MARKET DATA
Internasional

Trump Tiba-Tiba Incar Harta Iran, Negosiasi Damai Terancam Buyar

luc,  CNBC Indonesia
07 June 2026 06:20
Presiden AS Donald Trump berbicara selama rapat kabinet di Ruang Kabinet di Gedung Putih, di Washington, D.C., AS, 27 Mei 2026. (REUTERS/Evan Vucci)
Foto: Presiden AS Donald Trump berbicara selama rapat kabinet di Ruang Kabinet di Gedung Putih, di Washington, D.C., AS, 27 Mei 2026. (REUTERS/Evan Vucci)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah baru yang berpotensi memperkeruh hubungan dengan Iran. Di tengah upaya mencari jalan keluar dari perang yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan, Washington disebut ingin mengalihkan aset-aset Iran untuk membiayai perbaikan kerusakan di negara-negara Teluk yang menjadi sasaran serangan Teheran.

Dilansir Reuters, Minggu (7/6/2026), rencana tersebut muncul hanya sehari setelah Iran melancarkan gelombang serangan terhadap Kuwait dan Bahrain, dua negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

Seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan bahwa pemerintah AS akan berupaya mengalihkan aset Iran kepada negara-negara Teluk untuk membiayai rekonstruksi dan perbaikan atas kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan Iran di masa mendatang.

Menurut sumber tersebut, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, juga telah memerintahkan tim khusus untuk menghitung biaya kerusakan yang telah ditimbulkan Iran terhadap sekutu-sekutu Washington di kawasan Teluk.

Sumber itu menambahkan bahwa pemerintah AS juga akan mempertimbangkan penggunaan aset Iran untuk membiayai perbaikan atas kerusakan yang telah terjadi sebelumnya.

Informasi tersebut muncul sehari setelah penasihat pemimpin tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan kepada CNN bahwa kesepakatan damai bergantung pada pencairan aset Iran senilai US$24 miliar yang saat ini dibekukan oleh AS.

Meski demikian, sumber tersebut tidak menjelaskan secara rinci jenis aset Iran yang sedang ditelaah oleh Departemen Keuangan AS. Bahasa yang digunakan dalam pembahasan kebijakan baru itu juga dinilai tidak terbatas hanya pada aset-aset yang selama ini dibekukan.

Perkembangan terbaru ini muncul ketika negosiasi damai antara Washington dan Teheran terlihat mengalami kebuntuan. Meski demikian, upaya diplomasi masih berlangsung.

Media semiresmi Iran, ISNA, melaporkan bahwa seorang menteri dari Pakistan tiba di Teheran pada Sabtu dengan membawa surat untuk Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Kunjungan tersebut terjadi saat Pakistan masih berperan sebagai mediator dalam perundingan antara kedua negara.

Pada perkembangan lain, militer Amerika Serikat pada Sabtu menyerang lokasi radar pantai Iran di Goruk dan Pulau Qeshm yang berada di kawasan Selat Hormuz.

Menurut Komando Pusat AS, serangan itu dilakukan setelah pasukan Amerika menembak jatuh drone-drone Iran yang dianggap mengancam lalu lintas pelayaran internasional. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain.

Militer Kuwait mengatakan pihaknya mencegat tujuh rudal balistik yang melintas di atas kawasan permukiman. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan material, namun tidak menimbulkan korban jiwa.

Di Bahrain, sirene peringatan berbunyi dan warga diminta segera mencari tempat perlindungan. Baik Kuwait maupun Bahrain mengecam serangan tersebut.

Iran kemudian menyatakan bahwa mereka memang telah menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS di kedua negara tersebut menggunakan rudal balistik. Namun militer AS mengatakan enam rudal berhasil dicegat, sementara satu rudal lainnya tidak mencapai sasaran.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Jreng... Zelensky Tiba-Tiba Kirim Surat ke Putin


Most Popular
Features