MARKET DATA
Internasional

'Korban Baru' Perang Iran Menjerit! Bensin Hampir Rp 38 Ribu Per Liter

tps,  CNBC Indonesia
10 June 2026 07:10
Seorang pria mengisi jeriken dengan bahan bakar di sebuah pompa bensin karena pasokan bensin telah terganggu oleh pemogokan selama berminggu-minggu di Nice, Prancis, Senin (17/9/2022). Para pekerja di sektor-sektor seperti transportasi, energi, pendi
Foto: Pom Bensin di Prancis. (REUTERS/Eric Gaillard)

Jakarta, CNBC Indonesia - Para pengemudi di Eropa telah memotong konsumsi bahan bakar minyak secara drastis. Perang Iran dan lonjakan harga minyak dunia kini memaksa warga untuk mengencangkan ikat pinggang di stasiun pengisian bahan bakar umum atau SPBU pada Selasa, (09/06/2026).

Mengutip Russia Today, volume penjualan bensin mobil di Zona Euro merosot 3,5% secara tahunan pada bulan April. Penurunan tersebut menjadi yang paling curam sejak Oktober 2023 menurut laporan badan statistik Eurostat. Enam negara ekonomi Eropa bahkan mencatat penurunan penjualan bahan bakar hingga dua digit angka. Beberapa negara yang mengalami penurunan tajam tersebut di antaranya adalah Jerman dan Norwegia serta Austria.

Hingga awal Juni harga rata-rata bensin di Uni Eropa bertengger di angka 1,8 euro per liter atau setara US$ 2,1 (Rp 37.800). Angka tersebut melonjak jauh dari harga sebelum perang Iran meletus pada akhir Februari yang hanya sekitar 1,5 euro per liter.

Sebanyak 12 negara Uni Eropa melihat harga diesel melonjak lebih dari sepertiga pada bulan April dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan rata-rata harga diesel di seluruh blok mencapai angka 33,7%.

Perang Iran telah menyebabkan penutupan de facto pada Selat Hormuz. Konflik ini juga memicu kerusakan pada fasilitas minyak utama di wilayah Teluk. Kondisi tersebut membuat harga minyak mentah acuan Brent mengapung di kisaran US$ 94 (Rp 1.692.000) per barel. Meskipun demikian angka ini sebenarnya jauh lebih rendah dibandingkan harga puncak perang yang sempat melebihi US$ 120 (Rp 2.160.000).

Efek domino dari perang terus membayangi perekonomian Uni Eropa meskipun gencatan senjata rapuh telah terjadi antara Amerika Serikat dan Iran. Pada akhir Maret para pejabat Uni Eropa mengungkapkan bahwa tagihan impor bahan bakar fosil blok tersebut melonjak sebesar 14 miliar euro. Selain itu inflasi Zona Euro secara keseluruhan mencapai 3,2% pada bulan Mei. Angka ini naik dari posisi 3% pada bulan April.

Inggris juga ikut menderita akibat dampak perang ini karena harga bensin memuncak pada angka 1,59 poundsterling atau setara US$ 1,98 (Rp 35.640). Negara tersebut juga melihat kenaikan lebih dari 20% pada kasus kejahatan isi bensin lalu kabur di SPBU. Maraknya aksi kriminalitas jenis baru ini disampaikan secara resmi oleh pihak industri keamanan.

"Inggris telah mengalami peningkatan lebih dari 20% dalam kejahatan isi bensin dan melarikan diri di stasiun pengisian bahan bakar," tegas perusahaan keamanan Forecourt Eye mengenai maraknya aksi kriminalitas tersebut.

Sementara itu untuk inflasi tahunan Inggris melalui Indeks Harga Konsumen naik menjadi 3,3% pada bulan Maret. Angka inflasi ini sempat mendingin sebentar ke posisi 2,8% pada bulan April. Namun para analis memprediksi bahwa pelonggaran ekonomi tersebut hanya akan berumur pendek.

Para pengemudi di Amerika Serikat (AS) juga mengalami nasib yang tidak lebih baik. Harga gas rata-rata nasional mereka mencapai US$ 4,16 (Rp 74.880) per galon per tanggal 8 Juni. Lembaga analisis ekonomi dunia turut memberikan data kerugian masif yang harus ditanggung oleh masyarakat akibat konflik berkepanjangan ini.

"Rata-rata rumah tangga AS telah menghabiskan hampir US$ 450 (Rp 8.100.000) lebih banyak untuk biaya energi sejak konflik dimulai," papar lembaga Moody's Analytics mengenai beban pengeluaran warga.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Suram! Efek Ngeri Perang Iran Hantam Eropa, Sinyal 'Kiamat' Ekonomi


Most Popular
Features