MARKET DATA
Internasional

Awas Perang Besar! Iran Tembak Rudal ke Israel, Trump Warning Teheran

tps,  CNBC Indonesia
08 June 2026 07:10
Sebuah proyektil yang diluncurkan dari Iran menuju ke arah Israel, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, seperti yang terlihat dari Ramallah, di Tepi Barat yang diduduki Israel, 6 April 2026. (REUTERS/ Mohammed Torokman)
Foto: Sebuah proyektil yang diluncurkan dari Iran menuju ke arah Israel, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, seperti yang terlihat dari Ramallah, di Tepi Barat yang diduduki Israel, 6 April 2026. (REUTERS/Mohamad Torokman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan telah menembakkan rentetan rudal ke wilayah Israel pada Minggu, (07/06/2026). Laporan mengenai serangan rudal dari Iran ini muncul setelah Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengeluarkan pernyataan keras yang menuduh pihak sekutu telah merusak komitmen damai yang sempat disepakati kedua belah pihak.

Mengutip CNBC International, Ghalibaf menyatakan melalui sebuah unggahan di platform media sosial X bahwa tindakan blokade angkatan laut oleh Amerika Serikat (AS) serta adanya pelanggaran perjanjian terkait Lebanon menjadi alasan gugurnya gencatan senjata yang telah disepakati. Ketua Parlemen Iran iitu juga memberikan peringatan mengenai status aset militer asing di kawasan Timur Tengah akibat aktivitas militer yang terjadi di Lebanon serta blokade laut yang terus dilancarkan oleh armada AS.

"Aktivitas militer di Lebanon dan blokade AS yang terus berlanjut membuat pangkalan dan aset Amerika serta rezim di kawasan tersebut menjadi sasaran yang sah," sebut Ghalibaf menurut terjemahan unggahannya di X.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran memberikan pernyataan resmi kepada The New York Times mengenai sifat dari kesepakatan damai yang selama ini berjalan. Lembaga militer itu mengatakan serangan balasan ini masih dalam cakupan kesepakatan.

"Gencatan senjata tersebut bersyarat di semua lini," tulis pihak IRGC dalam pernyataan resminya.

Pasukan elite Iran tersebut juga menegaskan bahwa serangan yang mereka luncurkan pada hari Minggu malam merupakan bentuk peringatan awal, dan mereka tidak akan ragu untuk melipatgandakan daya hancur serangan jika pihak musuh kembali melakukan agresi.

"Operasi malam ini adalah sebuah peringatan, dan jika agresi terulang kembali, respons yang diberikan akan lebih luas," lanjut pernyataan dari IRGC.

Warning Trump

Pihak CNBC belum dapat mengonfirmasi secara mandiri mengenai peluncuran rudal-rudal tersebut, namun The Associated Press melaporkan pada hari Minggu bahwa Israel menyatakan Iran telah meluncurkan rudal ke arah mereka, dan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) langsung mengoperasikan sistem pertahanan udara setelah mengidentifikasi adanya pergerakan rudal.

Menanggapi situasi genting tersebut, Presiden AS Donald Trump memberikan komentarnya kepada Fox News mengenai dampak buruk dari aksi penembakan rudal yang dilakukan oleh Teheran.

"Tentu saja tidak akan membantu negosiasi," ujar Trump pada Minggu.

Seorang pejabat Gedung Putih yang meminta identitasnya dirahasiakan agar dapat berbicara secara terbuka menyatakan kepada MS NOW bahwa Trump telah meremehkan keinginan serta kesiapan Iran untuk memulai kembali konflik bersenjata di kawasan tersebut.

"Negosiasi baru-baru ini dengan Iran dalam banyak hal telah menunjukkan salah perhitungan yang mendasar dari Trump dan Gedung Putih," kata pejabat tersebut.

Pejabat itu juga menambahkan bahwa perilaku tidak menentu dari Iran telah menempatkan presiden AS dalam situasi yang sangat menantang tanpa adanya jalan keluar instan dalam waktu dekat.

Kendati demikian, dalam panggilan telepon berikutnya dengan Financial Times, Trump menyatakan dengan percaya diri bahwa Netanyahu tidak akan memiliki pilihan lain selain menerima kesepakatan yang dinegosiasikan oleh AS dengan Iran karena dirinya yang memegang kendali penuh atas keputusan tersebut.

"Tidak akan memiliki pilihan," tutur Trump yang menegaskan bahwa sang presiden AS adalah pihak yang menentukan keputusan akhir.

Gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran ini sebenarnya telah berlangsung sejak awal April lalu. Namun pertempuran antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran di Lebanon telah mempersulit perdamaian sementara ini di saat para negosiator berjuang keras untuk menelurkan kesepakatan guna mengakhiri konflik.

Iran sendiri menuntut dihentikannya permusuhan di Lebanon dan mendesak penyetopan blokade AS terhadap pelabuhan dan kapal-kapalnya. AS di lain sisi menuntut agar Iran menyerahkan seluruh bahan nuklirnya dan menyetujui perjanjian untuk tidak akan pernah membuat senjata nuklir.

Pemerintahan Trump dilaporkan sedang mempertimbangkan opsi untuk mengalihkan aset-aset Iran yang dibekukan kepada negara-negara Teluk yang menjadi sekutu AS guna membayar biaya pembangunan kembali atas kerusakan yang disebabkan oleh serangan-serangan Teheran.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi langsung bereaksi keras terhadap laporan rencana AS tersebut. Ia menyatakan bahwa pemerintah regional sama sekali tidak berada dalam posisi yang tepat untuk menuntut ganti rugi.

"Aset Iran bukanlah rampasan perang bagi Washington maupun dana pembayaran untuk sekutunya," tegas Gharibabadi.

(tps/tps) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Negara Arab Ini Diam-Diam Serang Iran, Hantam Situs Militer


Most Popular
Features