MARKET DATA
Internasional

Rakyat Arab Saudi Terbelah soal Perang Iran, Ini Pandangannya

tps,  CNBC Indonesia
11 June 2026 17:45
Bendera Arab Saudi tertiup angin melawan langit cerah, Provinsi Al Madinah, Yanbu, Arab Saudi pada 26 Desember 2019 di Yanbu, Arab Saudi. (Eric Lafforgue/Art in All of Us/Corbis via Getty Images)
Foto: Bendera Arab Saudi (Corbis via Getty Images/Eric Lafforgue/Art in All of Us)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Arab Saudi dilaporkan tengah berada dalam dilema politik yang sangat rumit terkait cara terbaik untuk merespons perluasan perang besar antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Di tengah ancaman keamanan yang kian nyata di kawasan Teluk, opini publik masyarakat di dalam negeri Arab Saudi kini secara mengejutkan dilaporkan terbelah dua dalam menyikapi opsi keterlimatan militer secara langsung.

Mengutip kanal opini The Conversation, fakta mengenai terbelahnya suara rakyat ini dibongkar melalui sebuah riset jajak pendapat independen yang sangat langka di dalam negara monarki otoriter tersebut. Dua ilmuwan politik kawakan dunia yakni Robert Kubinec dari University of South Carolina bersama Alexis Montambault-Trudelle dari Université Laval bergerak melacak dinamika opini publik warga Saudi sejak konflik bersenjata meletus.

"Masyarakat Saudi sangat terpecah belah atas tindakan militer terhadap Iran-sebuah perpecahan yang menghadirkan kalkulus sulit bagi Putra Mahkota Mohammed bin Salman, pemimpin de facto Arab Saudi, dan para penasihatnya," tulis Kubinec dan Montambault-Trudelle dalam artikel analisis bersama mereka, dikutip Kamis (11/6/2026).

Kubinec dan Montambault-Trudelle memaparkan data bahwa mayoritas mutlak warga atau sekitar tiga perempat dari total responden di Arab Saudi sebenarnya mendukung penuh penguatan hubungan strategis dengan Amerika Serikat. Hal ini dinilai cukup unik mengingat jajak pendapat digelar setelah militer Amerika Serikat membombardir Iran secara sepihak pada 28 Februari lalu. Agresi Iran yang menyasar beberapa wilayah sekutu justru kian memperkuat keinginan warga lokal untuk berlindung di bawah payung keamanan Pentagon.

Namun situasi berbalik drastis ketika masyarakat disodorkan pertanyaan mengenai opsi peluncuran serangan militer langsung ke jantung pertahanan lawan. Hasil jajak pendapat membuktikan sebanyak 49% responden menyatakan setuju jika militer Arab Saudi merudal situs-situs peluncuran rudal milik Iran sementara 51% sisanya secara tegas menolak opsi perang terbuka tersebut.

Perbedaan Pandangan Berdasarkan Usia dan Gender

Fakta lain dari riset menunjukkan bahwa dukungan untuk aksi militer agresif paling tinggi berada di kelompok usia paruh baya yakni mencapai 61%. Angka dukungan ini justru merosot di kalangan generasi muda Arab Saudi yang hanya menyentuh persentase 45% saja.

Perbedaan sudut pandang yang kontras juga terjadi berdasarkan faktor gender di masyarakat. Sebanyak 54% pria Arab Saudi tercatat sangat mendukung aksi gempuran militer ke Iran sementara kelompok wanita menunjukkan sikap yang jauh lebih menahan diri dengan angka dukungan hanya sebesar 43%.

"Pandangan pada kedua pertanyaan tersebut saling memperkuat; artinya, responden yang memandang positif aliansi AS lebih cenderung mendukung serangan terhadap Iran, dan begitu pula sebaliknya," jelas Kubinec dan Montambault-Trudelle menjabarkan keterkaitan psikologis para responden dalam survei tersebut.

Meskipun demikian, ketidakpastian situasi perang belum sepenuhnya membuat masyarakat Arab Saudi terpolarisasi secara ekstrem menjadi kelompok elang yang haus perang ataupun kelompok merpati yang damai. Hanya 15% responden yang sangat mendukung aksi militer dan hanya 16% yang sangat menolaknya secara radikal.

Sebagian besar warga dilaporkan berada di posisi tengah yang mencerminkan sikap ambivalen atau keraguan mendalam alih-alih keyakinan ideologis yang keras terhadap konflik bersenjata tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa para responden di Arab Saudi tampaknya mampu membedakan antara komitmen keamanan strategis dengan Amerika Serikat dan dukungan untuk aksi militer yang lebih agresif.

Manuver Rahasia MBS di Tengah Tekanan Publik

Dinamika hasil polling ini dinilai sangat membantu dunia internasional untuk membaca arah manuver rahasia yang sedang dijalankan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman atau MBS. Pada bulan Mei lalu, dinas angkatan udara Arab Saudi dilaporkan sempat meluncurkan beberapa serangan udara rahasia di atas tanah Iran yang menandai perubahan besar dari doktrin pertahanan tradisional mereka.

Riyadh terpaksa mengambil tindakan sendiri setelah keputusan sepihak Washington yang menyerang Iran tanpa konsultasi membuat Arab Saudi harus menanggung imbas berupa hantaman rudal balasan Iran di fasilitas minyak mereka. Di sisi lain, laporan media menyebutkan bahwa Pangeran Mohammed secara pribadi mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk terus mempertahankan tekanan militer penuh terhadap Teheran yang disebutnya sebagai sebuah kesempatan bersejarah.

"Survei kami menunjukkan bahwa para pemimpin Saudi beroperasi di bawah insentif yang saling bersaing: mempertahankan efek gentar yang kredibel dari aliansi AS dan memberikan sinyal ketegasan terhadap Teheran, sementara secara bersamaan membatasi biaya domestik dari perang terbuka," ungkap Kubinec dan Montambault-Trudelle mengenai taktik politik yang diambil oleh istana.

Kedua peneliti tersebut menilai rezim otoriter di dunia sekalipun pada dasarnya tetap sangat sensitif terhadap batasan politik domestik dan enggan menanggung biaya politik akibat menentang preferensi masyarakat luas. Dilihat dari sudut pandang ini, sikap resmi Arab Saudi yang di satu sidi berpura-pura menahan diri di depan publik namun di sisi lain memberikan dukungan operasi rahasia untuk melemahkan Iran dinilai sebagai strategi matang demi memuaskan target keamanan luar negeri tanpa perlu memicu gejolak protes dari rakyat di dalam negeri.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Breaking: Trump Batal Serang Iran Selasa Ini, 3 Raja 'Turun Gunung'


Most Popular
Features