MARKET DATA
Internasional

Omongan Trump Pepesan Kosong, Rezim Iran Tak Runtuh Digempur AS

tps,  CNBC Indonesia
11 June 2026 16:35
Foto kolase Presiden AS Donald Trump, PM Israel benjamin Netanyahu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan Pemimpin Teringgi Iran Mojtaba Khamenei. (REUTERS)
Foto: Foto kolase Presiden AS Donald Trump, PM Israel benjamin Netanyahu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, dan Pemimpin Teringgi Iran Mojtaba Khamenei. (REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengumuman mengejutkan datang dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kembali menyetujui gelombang serangan udara baru ke Iran. Ini terjadi usai AS menuduh Teheran menembak jatuh helikopter Apache di Selat Hormuz.

Selasa serangan dilakukan ke wilayah selatan Iran menimbulkan enam ledakan. Kamis (11/6/2026), serangan baru juga dilakukan AS dengan dalih "membela diri" dari kesewenang-wenangan serangan Iran.

Namun, di tengah eskalasi militer yang kian brutal dan guncangan ekonomi yang masif, prediksi mengenai runtuhnya rezim Teheran mulai surut dan memudar. Setidaknya ini terlihat dalam data Polymarket.

Mengutip Arab News, ada perubahan drastis terhadap persepsi publik global. Saat serangan gabungan AS-Israel pertama kali pecah pada 28 Februari lalu, sebanyak 55% petaruh memprediksi pemerintahan Iran akan tumbang.

Namun per pekan ini, angka pesimisme itu anjlok drastis. Di mana 99% petaruh kini justru bertaruh bahwa rezim Iran akan tetap bertahan kuat melampaui krisis.

Meskipun perang telah melewati hari ke-100 disertai aksi saling balas rudal dan blokade Selat Hormuz yang mencekik, otoritas Iran terbukti mampu meredam gejolak. Kemampuan bertahan ini dinilai tidak lepas dari kuatnya cengkeraman institusi keamanan domestik mereka.

"Tidak diragukan lagi bahwa eskalasi AS dan Israel telah menempatkan ekonomi dan keamanan Iran di bawah tekanan besar, tetapi kita tidak bisa menyatakan ini sebagai ancaman eksistensial bagi kelangsungan hidup rezim," papar Direktur Senior di Soufan Center, Caroline Rose.

Rose menambahkan bahwa sejarah telah membuktikan ketahanan mendalam dari rezim Teheran. Mereka berulang kali lolos dari lubang jarum meskipun dihantam sanksi internasional yang melumpuhkan, krisis air kronis, hambatan infrastruktur, hingga gejolak sosial di dalam negeri.

Intelijen AS Terkejut, Militer Iran Pulih Sangat Cepat

Kondisi ketahanan Iran di lapangan juga diperkuat oleh laporan intelijen Amerika Serikat yang bocor ke media The New York Times dan Washington Post. Data internal Pentagon tersebut mengungkapkan fakta yang mengejutkan sekaligus kontradiktif dengan klaim retorika Trump yang menyebut militer Iran telah hancur total.

Hingga pertengahan Mei, intelijen AS mendeteksi bahwa Iran secara luar biasa telah berhasil memperbaiki 30 dari 33 situs rudal mereka yang menghadap langsung ke Selat Hormuz. Selain itu, Negeri Para Mullah tersebut dilaporkan masih menguasai sekitar 70% peluncur rudal bergerak (mobile launchers) di seluruh negeri dan mempertahankan hampir 70% dari total pasokan rudal pra-perang mereka.

"Bacaan saya terhadap situasi saat ini adalah bahwa Iran berada dalam posisi yang jauh lebih kuat daripada AS, dan saya pikir itu sangat jelas dari perilaku mereka," ungkap Andrew Gawthorpe, dosen sejarah dan hubungan internasional di Leiden University.

Gawthorpe menilai Iran jauh lebih berani mengambil risiko tinggi untuk melakukan eskalasi militer demi menekan Washington. Di sisi lain, posisi domestik Trump dinilai kian sulit menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections) akibat hantaman inflasi dan lonjakan harga minyak mentah dunia, sehingga membuat Trump cenderung terburu-buru ingin menyelesaikan konflik.

Tiga Skenario Akhir Perang: Bukan Lagi Soal Bertahan Hidup

Direktur Program MENA di Chatham House, Sanam Vakil menegaskan bahwa fokus utama elite politik di Teheran saat ini sudah bergeser. Pertanyaannya bukan lagi mampukah mereka bertahan hidup, melainkan bagaimana menerjemahkan ketahanan militer ini menjadi sebuah keuntungan di meja perundingan dengan AS.

Menurut analisis Vakil, akhir dari konfrontasi besar ini kemungkinan akan mengerucut pada salah satu dari tiga skenario utama. Skenario pertama adalah penandatanganan nota kesepahaman (MOU) awal yang lays the groundwork atau meletakkan dasar bagi proses negosiasi jangka panjang yang lebih komprehensif mengenai peran regional Iran dan program nuklirnya.

Skenario kedua adalah tercapainya MOU awal namun negosiasi lanjutan tersebut tidak pernah diselesaikan. Sehingga, membuat kawasan terjebak dalam proses tanpa ujung yang mirip dengan situasi di Gaza.

"Hasil ketiga adalah kita hanya bertahan di tempat kita berada sekarang-tidak ada perang, tidak ada perdamaian, dan situasi ini terus berjalan begitu saja," jelas Sanam Vakil dalam pemaparannya mengenai opsi skenario terakhir yang berpotensi terjadi di Timur Tengah.

Mantan Duta Besar Inggris untuk Arab Saudi, Sir John Jenkins mengingatkan bahwa meski Iran berada di atas angin dalam jangka pendek, modal politik mereka lewat penutupan Selat Hormuz memiliki batas waktu.

"Dalam jangka panjang, negara-negara Arab di Teluk (GCC) diproyeksikan akan membangun infrastruktur ekspor alternatif demi menghindari Selat Hormuz, yang pada akhirnya dapat mengisolasi ekonomi Iran lebih jauh dari rantai pasok global," tuturnya.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Iran Sindir Trump Soal Jatuhnya Heli AS Yang Picu Serangan Balasan


Most Popular
Features