustijn pintar mengelola uang. Seluruh uang hasil warisan dibelikan lahan baru yang bakal disewakan. Tercatat, dia membeli lahan di Nambo, Cipanas, Ciputri, Cibarusah, Naggewer, dan beberapa daerah pinggiran Batavia lain yang kini masuk administrasi Kabupaten Bogor dan Kabupaten Bekasi.

Menurut de Haan, diperkirakan luas tanah milik Augustijn setara dengan luas Provinsi Utrecht, Belanda, yang mencapai 1.449 kilometer persegi (km2) atau 144.000 hektar. Selain itu, uang tersebut juga digunakan untuk usaha lain, seperti tambang emas dan banyak properti.

Semua ini lantas membuat kekayaan keluarga Michiels makin banyak. Augustijn sendiri wafat pada 27 Januari 1883. Dia kemudian mewariskan seluruh kekayaan kepada anak-anaknya atau generasi ketiga keluarga Michiels.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.



(pgr/pgr) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bocah SMP Kediri Ketemu Harta Karun Senilai Rp23 Miliar


Most Popular
Features