Anggaran Dipangkas Rp488 Miliar, Kemenperin Bidik Investasi Rp930 T
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menghadapi tantangan besar pada 2027. Di tengah penurunan anggaran sebesar Rp488 miliar, kementerian tersebut tetap dibebani target pertumbuhan industri pengolahan hingga investasi ratusan triliun rupiah.
"Yang pertama ditetapkan pertumbuhan PDB industri pengolahan sebesar 7,75 persen. Rasio industri pengolahan nonmigas terhadap PDB ditargetkan 19,15 persen," kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam rapat kerja bersama Komisi VII DPR RI.
Berdasarkan data BPS, sektor industri pengolahan tumbuh 5,04%. Selain pertumbuhan industri, pemerintah juga menargetkan investasi baru di sektor industri pengolahan nonmigas, nilai yang disasar pun tidak sedikit pada 2027 mendatang.
"Juga ditargetkan nilai investasi sektor industri pengolahan nonmigas sebesar Rp930,60 triliun," ujarnya.
Tidak ketinggalan, peningkatan ekspor manufaktur juga menjadi target lainnya. Saat ini, rasio ekspor manufaktur Indonesia berada di angka 20%, dengan porsi penyerapan pasar domestik yang mendominasi sebesar 80%.
"Kami ingin meningkatkan rasio terhadap output manufaktur yang selama ini rata-rata 20 persen, kami ingin meningkatkan ekspor atau rasio ekspor produk manufaktur menuju 30 persen tanpa mengurangi pasar domestik diisi oleh produk-produk dalam negeri," kata Agus.
Di saat target terus meningkat, kondisi anggaran Kementerian Perindustrian justru bergerak ke arah sebaliknya. Dalam beberapa tahun terakhir, pagu anggaran kementerian mengalami tren penurunan. Pada 2023 Kemenperin masih memiliki anggaran sebesar Rp4,53 triliun.
Namun jumlah tersebut terus menyusut hingga menjadi sekitar Rp2,5 triliun pada 2026. sebagian besar anggaran yang tersedia justru terserap untuk kebutuhan operasional dasar kementerian, mulai dari belanja pegawai hingga operasional perkantoran.
"Pada tahun 2027 kami memperoleh pagu indikatif sebesar Rp2,01 triliun atau turun sebesar Rp488,16 miliar setara 19,5 persen dibandingkan pagu awal tahun 2026," kata Agus.
source on Google [Gambas:Video CNBC]