MARKET DATA
Internasional

Perang Arab Minggir! China-Korut Bersatu, Xi Jinping Bertemu Kim Jong

tps,  CNBC Indonesia
08 June 2026 13:12
Seorang wanita berjalan melewati layar televisi yang menampilkan siaran berita dengan cuplikan arsip pertemuan tahun 2019 antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, di stasiun kereta api di Seoul, Korea Selatan, Senin (
Foto: AFP/JUNG YEON-JE

Jakarta, CNBC Indonesia -  Presiden China Xi Jinping bertemu dengan Presiden Korea Utara (Korut) Kim Jong Un, Senin (8/6/2026) di Pyongyang. Pesawat Xi dilaporkan resmi mendarat, di mana dirinya dan istri Peng Liyuan, disambut Kim dan istrinya, Ri Sol-ju.

Dilaporkan bagaimana Xi memuji "persahabatan yang tak tergoyahkan" dengan Pyongyang saat tiba di Korut. Ini menjadi perjalanan luar negeri pertamanya tahun ini, setelah menjadi tuan rumah pertemuan puncak berturut-turut di Beijing.

Xinhua melaporkan bagaimana kedua pemimpin berjabat tangan. Anak-anak memberikan bunga kepada Xi dan Peng.

Spanduk bertuliskan "Kami menyambut hangat Kamerad Xi Jinping" dibentangkan. Ada lagi spanduk lain yang memuji "persahabatan tak tergoyahkan" kedua negara di bawah bendera China dan Korut.

"Xi melakukan perjalanan ini setelah menjamu Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara terpisah di Beijing dan ketika pembicaraan nuklir Korut dengan Washington tetap buntu," muat AFP.

"Gedung Putih mengatakan bulan lalu bahwa Xi dan Trump mengkonfirmasi tujuan bersama mereka untuk denuklirisasi Korut selama pertemuan puncak mereka di Beijing," tambahnya.

"Namun, saudara perempuan pemimpin Kim Jong Un yang berpengaruh mengatakan pada malam kedatangan Xi bahwa program senjata nuklir Korea Utara adalah garis tanpa mundur," lapor laman tersebut.

Sementara itu, Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung, mengatakan pada hari Senin bahwa Seoul tidak boleh menyerah pada denuklirisasi Korut. Ia menambahkan bahwa "Korut masih memproduksi material nuklir bahkan pada saat ini".

"Beijing mungkin telah menerima Korut sebagai negara nuklir," kata seorang profesor diplomasi di Universitas DePaul, Minseon Ku.

"Tetapi Xi mungkin akan mengatakan kepada Kim bahwa China menginginkan stabilitas lebih dari apa pun," tambahnya.

"China selalu memprioritaskan stabilitas dan saat ini harus mengelola hubungan dan perbedaan dengan AS", kata Ku.

Sementara itu, pengamat lain, sarjana tamu di Pusat Asia Universitas Harvard, Seong-Hyon Lee, mengatakan Beijing sedang beralih arah. Kini China sedang "menjamin ketahanan rezim" daripada berusaha memaksa Korut untuk melakukan denuklirisasi.

"Strategi regional China yang lebih luas mendapat manfaat dari negara penyangga yang stabil, bersenjata lengkap, dan selaras yang menyerap kapasitas militer AS dan sekutu," katanya.

Korut telah berulang kali menyatakan dirinya sebagai negara nuklir yang "tidak dapat diubah" sejak pertemuan puncak Kim dan Trump pada tahun 2019 gagal karena perbedaan cakupan denuklirisasi dan pencabutan sanksi. Kim juga semakin berani setelah perang di Ukraina, mengamankan dukungan penting dari Moskow setelah mengirim pasukan untuk bertempur bersama pasukan Rusia.

Beberapa analis mengatakan bahwa pertemuan puncak tersebut bisa jadi cara Xi untuk melawan pengaruh Rusia yang semakin besar atas Korut. Namun secara keseluruhan, Moskow bukanlah kekuatan besar seperti China.

Xi terakhir kali bertemu Kim pada bulan September. Kala itu, ia mengundang pemimpin Korea Utara dan Putin ke parade militer di Beijing untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.

China-Korut dan Korsel-Jepang

Sebagian analis lain mengatakan Korut juga merupakan satu-satunya negara yang memiliki aliansi militer resmi dan mengikat dengan China. Karenanya Korut dapat berfungsi sebagai penyeimbang yang berguna bagi mitra AS di kawasan tersebut, termasuk Korsel dan Jepang.

Perlu diketahui, hubungan China-Jepang yang telah lama dingin memburuk sejak Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi, seorang tokoh keamanan garis keras, tahun lalu mengisyaratkan bahwa Tokyo mungkin akan campur tangan secara militer dalam upaya China untuk merebut Taiwan. Taiwan sendiri mendeklarasikan diri sebagai negara merdeka meski China menentangnya.

"Seiring meningkatnya kedudukan internasional Tiongkok, Beijing kemungkinan besar berupaya untuk lebih aktif menarik Pyongyang ke dalam orbit diplomatiknya," kata seorang ahli Korut di Universitas Kyungnam, Lim Eul-chul.

(tps/sef) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Alasan Xi Jinping Temui Kim Jong Un di Korut, Alarm Bahaya Berbunyi


Most Popular
Features