Ini Fenomena Baru di Warkop, Kebiasaan Nongkrong Warga RI Berubah
Jakarta, CNBC Indonesia - Tekanan ekonomi mulai dirasakan pelaku usaha kecil di sektor makanan dan minuman. Salah satunya terlihat dari kondisi sejumlah warung kopi yang mengaku mengalami penurunan omzet akibat pelanggan semakin irit.
Fenomena tersebut terlihat dari perubahan pola konsumsi pelanggan yang datang ke warung. Pedagang mengaku banyak pembeli yang kini memilih menu paling murah demi menghemat pengeluaran harian.
"Naikin dikit saja warung sepi. Jadi sekarang pendapatan tipis banget," kata pemilik warung kopi yang telah berjualan selama 25 tahun di Ciputat, Iis Tangerang Selatan kepada CNBC Indonesia, Selasa (9/6/2026).
Kenaikan harga bahan baku sebenarnya sudah tidak bisa dihindari. Namun setiap kali harga jual dinaikkan, jumlah pembeli justru langsung berkurang sehingga pedagang memilih mempertahankan harga dengan margin keuntungan yang semakin tipis.
"Nih gorengan misalnya sekarang Rp5.000 dapat 3, di Rp2.000-in dapat satu, tetap aja ada yang protes. Padahal tipis banget buat Ibu sebenarnya, tapi mau gimana lagi kita daripada enggak muter," ujarnya.
Kondisi tersebut terjadi ketika biaya operasional usaha terus meningkat. Mulai dari bahan makanan, bumbu dapur, hingga kebutuhan pendukung seperti plastik mengalami kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir.
"Empat bulanan lah, dari awal tahun. Kerasa Ibu aja yang jualan. Padahal harga mah naik, pembelanjaan ke pasar itu kan naik ya, dari bumbu, plastik saja berapa persen, hampir 100%," ungkapnya.
Di sisi lain, pelanggan yang datang ke warung juga dinilai sedang mengalami tekanan ekonomi. Mayoritas pelanggan berasal dari kalangan pekerja informal seperti pengemudi ojek yang penghasilannya ikut tertekan.
Iis mengaku memahami kondisi konsumennya sehingga memilih tidak terlalu agresif menaikkan harga. Baginya, menjaga pelanggan tetap datang lebih penting dibanding mengambil keuntungan besar dalam kondisi saat ini.
"Yang beli ke sini kan abang-abang ojek. Mau gimana lagi. Ibu juga ngerti dia juga penghasilannya mungkin lagi sepi atau gimana," katanya.
Perubahan tersebut terlihat langsung dari omzet harian yang diperoleh. Jika sebelumnya pendapatan harian bisa mencapai sekitar Rp1 juta, kini jumlahnya turun cukup dalam.
"Kalau dulu mah lumayan dah. Iya bisa, sekarang mah setengahnya, Rp500 ribu paling, kadang Rp300 ribu, itu kan yang didapat (omzet), paling yang bisa dipakai makan cuma Rp100 ribu, sisanya diputer lagi beli bahan," ujar Iis.
Sejumlah pedagang lain juga mengaku pelanggan semakin irit membelanjakan uangnya. Masyarakat disebut lebih fokus memenuhi kebutuhan pokok dibanding pengeluaran tambahan.
Di warung kopi, perubahan itu terlihat dari pilihan menu yang dibeli pelanggan. Beberapa pelanggan tetap datang, namun pengeluaran mereka menjadi lebih kecil dibanding sebelumnya.
"Ada yang makan, ada yang beli es doang," kata Doni, pengelola warung kopi 24 jam.
Bergeser ke Jakarta, Iqbal karyawan Warkop di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan mengaku omzet yang didapat turun. Jumlah pengunjung yang mulai berkurang dalam beberapa waktu terakhir.
Bahkan, menu-menu premium seperti omelette dan bubur kacang saat ini sulit terjual maksimal. Terlebih, menu omelette sendiri dibanderol seharga Rp 15.000 di tengah kenaikan harga telur ayam. Di sisi lain, satu porsi bubur kacang yang sebelumnya dibanderol Rp 8.000 per porsi kini naik menjadi Rp 10.000 per porsi lantaran harga kacang hijau naik di pasar.
Namun beruntungnya, penjualan mi instan dan kopi di Warkop tempat Iqbal bekerja masih relatif stabil. "Warkop ini paling rame abis salat Maghrib sekitar jam 6 lewat," ungkap dia kepada CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Penjualan mie instan di warkop kawasan Radio Dalam, Jakarta, Rabu (10/8/2022). (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki) Foto: Penjualan mi instan di warkop kawasan Radio Dalam, Jakarta, Rabu (10/8/2022). |
Iqbal berharap harga-harga bahan baku untuk jualannya di Warkop bisa kembali stabil. Dengan begitu, Warkop tersebut bisa kembali menjual menu makanan atau minuman dengan harga yang terjangkau, sehingga menarik bagi pelanggan.
Pelaku usaha Warkop lainnya, Yuyun mengaku penjualan di tempatnya mengalami penurunan yang cukup tajam. Bahkan, ia juga sempat berdiskusi dengan pelaku usaha Warkop lainnya dan ditemukan fakta bahwa omzet Warkop ambruk dalam beberapa waktu terakhir.
Melihat penghasilannya berkurang, Yuyun pun menyadari ada penurunan daya beli di masyarakat. Buktinya, ia kerap kali menemui pelanggan yang hanya ingin masak mi instan alias bawa mi instan dari rumah.
Ia juga menilai, saat ini pelanggannya semakin irit saat jajan ke Warkop. Biasanya, orang-orang membeli kopi lengkap dengan mi instan dan telur, tetapi sekarang mereka hanya membeli mi instan saja atau kopi saja.
"Paling beli es kopi doang, yang beli Indomie juga udah mulai jarang apalagi siang-siang begini," terang dia.
Selain pelemahan daya beli, Yuyun menyadari harga telur di pasar meningkat. Hal ini menimbulkan tekanan tersendiri bagi operasionalnya. Namun, ia belum menyesuaikan harga jual demi mempertahankan eksistensi Warkopnya.
Berikutnya, seorang karyawan Warkop bernama Asep menyoroti adanya perubahan perilaku konsumsi sebagian pelanggan memasuki akhir bulan. Biasanya, pada awal bulan atau saat gajian baru tiba, pelanggan memesan menu sesuai selera seperti nasi goreng, magelangan, hingga mi instan telur. Sebaliknya, saat memasuki akhir bulan, kebanyakan dari mereka hanya membeli menu nasi telur seharga Rp 10.000 per porsi.
"Kebanyakan kalau beli Indomie single (satu bungkus) enggak pakai telur, tapi tambah nasi jadi Rp 13.000," ungkap Asep.
Bahkan, saat ini sebagian pelanggan Warkop juga sudah mulai jarang memesan menu mi instan dengan telur. Mereka lebih banyak pesan mi instan ditambah nasi putih. Walau demikian, Asep memandang, penjualan menu kopi masih stabil hingga saat ini lantaran masyarakat belum bisa lepas dari kebiasaan mengkonsumsi kopi.
"Biasanya ramenya abis maghrib sama tadi jam 12 pas makan siang," tandas dia
(wur/wur) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
