Terima Kasih Xi Jinping, Ternyata Minyak Tak Meledak karena China
Jakarta, CNBC Indonesia -Â China ternyata membantu meredam harga minyak global di bawah US$100 per barel selama perang Amerika Serikat (AS)-Iran berkecambuk di Timur Tengah. Pengurangan impor minyak mentah yang dilakukan Beijing dengan cepat membantu menghentikan kenaikan "menggila" harga minyak.
Perlu diketahui, konflik AS-Iran sudah memasuki hari ke-100. Namun bayang-bayang harga mencapai US$ 200 per barel terus menghantui.
Ya, ahli strategi pasar mengatakan China memang bertindak sebagai "katup tekan" utama di pasar energi. Langkahnya yang memangkas impor minyak mentah dari 11,7 juta barel per hari pada bulan Februari menjadi kurang dari 9 juta barel per hari pada akhir Mei membantu meredakan guncangan pasokan di Selat Hormuz.
Pengurangan produksi minyak mentah China mewakili sekitar 74% dari penurunan impor minyak mentah global. Hal itu, membuat analis J.P. Morgan, membantu harga tetap "sangat tenang" empat bulan setelah konflik dimulai.
Dalam catatannya, Societe Generale (SocGen) menulis bahwa penurunan pasokan minyak mentah global sebesar 14%, yang sebagian besar disebabkan oleh penutupan Selat Hormuz, telah mendorong harga sekitar 30% lebih tinggi. Sebaliknya, embargo minyak OPEC tahun 1973 memangkas sekitar 7% pasokan, tetapi menyebabkan harga melonjak sekitar 134%.
Analis SocGen mengatakan beberapa faktor termasuk pelepasan persediaan strategis, sinyal yang meyakinkan dari AS, dan peningkatan produksi dari negara-negara termasuk Brasil dan Venezuela, telah mengimbangi tekanan pasokan Hormuz dan membantu menghindari terulangnya krisis tahun 1973. Namun memang pengurangan impor minyak China yang "sangat besar", hampir 3 juta barel per hari serta penurunan aktivitas penyulingan, menjadi kekuatan penyeimbang penting di pasar.
"Ini merupakan salah satu penyeimbang terbesar terhadap guncangan tersebut, kedua setelah pengalihan aliran minyak Saudi dan lebih besar daripada pelepasan SPR terkoordinasi dari AS, Eropa, dan Jepang," kata analis SocGen, kepala riset FIC dan komoditas, dipimpin oleh Mike Haigh, dibuat CNBC International.
Kepala makro dan strategi pasar negara berkembang di GlobalData TS Lombard, Rory Green, mengatakan elektrifikasi produksi dan transportasi energi skala besar dan cepat di China sejak 2022 telah membantu menggeser keseimbangan energi menuju "surplus yang substansial". Dalam sebuah catatan yang diterbitkan pada akhir Mei, Green mengatakan harga minyak mentah belum melebihi US$200 per barel, "bertentangan dengan prediksi banyak analis energi pada awal konflik Iran", karena peran China dalam meredam harga.
Sebelumnya, Senin, harga minyak mentah Brent melonjak 4,9% menjadi US$97,67 per barel setelah Israel dan Iran saling melancarkan serangan rudal, pertama kalinya kedua negara saling menargetkan secara langsung sejak gencatan senjata April. Eskalasi kembali ini juga mendorong harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate AS naik, 4,9% menjadi US$94,93.
Harga Minyak ke Depan?
Sementara itu, sejumlah analis memperkirakan pembukaan baru Selat Hormuz pada Juli. Analis J.P. Morgan mengatakan skenario dasar mereka adalah mempertahankan harga minyak mentah Brent di sekitar US$100 untuk sisa tahun 2026.
Mereka memperkirakan bahwa penutupan yang lebih lama akan menambah sekitar US$5 pada kuartal ketiga (Q3) 2026 ini. Kenaikan akan terjadi US$15 pada kuartal keempat (Q4) karena stok menipis lebih cepat.
Walau begitu, analis Fitch mengatakan pembukaan kembali pada akhir Juli akan menyebabkan harga Brent "turun tajam". Bahkan, mencapai rata-rata US$70 per barel dari September.
Fitch menambahkan bahwa lonjakan saat ini mencerminkan "guncangan pasokan logistik sementara". Jadi ini bukan keadaan "kehilangan kapasitas produksi yang berkelanjutan".
Namun, Sochen memberi peringatan. Bahwa pasar akhirnya membutuhkan "harga minyak yang lebih tinggi ke depannya" karena persediaan global menipis dan cadangan strategis perlu dibangun kembali.
"Secara keseluruhan, harga keseimbangan jangka panjang untuk minyak kemungkinan lebih tinggi daripada yang tersirat oleh kurva forward saat ini," tambah analis komoditas itu.
(tps/sef) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]